12/15/14

Menyelinap

Sepiku hilang
Rinduku bertambah
Hadir pula kesibukan baru
Bagi pikiran, juga bagi malamku

Egoku berkurang
Lelapku menunggu
Terjaga mendengar rengkuh napasmu
Bila hari berganti, akankah kau tetap begini?

Kau dan aku biarlah tetap disini

Cinta platonik yang apik
Bukan barang murahan
Bukan karena aku terlampau jual mahal
Bukan karena kamu kurang tampan
Ini untukmu, yang sempat-sempatnya menyelinap
Di sela-sela waktuku yang semakin sempit
Ke ruang kosong yang sudah mulai usang

Ini semua karena kamu dan untuk kamu


Jakarta, 15 Desember 2014

12/12/14

Mulut meleleh

Sebenarnya hari ini lagi ngga mood banget. Mungkin karena kurang tidur. Mungkin juga karena dibatalkannya janji oleh seseorang yang sudah terjadi dua kali. Atau yang paling akhir adalah karena kondisi rumah. Yap. padahal baru tadi malam ketemu sama Jane & Lifung utk nyegerin pikiran. Tapi, setelah dikit saja digesek, api ini langsung keluar. Dan. Seperti candaan tadi malam dengan Jane dan Lifung, kalau masuk neraka, mungkin yang dilelehin duluan dari anggota tubuh ini adalah mulut kami. Karena bener2 lidah ini berkuasa untuk menyakiti, baik orang lain dan diri kita sendiri. Sekian.

Natal Perkantas 2014 (Part 2)

Jakarta, 9 Desember 2014

Nah, triad pengajaran tersebut dikaitkan dengan eksposisi perikop ketekunan di kitab Ibrani tsb.

Setelah menceritakan mengenai latar belakangan penebusan dosa oleh imam besar dan Yesus Kristu, maka khotbah dilanjutkan ke ayat 22. Ketika sudah ditebus Yesus, kita tidak perlu perantara imam melainkan dapat bertemu langsung dengan Bapa melalui perantaraan darah Yesus dan Roh Kudus dengan "Iman". Ya Iman. Salah satu hal yang sangat berat untuk dimengerti karena memang rasio yang sangat terbatas ini tidak mungkin untuk membuktikannya. Makanya, sering iman disebut dengan "percaya baru melihat bukan melihat untuk percaya". Bu Ina, bilang kalo segala sesuatu yang tidak diawali dengan iman adalah dosa baik secara internal dan eksternal. Maksudnya? Nah emang nih pas diawal ini Bu Ina memaparkan beberapa pernyataan yang paradoks mengenai pernyataan iman dan perbuatan. Here what I can understand about being faithful internally and externally by Bu Ina..
Tentu dengan iman kita bisa masuk sorga. Tetapi, ditekankan bahwa butuh pembersihan dari dalam dan dari luar. Dua macam kekeristenan versi paling dasar adalah Kristen KTP dan Kristen sejati. Dimanaa bedanya? Masa gatau? :p Tentu bedanya adalah dimana Kristen KTP yg tidak menghasilkan buah dalam hidupnya. Tau dong kalo Yphanes sendiri mencatat bahwa orang yang tidak menghasilkan buah akan dibuang. DI.BU.ANG. (Yoh 15) Jadi sebenarnya adalah tidak mungkin bagi seorang Kristen KTP, yang imannya tidak berakar, akan bersama-sama dengan Kristen sejati untuk masuk sorga. Tapi iman bukan perkara masuk sorga atau neraka. Adalah iman yang sejati yang sekiranya memikirkan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik yang berasal dari Allah. (Mat 13:18-23 - Perumpaan Penabur). Lalu ditambah pula dengan pernyataan Yakobus bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati (Yak 2:26). Terakhir, mengapa iman penting disertai perbuatan adalah karena seseorang terlihat beriman ketika dia melakukannya, bukan mengatakannya as in pohon dikenal baik dari buahnya (Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid2-Ku, Yoh 15:8). Yah walaupun kita pun tau bahwa iman dan keselamatan itu semata2 adalah anugrah, pun Timotius berkata bahwa orang yang tidak berbuah pun dapat masuk sorga, tetapi pastinya menjadi orang Kristen tanpa menunjukkan karakter murid sama sejati seperti orang munafik bukan. Bu Ina menambahkan kalau perbuatan itu penting agar orang bisa melihat kemuliaan Allah lewat diri kita, agar Allah tidak dipermalukan. Seorang murid sejati terlihat bukan saat hari kemenangan saja, tapi ketika "berlatih".

Nah, itulah bagian pertama. Dimana kedatangan Yesus membawa peringatan untuk kita semakin beriman bertemu dengan Allah maha kudus. Namun seringkali iman kita naik dan turun. Kita sulit untuk melihat janji Allah makanya kita butuh Pengharapan.

2. Pengharapan
Pengharapan adalah sesuatu yang belum terjadi. Pengharapan menjaga iman kita. Seringkali kita gagal melayani, memuji Tuhan karena fokus kita adalah yang kasat mata. Kita merasa ngga dihargai, apa yang kita lakukan sia-sia karena semua itu ditujukan pada apa yang kelihatan. Manusia menekankan pada kehidupan saat ini sedangkan sebenarnya ada perspektif kekekalan. Paulus mengatakan apa yang kita alami di dunia ini, penderitaan, masalah, kesulitan ngga ada arrtinya dibandingkan kekekalan. Ada sebuah cerita yang dibawakan Bu Ina mengenai visi seorang buruh.

Di suatu tempat, buruh-buruh yang telah mengenal Yesus mengalami kesulitan pekerjaan. Kondisinya, jika ingin mendapatkan pekerjaan, buruh-buruh tersebut harus terikat di persatuan buruh. Saementara, buruh di perserikatan tsb melakukan yang tidak sesuai iman mereka. Maka datanglah buruh2 Kristen tsb kepada seorang Bapak gereja untuk menanyakan solusi. Bapak gereja itu malah balik bertanya, "Mengapa harus masuk perserikatan buruh?
Jawab mereka, "Agar bisa bekerja"
Bapak gereja kembali bertanya, "Mengapa harus bekerja?"
Dijawab pula, "Agar mendapatkan uang"
Ditanya pula, "Mengapa harus mendapatkan uang?"
kembali dijawab, "Agar bisa hidup."
Lalu ditanya, "Mengapa harus hidup?" DIlanjutkan dengan sebuah pernyataan, "Tuhan meminta kita bukan untuk hidup, tetapi untuk TAAT."

(Well, bagi saya pribadi mungkin itu agak ekstrim yah. Memang kita harus hidup toh untuk bisa mengerjakan keselamatan, Bagian ini masih bikin saya gak tenang sih... Anyway...)

Bu Ina melanjutkan pernyataan mengenai pengharapan tsb, beliau berkata bahwa tanpa pengharapan kita gabisa hidup. Makin ekstrim lagi beliau bertanya, pilih mana; memuliakan Tuhan atau hidup?

Itulah bagian kedua, yaitu kita butuh pengharapan sesuai dengan janji yang diberikan Allah yang setia.

3. Kasih
Berlanjut ke ayat 24&25 yang dikaitkan dengan Yoh 13:34-35.
Mengapa bagi Yesus yang paling besar adalah Kasih bukannya iman? Ternyata karena bagi Yesus hal yang paling NYATA untuk menunjukkan bahwa kita murid Yesus adalah dengan KASIH.

Pada Yoh 13:34, ada frasa 'perintah baru'. Perintah baru? Apanya yang baru? Oh ternyata artinya adalah saling mengasihi antar saudara seiman seperti kasih Yesus kepada kita yang begitu BESAR. Berbeda dengan mengasihi sesama yang artinya mengasihi diri sendiri. (Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri). Kesatuan didapat dalam kasih. Dengan saling mengasihi orang lain mengerti bahwa kita murid Yesus (dengan cara Ibr 10:24).
Kaarena itulah (seharusnya) tujuan hidup kita bukan untuk diselamatkan. Keselamatan adalah AWAL perjalanan hidup dengan ALLAH dan melakukan pekerjaan baik-Nya (Ef 2:10). Awalnya, apapun yang kita lakukan adalah dosa, tetapi sekarang kita melakukannya dengan iman dan kedatangan Yesus memampukan kita melakukan pekerjaan itu.

Jakarta,12 Desember 2014
Ternyata udah mau seminggu aja deh pending postingan Part 2. So, let's finish what's been started....


Well, selanjutnya melakukan pekerjaan baik antar kita sesama orang beriman adalah salah satu perintah Yesus. Namun, kita pun sering lalai. Hal ini telah terjadi pula di masa gereja mula-mula. Banyak orang yang malas bersekutu, berbagi, ibadah, dsj. Padahal sejak awal penciptaan Allah telah berfirman "Tidak baik, jika seorang manusia itu seorang diri saja." (Kej 2:18) Jika kita perhatikan, setiap Firman Tuhan utk penciptaan selalu "baik", barulah ketika manusia itu seorang diri saja dikatakan "tidak baik", berarti ada situasi serius dan gawat jika manusia seorang diri saja. Oleh karena itu dengan sigap Tuhan menjadikan seorang penolong, sehingga penciptaan itu menjadi sempurna. Jika tanpa penolong, manusia itu ngga bakal mungkin bisa melakukan tugas dari Allah.
Pentingnya memiliki komunitas ataupun relasi yang baik dengan sesama adalah karena manusia sering jatuh jika seorang diri, mudah jatuh dalam dosa. Hal ini yang sering dialami oleh seorang pemimpin juga. Contohnya adalah Daud. Kita bisa saja berpikir, "Daud saja bisa jatuh dalam dosa. Padahal kondisinya berbeda dengan kita. Jelas dia bisa jatuh dalam dosa krn dia adalah seorang pemimpin yang harus mengatur orang banyak. Otoritas Daud sbg seorang raja membuat dia tidak memiliki seorang yang lebih tinggi untuk dapat mengngatkannya.

Dalam kaitannya dengan keseharian jemaat, perlu kita syukuri jika kita masih punya pimpinan/boss/orang yang memiliki jabatan lebih tinggi daripada kita karna kita memang butuh untuk diingatkan, ditegur, diarahkan. Gesekan antar rekan kerja atau sesama pelayan adalah wajar karena kita bukan malaikat. Namun, di dalam kasih kita mampu untuk melayani Sang Raja. Demikianlah kelahiran-Nya bukan hanya membawa misi penyelamatan melainkan membawa kasih yang menyatukan manusia untuk dapat melakukan pekerjaan baik bagiNya.

Sekian.

Nb:maaf kalau ada hal-hal yang kurang "mengalir" hahaha. Dikarenakan catatan yag tidak lengkap serta memori yang terekam hampir seminggu udah mulai pudar, jadi yaahh, maklumin aja segitu adanya. Well, selamat melayani Allah lewat kesatuan kasih antar sesama. Tuhan memberkati.

12/7/14

Natal Perkantas 2014 (Part 1)

7 Des 2014.
Beberapa jam yang lalu (di laptop saya waktu menunjukkan pukul 1:08 pagi) saya bersama sahabat2 saya mengikuti sebuah ibadah perayaan Natal yang diselenggarakan oleh Perkantas. Temanya adalah "Yesus datang untuk mempersatukan kita". Pertama kali mendapat undangan terbuka tsb saya tidak begitu memerhatikannya karena saya pikir pasti acaranya akan seperti biasanya. Tidak terlalu tertarik untuk ikut karena beberapa alasan, saya pun memilih untuk mengatur jadwal bertemu dengan teman2 lama. Tapi, memang kehendak yang diatas lain, rencana2 tsb harus diurungkan dan ketika siang menjelang sore kemarin baru saya "iyakan" ajakan ke Natalan itu.

Janjian dengan Elles, sahabat saya yang mengajar di Global Language School yang kebetulan lokasinya satu gedung dengan acara Natal tsb, saya yang sedang tidak ingin segitu niatnya nongolin muka sendiri, berinisiatif untuk bertemu dengan Els dulu di kantornya. Setelah bertemu kami pun naik ke lantai atas dan disambut para usher yang salah satunya adalah Kare, salah satu sahabat kami juga. Acara belum mulai ketika kami tiba, masih penayangan slide kegiatan Perkantas dan sebuah kata sambutan dari BPC Perkantas.

Sekitar sepuluh menit kemudian MC pun mengajak jemaat untuk bersaat teduh dan memulai ibadah. Hmm, rindu ikut persekutuan yang "berkualitas" lumayan agak terobati lah. Dulu2 tiap Selasa deket kampus masih bisa rutin ikut PMKJ, Tapi sekarang, kondisi yang kaya gini, duh jangan harap deh persekutuan yang "menyehatkan", dapet makanan yang "layak" pun susyeehhh..

Nah, asumsi saya tentang firman yang bakal gitu2 aja pun segera sirna seiring dengan "Roh konsentrasi" yang merasuki saya. Pembicaranya memang terkesan kaku, deskriptif sekali diawal khotbahnya tapi ternyata, dengan pembawaan beliau yang tenang seperti air mengalir, saya perlahan tenggelam dalam khotbah beliau yang cukup bikin mikir :). Dimulai dengan latar belakang orang Kristen sekarang (re: kita) yang (mungkin) menghayati makna Natal dengan biasa2 saja terlebih karena kesibukannya sebagai pengurus, pelayan, atau yang berkaitan erat dengan persekutuan kampus atau gereja karena Natal yang identik dengan perayaan, ibadah dan lain2 membuat kurang meresapi makna Natal, kemudia khotbah dilanjutkan dengan gaya2 pembicara ala eksposisi "PA" seperti di kampus dulu.

Anyway, Perikop yang diambil adalah Ibrani 10:19-25. Perikop ini sendiri mengingatkan saya pada Ibadah Paskah UI tiga tahun lalu di Balairung, yang dibawakan Pak Parapak yg kebetulan juga hadir di ruangan itu (beliau inget gak yah pernah bawain perikop itu juga dulu? ). Hmm.. Dan saya sekarang sudah lupa apa isi khotbah Pak Parapak saat itu :p Yang saya ingat hanya moment harus sharing hasil Pendalaman Alkitab karena saya terlibat sebagai pelayan (singer) bersama Johannes dan Kak Ribka. Hm, Hasil PA saya sungguh luar biasa...singkat. Momen paling malu2in deh, karena belum ngerti gimana cara ber-PA yang baik.

Well, Ibu Ina yang jam terbangnya didunia khotbah sepertinya sudah tinggi ini, sangat menarik ketika memaparkan bagaiman jemaat mula2 melaksanakan ibadah perayaan mereka jaman dulu. Beliau memaparkan bahwa (berita) kelahiran Kristus di dua bagian Alkitab (P. Lama dan P. Baru) memiliki 2 hal tak tersirat yaitu Continuity & Discontinuity (adanya kesinambungan dan perubahan).
Di PL dikenal dengan penebusan oleh korban sembelihan yang dilaksanakan oleh para imam besar dalam ruang maha kudus. Pada saat "ritual" itu dilakukan, Imam besar tersebut harus diikat dengan tali sebagai maksud jika dia mati karena kena murka Allah dan tiada seorangpun yang dapat masuk untuk menjemput mayatnya ke ruang maha kudus tersebut, maka dibutuhkan tali untuk menarik keluar mayat sang imam yang berdosa tersebut. Pertanyaan yang berlanjut ke P.B adalah "bagaimana mungkin darah hewan bisa menghapuskan dosa manusia?". Oleh karena itu dibutuhkan darah seorang yang lebih tinggi otoritasnya dalam penghapusan dosa, yaitu darah Allah sendiri yang dikurbankan di kayu salib ialah darah Yesus Kristus. Demikianlah maksud dari kesinambungan dan perubahan penebusan dosa antar PL dan PB.

Kemudian, dalam konteks ibrani kali ini dibukakan 3 triad ajaran Kekristenan yaitu Iman, Pengharapan, dan Kasih.

-to be continued-

11/27/14

My grown up Christmas List

One of my favorite Christmas songs. It's not abt the ritual celebrations like the common Christmas songs. There's still hope for every people in need if we do really care. I don't mean that other Christmas song aren't good, but I found this song teaches me that Christmas isn't about the gift, Santa, reindeer, or anything that brings a temporal joy. No, it's not. Christmas is about perpetual hope and joy for all human. So, here's my grown up Christmas list. Not for me, but for those who need nothing but love and help. :")

Kelly Clarkson- My Grown Up Christmas List with Lyric

Source: https://www.youtube.com/watch?v=h1TTnPdZOZI

11/26/14

Tangki Kasih

Kosong. Tangki kasih di dalam hatinya kosong. Bukan cuma dia, sepertinya orang-orang yang berada di sekitarku tangki kasihnya sedang kosong. Sehingga ketika masalah datang, bukan jalan keluar yang ditemui, melainkan permasalahan lain.

Aku sedang membaca sebuah buku terjemahan milik ayahku mengenai 5 bahasa kasih untuk pasangan berumah tangga. So, what's up Ngel? Entahlah. Aku sedang merasa keluarga ini tidak mengerti bahasa kasih, sehingga aku berusaha mencari tahu sendiri secara teori. Alkitab tidaklah kurang, tapi karena implementasinya terlihat cukup real ditambah karena penulisnya adalah seorang konselor perkawinan, maka aku penasaran membacanya. Bukannya baca jurnal untuk skripsi.... Aku muak. :( Aku pikir toh baik juga membaca buku ini. Daripada dibaca ketika masalah sudah tiba? Toh baik untuk persiapan kan? :p

Ada istilah yang menarik yang dipakai penulis untuk menggambarkan kondisi hati tiap anggota keluarga yang (sering) mengalami masalah. Tangki kasih. Bagaimana cara mengisinya? Perlu usaha dari masing2 pasangan dan anggota keluarga. Perlu usaha. Perlu daya. Bukan diam dan menyerah.

Baru saja aku mendengar Mama menelepon Ompung di Medan yang mengadukan kelakuan nakal Panca. :( Entah kenapa, sebenarnya bukan tanggung jawab opung untuk mengasuh Panca. Itu adalah tanggung jawab kami. Tanggung jawabku juga. Tapi karena dulu aku tak berusaha, maka sekarang inilah hasilnya. Panca harus jauh dari kami. Dia yang tangki kasihnya telah kering kerontang malah harus berada di bawah asuhan opung yang tak jauh berbeda kondisi tangkinya. Atau malah tangki kasih beliau sudah bocor.. Kenapa begitu? Karena menurutku diisi oleh siapapun tidak diterimanya. Lalu bagaimana mau mengisi tangki kasih Panca?? Ya. Itu yang aku sesalkan. Panca malah menerima asupan kata2 kasar dan tuduhan yang menyakitkan hati dari Ompung. Sama seperti yang dialami Renhat ketika dulu juga tinggal bersama beliau. Bedanya, Renhat tidaklah nakal sama sekali, sehingga sekarang hubungan dengan Opung tetap baik. Dia cukup dewasa dengan menganggap perlakuan Ompung yang demikian merupakan bentuk ketidakmapanan karakter Ompung sebagai pengasuh. Sedangkan Panca? Dia benar-benar sendirian menghadapi sikap kasar Ompung disana. Ompung bukanlah orang yang lemah lembut. Kata-katanya sering kasar. Begitu yang kudengar dari orang-orang korban sakit hati karenanya. Eh, tidak. Aku pernah mendengar sendiri bagaimana penatua di salah satu gereja ternama di Medan itu memaki menantunya sendiri dengan sebutan, ah sudahlah, aku tidak ingin menambah kerusakan namanya.

Ompung baik. Hanya jika pada orang yang menuruti maunya. Sesimple itu kerumitan hidup bersamanya. Dari orang-orang egois seperti itu, aku dan saudara-saudaraku belajar bahwa mereka dibolehkan 'ada' di hidup kami untuk kami boleh jadi orang yang makan hati  sabar dan mengampuni. Lantas kenapa kau tetap menuliskan hal buruk tentang Ompungmu disini?

Itu bukan hal buruk. Ada hal-hal yang menurut saya perlu diketahui orang untuk belajar. Saya harap Ompung bisa cukup dewasa menerima bahwa beliau merupakan contoh yang baik untuk orang lain belajar agar tidak menjadi orang sepertinya. :) Saya ataupun orang-orang disekitarnya tidak pernah sanggup untuk memberi tahu Ompung betapa pentingnya kelemahlembutan dan mengampuni. Ada orang seperti Ompung saya yang sulit untuk menerima bahwa hidup tidak sepenuhnya milik dia dan sesuai dengan maunya. Aku harus belajar menerima bahwa patron hidup saya sepenuhnya adalah Tuhan. Sumber tangki kasih saya dan semua manusia adalah kasih dariNya. Sumber selanjutnya adalah orang sekitar dan selanjutnya adalah usaha kita sendiri untuk melakukan hal yang telah dilakukan Yesus.

Saya masih menanti kesempatan dimana Panca bisa merasakan kembali penuhnya tangki kasih di dalam hatinya. Aku kerap menelepon dan mengiriminya sms. Walaupun sepertinya sudah terlambat, aku tetap melakukannya. Adik kecil yang sedari bayi telah kurawat dan kujaga tetaplah menjadi adik kesayangan yang kutitip dalam doa kepada Bapa. Bapa menjaga erat dirimu. Ku yakin Bapa telah siapkan masa depan yang baik bagimu, adikku sayang.

11/21/14

IDK

Tadi malam aku bingung bagaimana menanggapi kondisinya. Apa memang ada yang salah dengan dia? Bukannya wajar jika mengalami tekanan kalau tidak semangat? Entahlah. Mungkin aku ngga netral. Mungkin aku terlalu empati kepadanya. :"( Mungkin aku masih berharap ada yang berbeda. Anyway, aku senang. Dia masih mau terbuka. Meskipun mesti gatau malu dulu untuk memancingnya buka mulut. Tapi, memang begitu kata orang-orang, harus sabar.. Aku cuma ingin dia lebih baik. Dan ternyata benar. Dia sedang tidak baik. Aku terlalu kasihan? Entah.

Aku berusaha untuk mendengar perlahan. Dia sering lupa untuk suatu hal yang katanya dirasa penting. Dia sangat biasa tapi dia pun tidak terduga. Dia biasa saja menceritakan apa yang dia rasakan. Seperti tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Lalu kenapa orang-orang itu khawatir? Dia juga begitu sangat tidak terduga karena hal kecil bisa sangat berarti baginya. 

Aku ini hanya seorang teman. 
Jika lebih, aku takut akan berbeda. 
Jika lebih, aku takut dia tidak biasa.
Jika lebih, aku takut dia perlahan berubah.
Jika lebih, aku takut dia terduga.
Jika lebih, aku takut dia pergi..
Aku lebih takut jika dia tidak ada...

11/20/14

Mendengar.

Ketika aku dipercaya untuk mendengar suatu cerita bahkan rahasia, aku bahagia. Aku tahu itu bukan talenta terbaikku. Mendengar butuh kesabaran, butuh kelanjutan (follow-up), dan butuh hikmat.
Maka, setiap kali teman memercayaiku untuk mendengar cerita mereka, aku berdoa dulu, karena aku tau betapa beratnya mendengar bagi orang sepertiku. Ajaibnya, Tuhan menolong. Aku pun suka didengar, walaupun aku sadar kalau aku tidak terlalu baik dalam berkata-kata. Sulit untuk mengatur pola bicaraku. Aku sering bingung menemukan kata untuk suatu ekspresi, suatu maksud. (Pernah) Ada di otak, tapi seringkali ketika ingin mengucapkannya, malah sulit sekali. Butuh pendengar yang sabar juga loh buat saya. Untungnya ada seorang sahabat yang benar-benar kurasa nyaman untuk menyampaikan kebodohan demi kebodohan pikiran dalam hati dan kepalaku. Putri. Dia sungguh diberkati Tuhan dalam talenta mendengar. Aku salut dengan kesabarannya dalam mendengar tiap cerita dari kami, para sahabat-sahabatnya yang ngga punya rem kalo cerita.

Anyway, aku sendiri masih belum sebaik Putri dalam mendengar. Walaupun ada beberapa teman yang memang kutahu rahasianya, tapi waktu mendengarkan mereka, kadang aku masih ngga bisa nahan ekspresi bosan ketika ngobrol langsung. Di telepon, aku terkadang masih belum fokus dan ngga netral. Aku, orang yang sulit untuk percaya ini, serig terganggu pikiranku sendiri yang mempertanyakan kebenaran informasi yang disampaikan pencerita itu kepadaku. Aku masih sering mengernyitkan dahiku tanda apakah itu hanya opini belaka atau memang begitu adanya. Tapi, aku ingat kalau mereka butuh didengar, perasaan mereka perlu dihargai. Masalah mereka mungkin tidak bisa langsung selesai, tapi satu hal yang kupelajari; mereka butuh teman, penolong yang rela untuk menjadi "tempat sampah" penat mereka. Entah kau setuju atau tidak akan pendapat mereka, mereka hanya lega ketika mereka berbagi beban.

Ya, berbagi beban. Sadar atau ngga, ketika kau dipercaya, tak seutuhnya mereka hanya ingin bercerita, namun mereka pun ingin berbagi beban. Ekstrim sih kalo dibilang mereka egois. Aku juga pernah melakukannya. Anyway, aku tetap menikmati "peran" sebagai tempat sampah itu. Aku merasa diriku masih berfungsi sebagai teman yang bukan cuma ada waktu senang, tapi saat sedih, mereka percaya bahwa aku mau berdoa bagi mereka. Aku, yang kurang peka terhadap teman2, kini menjadi lebih bersyukur karena Tuhan kasih kesempatan untuk menjadi teman yang berguna bagi sekitarku.

Mendengar atau menjadi seorang pendengar memang tidak mudah. Tidak semudah mendengar guru atau dosen yang mengajar di kelas. Di kelas kita wajib, senang atau tidak senang, memperhatikan apa yang diucapkan pengajar, tetapi ketika mendengar sebuah masalah, aku belajar untuk bukan saja mengerti dan memahami, melainkan untuk turut merasakan perasaan mereka dan belajar bahwa hidupku tidaklah seberat mereka yang punya pergumulan. Aku belajar bagaimana mereka menghadapi, bagaimana mereka bergumul melewati waktu-waktu sendiri, mereka bertahan, dan sikap dan prinsip-prinsip hebat yang mereka pelajari selama proses bergumul. Merasa terbeban setelah mereka bercerita? Aku terbeban untuk mendoakan dan menjaga rahasia mereka memang. Tapi, itu bukan hal yang sulit. Aku tidak suka jika ceritaku diumbar, maka aku ngga melakukannya.

Mengapa kuping diatas mulut? Karena mendengar lebih penting dibanding berbicara.

11/14/14

80 km/jam

Bisa ngga sih waktu balik ke jaman maba atau SMA aja, when everything seemed so good and easy :p Duh ngel, pagi2 udah ngeluh aja, katanya mau belajar bersyukur *anaknya short-term banget* Ngga, kok, itu tadi cuma random thought, tiba2 kangen masa2 itu doang, kalo disuruh ngulang lagi I'd say no.. :)

Anyway, have seen the title? What the meaning of the maksud? Wakakaka, udah lama banget bahasa itu ga kepake :p
Jadi, postingan sebelumnya which means yang saya tulis hari Senin, bilang kalo dua hari sebelumnya saya pergi keluar dari penatnya Jakarta. Hari Sabtu ke Curug Nangka dan Hari Minggu saya ke Puncak bareng ex-pengurus PSPO! Terkhusus yg kerja bareng saya plus Dee. Biarpun Dee bukan anak buah saya, tapi karena hubungan yang cukup dekat dan udah lama juga ga quality time bareng Dee, jadi dengan sangat riang hati saya ajak Dee ber-sweet escaping :)
Awalnya sih gara2 saya nge-post foto ultahnya Josua, terus si Monic komen dan ngajak ketemuan. Setelah hari itu, saya sempat bertemu dengan Monic dan ngobrol-ngobrol, makin kuat keinginan untuk bertemu dengan mereka. Maka, via whatsapp dan media lainnya, saya menghubungi mereka (Josua, Dee, Monic dan Agnes). Seperti biasa, perubahan2 rencana dan personil yang berhalangan pasti terjadi ditambah keinginan pribadi saya yang gamau main di Jakarta-jakarta doang :p pastinya butuh angkutan pribadi dong. kurang asyik kalo ngangkot kannn.. Lagipula, waktu nanyain Putri dan minta rekomendasi tempat, dia ngasih tau sebuah resto baru di daerah Puncak Pass. Waktu melihat foto tempatnya dari google dan blog, emang bagus sih tempatnya. Saya pun berniat untuk membawa rombongan ex-pengurus PSPO kesana. Lalu setelah rencana ini itu dan Puji Tuhan akhirnya semua personil lengkap, maka Sabtu malam saya menginstruksi mereka untuk tidur cepat dan gereja pagi-pagi besok. Puji Tuhan juga nh Josua bisa bawa mobilnya. Dia bawa Kijang lama peninggalan almarhum bapaknya. Hm, dia agak takut sih untuk dibawa jauh. Tapi daripada ga bawa mobil sama sekali, ya kami pasrah aja. Heheheheh *anaknya bebal*

Saya, Dee dan Agnes bertemu terlebih dahulu tanpa diketahui Monic dan Josua karena kami mau membeli kue ulangtahun untuk mereka. Yap. Ulang tahun mereka berdua memang sudah lewat. Monic 5 Oktober dan Jos 26 Oktober, tapi kan perayaan bisa kapan aja. *ngeles* Hehehehhe
Jadilah kami (apalagi saya) kucing-kucingan dengan Josua dan Monic yang bertanya2 saya sudah dimana dan dimana meeting pointnya. Maka, setelah semua persiapan ulang tahun mereka beres, kami memberitahukan meeting pointnya. Huh hah. Panas banget loh siang itu di depan Mall Margo City.
-_-" Tapi demi kebersamaan yang gak bernilai harganya ini, kami merasa senang-senang aja :))
Here we go! Akhirnya ketemu sama Jos (yg kaget dengan kehadiran Agnes, karena emang tadinya Agnes bilang gabisa ikut, tapi Puji Tuhan bisaaaaa, dan Jos gatau kalo akhirnya Agnes ikut :p) dan Monic yang duduk disamping Jos, dan sebelum berangkat, kami melakukan perayaan kecil2an itu di mobil. :D

Kami menempuh perjalanan selama kurang lebih 2 jam. Titik2 macet arah puncak gak terelakkan. Tapi, biarpun gitu, kami menikmatinya dengan berbagai candaan, kegalauan, cekikikan terutama ceng-cengan yang membawa nama seorang senior dari FT jur.elektro angkatan 2008 :p Namanya, jangan disebut deh mendingan.. Karma bisa datang -_-

Nah, tiba di tempat yang kami tuju dan agak deg-degan dengan kondisi Kijjie, nama panggilan sayang untuk mobil super yang mengangkut kami, perut udah mulai demo. Wah, tempatnya emang bagus, tapi ga sebagus foto2nya sih. Hmm.. Mungkin karena yang ngambil foto jago dan keadaan saat itu cukup rame. Nama tempatnya adalah Nicole's Kitchen and Lounge.

Disana kami segera memesan makanan yang kami sudah tau bahwa menu disana kurang bisa diandalkan merujuk kepada beberapa review di blog-blog yang saya kunjungi. Ya, kami udah siap sih dengan resiko itu. Slogan kami adala "Yang penting resto fancy dan taking photos layaknya anak jaman kekinian" :p

Agak kecewa sama pelayanan mereka (yang ini juga udah ada di beberapa review mengenai resto ini). Seorang mbak2 menyapa kami dan membereskan meja kami bertanya "itu kue ulang tahun ya mbak?" Kami pun menjawab "iya" sambil tersenyum. Lalu, karena saya pikir pelayan ini cukup ramah, lantas saya bertanya apakah boleh meminjam piring piring2 kecil yang anehnya dia bilang "maaf, ngga bisa" IDIIIHHHH! Saya sama yang lain otomatis langsung lihat2an. Lah, buat apa lo nanya kalo ngga bisa minjemin piring doang mennn.. Basa basi doang?!! >:(( Sayangnya pelayan situ ngga pake nametag jadi ngga bisa dicatat atau diaduin deh nama mbak2nya. Setelah dia membereskan meja untuk kami dan memberikan menu, dia pun meninggalkan meja kami dan kami segera nyinyir ala inang2. Wkkwkw. Kzl!
Kami melihat2 menu, eh maksudnya memilih2 menu. Seperti yang udah kami wanti2, ga terlalu expect banyak untuk rasa atau bahkan pilihan. Standar lah. Yang istimewa dan ala mereka pun hanya nasi goreng. Menu itulah yang dipilih driver kami, Josua :p Dia bilang kayanya dengan besarnya tenaga yang terkuras, menu ecek2 ga bakal nampol. Meja kami kembali dihampiri oleh seorang pelayan perempuan, kali ini dia yang akan mencatat pesanan kami. Saya yang masih penasaran kembali menanyakan tentang piring kecil kepadanya, daaannn yang terjadi adalah "oh iya boleh mbak, nanti kami antarkan.." Wiihhhh, doi ramah banget dan dasarrr angel tukang paksaaaa.. Well, it's one of my best talents tho ;p

Sambil menunggu pesana kami diantarkan, kami mulai berkeliaran ke zona outdoor untuk melihat2 view pegunungan :) walaupun terhalang kabut serta awan, tapi kegagahan gunung masih dapat tertangkap mata :) 

 lagi nungguin Monic dan Agnes beli cemilan sembari Jos ngisi bensin :p

 Ini kue untuk birthday girl and birthday boy,kami beli di Breadtalk Margo. Sayngnya makanan kami terlalu mengenyangkan dan udah dingin cakenya jadi kurang nampol :3


 Full-team! :)
 Ala2 model Puncak dulu satu2. In frame: Monica
 Me :D
 Agnes Banurea
Dee timeee

here they are, the birthday girl and birthday boy. wishing them a very happy life forever :D

never ending photo session of the gurllsss :p

Narsis, yes we are. Kami masih punya ratusan foto lagi yang unyu2, tapi mending di keep utk konsumsi pribadi aja deh. :p Kebanyakan cyin.
Untuk makanannya sendiri, as I've told ya many timeeesss.. service dan rasa es-te-de be-ge-te. Bahkan makanan gue yang gue lupakan apa namanya ngga ada rassa apapun! Maaf Tuhan, bukannya ga bersyukur, tapi beneran hambar. :"3 Tapi saya habiskan kok, thinking of the needy and the poor made me stronger to devour all that tasteless meals. Makanannya Jos yang cuma nasgor aja 30 menit lebih bok. Duh, kalo yang ga sabaran udah mencak2 kali. Jos pun bilang kalo rasanya biasa aja. Enakan nasi goreng tektek yang lewat. Teurs yang parah juga si Monic mesen Buble Chocolate yaaangggg kemasannya asdddghgjkrdiurjh bener2 ngga niat. Kata Monic "Aku perasaan pesen Ice Buble Chocolate deh bukan es cincau :p" Here the picts of our foods...
fettucine blala mushroom yang gue bilang rasanya hambar.... -_-
btw, harganya bukan yang paling murah tapi rasanya ga berbumbu.. huft

ini punya Dee bolloignase apa gitu pake2 cheese gitu. Ini lumayan lah. kelihatan daari warna aja ga polos2 banget kaya makanan saya kan. Tapi tetep se-tan-dar wae kaya ditempat lain...

ini apa yah, gue lupa pesenannya Monic.. Hmm, ini juga mending sih, sekali lagi patokan mending adalah dibanding makanan gue -_-

Nah, ini juga yang paling kacau dari restoran itu. Kemasannya bener2 dibawah standard. Gapaham lagi kenapa ngga ditaro di gelas yg lebih classy. Padahal tempatnya udah mayan fancy... Ckckckck
Ini pesenannya Agnes ada tuna2nya gitu. Agnes gasuka tunanya malah katanya --"
Ini dia nasi goreng khas Nicole's yang lamanya naujubile kaya nungguin jodoh -_- Rasa? Josua told us that it's below standard....

Akhirnya habis juga kaan. Kalo ngga, harus tanggung jawab ke berjuta jiwa yang belom bisa makan dan kepada Tuhan.. Hmm..

Setelah makan, karena tempat waktu itu ramai, mau ngambil foto pun agak malas. Jadinya kami putuskan untuk pulang. Dan sebelum pulang ritual foto bareng pun kami sempatkan degan minta pertolongan mbak2 pelayan, ehh dapetnya yang malesin juga. Huft. 


Sesaat keluar dari parkiran, hujan rintik2 hingga lebat toba2 turun. Kami gagal ke Taman Bunga :( Dann sesuatu yang agak kami lupan pun terjadi. Sekitar menjelang maghrib ketika kami keluar dari Taman Bunga, mobil Kijjie mogok. To. Tal. Total. Aku yang duduk di depan disamping Josua sontak langsung saling bertatapan pasrah. Hahahahaha. Hujan. Mogok. Di tengah jalan. Bener2 gamau nyala loh Kijjienya. Padahal kami udah dorong. Eh ngga, pertamanya aku dulu tuh yang dorong. Sendirian... ==" Karena payung cuma satu. Lalu, ketika hujan agak berenti, Jos mencoba untuk cari pertolongan ke Pos TNI itu. Duh, ngga kebayang gmana kalo cewe2.Jos bener2 gerak cepat banget dan ga lama2 diam. Dia sibuk nelpon2in bengkel langganan.. Nelponin temen2nya yg ngerti mesin.. Tapi nihil.. :"(  Puji Tuhan saat itu mogoknya di deket kantor TNI gitu. Kemudian seorang Bapak menunjukkan bengkel kpd Josua. Setelah tau tempatnya, Josua yg ergi naik angkot beberapa menit kemudian kembali lagi ke mobil. 

Kami berempat perempuan2 tangguh mendorong Kijjie ke tukang bengkel. HUBAH!! Tiba di bengkel tsb, dan dengan upah 50 ribu akhirnya Kijjie kembali "bernapas". Puji Tuhan. Beberapa kali ketika kami tidak tahu harus ngapain, kami bersatu dalam doa. Kami sadar betul kami ngga mulai perjalanan dengan baik. Kami pun "ngecengin" seorang teman tanpa henti. Lalu ketika pulang kami pun tidak berdoa. Tuhan rindu disapa.... Sampai akhirnya Kijjie kembali menyala, kami datang kepada Tuhan, bersyukur, minta ampun dan minta penyertaan-Nya. Kami belajar untuk ngga sembarangan dalam bertindak dan bertutur. Bener2 pengalaman yang luar biasa. Gak bakal bisa kulupain. Terimakasih Tuhan untuk kebersamaan dan pengalaman rohani yang luar biasa mengajarku :") I love You, God... 
Harap2 cemas menanti bapak bengkel membereskan beberapa part.. Josua udah diomelin seisi rumah karena membawa Kijjie ke Puncak. Disitu saya benar2 merasa layak utk disalahkan tapi bingung mau bagaimana..

Menjelang hidupnya sang Kijjie kembali dan membawa kami pulang dengan selamat :") 
Meskipun hanya bisa maksimal 80 km/jam, tapi kami sangat berhutang budi dan bersyukur punya Kijjie :"3 Terimakasih Josua dan Kijjie... Terimakasih, Tuhan...



11/10/14

(Akhirnya) Mengunjungi Curug Nangka, Bogor

Selama dua hari kemarin, saya me-recharge mood saya dengan "menghasut" beberapa teman ke tempat yang jauh dari ibukota. Puji Tuhan kesampaian.

Jadi, ceritanya hari Jumat saya benar2 udah di titik didih panas akan kehidupan rumah dan kota Jakarta. Bukannya tidak bersyukur utk kehidupan yang telah Tuhan sediakan, tapi adakalanya mood ini gabisa di-prediksi dan kadang malah stres sendiri. Penyebabnya tentu saya sudah tahu. Dan karna udah terlalu penat sendiri, saya mengajak teman2 gereja saya untuk pergi ke air terjun di Bogor bernama "Curug Nangka". Sebenernya, saya udah pernah hampir kesana beberapa bulan yang lalu bersama Ellis, ya hampir.....Kami tiba terlalu siang dan hujan turun, jadinya perjalanan ke poin terakhir ga bisa kami lanjutkan. Petugas penjaga atau semacam kuncennya menyuruh kami untuk segera turun karena akan bahaya jika meneruskan perjalanan. Kami patuh, kemudian turun. Dan benar, sebentar saja kami berbalik badan, hujan deras mengguyur. Maka kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan di lain waktu. Saya masih sangat penasaran gimana rasanya sampai disana. Nah, mumpung otak lagi random, yaudah deh saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan malah tadinya berniat sendiri kesana. Tapi kok, kalo dipikir2 saya belom siap untuk pertualang sendiri. HAHAHAH. Untungnya, biarpun mendadak bgt, (saya umumkan rencana saya jam 10 malam) ada Putri yang "murah" untuk menemani saya ke Curug Nangka.

Naik kereta api pkl. 6.30 pagi dari St. Tebet, kami tiba sejam berikutnya di St. Bogor. Perjalanan kami lanjutkan dengan menumpang angkot 02 yang menuju Mall BTM dan disusul angkot 03 yang melewati pemberhentian Curug Nangka. Ada 2 pos untuk masuk dan berbayar. Total tiket masuknya Rp. 15.500. Sekitar 30 menit saya dan Putri berjalan kaki santai menuju Curug Nangka. Jadi, ternyata ada 3 poin yang biasanya menjadi destinasi pengunjung, tapi saya cuma ingat Curug Nangka, karena namanya lumayan susah untuk lidah Batak saya :p

Sewaktu berjalan ke arah Curug Nangka, kami melewati sebuah track berair dan barbatu namun sangat eksotis :") Saya sangat suka suasana sepi, udara segar dan cahaya yang meresap lewat pepohonan yang kami lewati saat itu. Indah bangeeeetttt.. Kami pun harus lumayan hati-hati ketika melewati track tersebut karena batu2 besarnya ternyata kurang begitu stabil.

Turun dari angkot, menuju pos liket, ada beberapa spanduk serupa dipampang di depan vila2yang beroperasional :p Jangan coba2 yaaaaaa ;;)

Setelah pos pertama, menuju jalan berbatu dan menanjak, akan menemukan jalan yang sudah diaspal beserta pohon2 yang bikin kita berimajinasi sbg bagian dari keluarga "Cullen Twilight" -_-


Ini merupakan spot favorit saya selama perjalanan yang saya sebut tadi eksotis. Mong-omong, asyik juga loh utk photo-shoot prewed, karena cahayanya romantis bangett :3 <3


dilihat dari jauh udah cantik banget :'3


Cahayanya gak main2 cantiknya...



Akhirnya sampai di tujuan, CURUG NANGKA! XD

We challenged ourselves to take a natural shower... Brr.. It as more challenging than an ice bucket challenge!! We did it! xD

Putri took lotsa great pictures of me. She has a good sense of angle-ing :p She's been my fav photographer! :D




Nah, itu dia beberapa foto dari ratusan yang kami ambil. Hhahahah. Air dingin yang bikin kepala super adem jadi bagian terindahnya juga :D Aku puaaaaaasssssss :D Sebelum naik angkot 02 ke bogor, kami mengisi perut dulu di warung makan yang rasanya bener2 manjain lidah. Menu ampela, sayur singkong, kentang balado dan ikan tuna sambel bener2 maknyosss. Bumbu2 yang berani ala masakan Sunda bikin otak berenti mikirin kesusahan hidup dan sibuk nebak2 "ini ibu pake bumbu apa sih" hahahah. Ternyata Putri pun memikirkan hal yang sama. Setelah makan dan membayar Rp. 16.000, kami pn menyetop angkot dan cus balik menuju rumah! Hati senang, perut kenyang, otomatis di kereta dengan mata lumayan ngantuk kami berusaha utk tetap terjaga dna ngobrol, karena takut kelewatan dan jaga barang. Puji Tuhan sampai di rumah sore-sore adem dengan aman. Yang saya senang juga adalah keluar dari shelter busway di depan rumah, hujan baru turun. Jadi saya tak perlu "menikmati" hujan dengan mutung di tengah jalan karena basah2an, tapi dengan nyaman "ngulet" di atas tempat tiduuuur dan dibawah selimut... Bzzztttt :D



11/2/14

Marah.

Ini merupakan pilihan yang sering diambil manusia setelah merasa kecewa. Emosi yang meletup-letup adalah salah satu kelemahan saya. Bagi teman-teman yang sudah mengenal saya dengan baik, meninggalkan saya sendirian dan tidak mengulangi kesalahan yang sama merupakan cara untuk meredakan emosi saya.

Saya tidak perlu dan tidak peduli dengan kata maaf dan bujuk rayu dari orang-orang yang mengesalkan hati saya. Jika mereka makin banyak bicara, saya malah makin tidak percaya mereka bisa berubah. Saya tidak suka diumbar janji, makanya saya lebih suka hal yang secara random bisa saya kerjakan. Planning, saya sangat mengandalkan perencanaan yang matang, tapi kalo pada akhirnya hanya menjadi wacana yang sia-sia, bisa lama sekali saya akan dongkol dan tidak peduli dengan eksekusi selanjutnya. Lebih baik bilang "tidak" di awal, mungkin saya akan sedikit kecewa, tapi hal itu tidak akan lama. "Tidak" bukan berarti dia tidak sanggup dan tidak mau. "Tidak" membuat saya lega sehingga tidak perlu menunggu dan berharap.

Kadang Tuhan pun memberikan jawaban "tidak" karena ada hal yang lebih baik dan yang lebih layak bagi kita. Dia tidak memberikan harapan-harapan yang mengecewakan. Tidak perlu juga saya menunggu karena hanya akan buang waktu. Ketika Tuhan jawab "tidak", memang terkadang saya masih berharap. Tapi lebih baik untuk taat dengan jawaban yang lain yang (pasti) lebih mengesankan.

Mungkin juga "tidak" ketika saya minta agar Tuhan bantu seorang yang saya kasihi agar dia bisa berubah dan berhenti dari kebiasaan jeleknya. Harusnya dia sendiri yang minta agar Tuhan ubahkan karakternya yang beringas itu. Dalam doa kami yang sudah di titik pasrah, kami diingatkanNya bahwa doa bukan lah cara untuk mengubahkan situasi, tapi hati orang yang sedang berdoa. Kierkegaard punya. Saya dan ayah saya mungkin di"hadiahi" manusia bebal ini agar kami bisa makin sadar, bahwa Tuhan ingin kami tidak egois. Kami peduli padanya. Tapi saya sangat membenci perilakunya. Tuhan tidak menjanjikan perubahan karakternya, tapi Tuhan kasih karakter berserah dan sabar kepada kami. Bapak sudah berhasil sedangkan saya, emosi yang meletup-letup masih sering menjadi pilihan (yang salah).

11/1/14

Bapak itu bilang begitu...

"Tidak semua hal bisa kita kontrol, yang paling mungkin untuk kita kontrol adalah reaksi kita..."

Tadinya setuju banget sama statement si bapak yang pernah kenalan di Rotunda waktu jogging bbrapa tahun yll, tapi setelah kejadian bego barusan, gue sadar banget, yang ngontrol reaksi gue bukan sesuatu yang bisa gue kontrol...

I just.. Hmmmmm I don't wanna grow up :(

Well, my teenage life's slowly turning into adult life. Sebenernya udah berjalan selama 3-4 tahun belakangan ini. Tapi entah kenapa masih ngerasa ngga ikhlas :(
Kemarin gue baru ke UI, utk ngerayain ultahnya Fia, tapi gatot. Akhirnya nemuin Monic, my sister in crime, dan cerita banyak hal selama 3 jam kurang lebih. Dari obrolan yang cukup "singkat" itu, gue ngerasa bener2.. duh. why life bcomes weirder?

Btw, itu postingan gue start tulis kemaren sebenernya which means sekarang udah hari Sabtu dan kemarin Jumat gue akhirnya jadi ngerayain ultahnya Fia dan quality time bareng Nika dan Berlin.. Seneng sih akhirnya bisa ketemu sama mereka. Oya ada Nicolas juga. Dateng2 dia malah bilang "halo kaka sombong..." rada jleb sih karena yaaa gue sendiri emang (sengaja) menghilang dari dunia luar sana... Tapi kalo pada akhirnya gue dapet julukan sombong... lumayan oh my gosh kan..:p

Well, cukup menegur sih panggilan itu dan gue jadi introspeksi diri sih segitu ngga pedulinya lagikah gue ke anak2 itu. Kemarin ada Pandya juga pas kami lagi makan di Kansas. Rada kaget juga ada Pandya. Hahaha. Dan seperti biasa dia pun nanya hal yang sama "Where have you been, kak?" Aint goin anywhereeee adikku... :"
Gue ngerasa bersalah sih ninggalin mereka gitu banget. Tapi, plis percaya aku ngga lupa dan ngga bakal pernah mau lupain mereka.. Gue cuma ngerasa ngga enak banget gabisa jadi teladan di hal akademis ini.. Ya aampun, PKK orang lain udah karejo, melanglang buano ke negri lainnyo, meanwhile gue disini masih stuck dengan urusan yang seremnya ngalahin kehidupan~~ Yes, lebay. Emang.

Anyway, that's why gue yang beberapa hari belakangan merhatiin kehidupan yang semakin lama semakin berat di tanggung jawab ini ngerasa kalo I just don't wanna grow up, yaampun jadi orang dewasa belom siap......... 20 something tuh bener2 ngga berasa banget perputarannya. Gue ngobrol sama Monic yang lagi magang di tempat sosial gitu, gue lupa namanya dan masa di awal2 gue nanya dia mana, eh awabannya mesti bnget "di tempat makan kak, #sendiri #jomblo #tapikubahagia"
Yak elah Monic..... -_- tuh kan Monic aja nadanya udah menjurus ke beban umur 20 sth yang cukup berat ya sodara... Pasangan Hidup. Entah kenapa, bagi gue sendiri itu masih di awang2 banget ya coy... Ya walopun mungkin itu becandaan aja bagi Monic, tapi setelahnya topik pembicaraan kami ya mengenai pergumulan Monic sih banyakan :p (ga mungkin gue publish) Intinya, gue amazed nih sama keseriusan Monic utk hal pehadete, *clappings* Kayanya emang dia pasca mahasiswa mikiriinya apalagi kalo bukan itu. Well, gue belom mikirin. Gue belom siap kehilangan temen2 gue. :( Gue belom siap utk beban yang lebih berat lagi. Gue masih pengen kerja sesuai yang gue pengenin. Gue pengen ngembangin diri lebih lagi. Gue masih punya banyak impiaaaaaannn. Intinya, gue masih selfish banget lah yahhh.. Masabodo. Gue pengen nikmatin masa muda gue. Ngga mau cepet2 tuwir yaoloooohh.. Wkwkwkwkw. *panik padahal ga diapa2in*

Hmm...kalo hidup harus berjalan sesuai dengan mau orang lain, pasti Tuhan sediain gue lahir pake remote, untungnya terlahir cuma ada 2 tangan kosong yang bisa dilipat utk bisa nanya maunya Tuhan, bukan mau atau standarnya orang lain. Bye!

the birthday girl

with my lovely akks <3

10/29/14

Tiba-tiba kangen banget. Banget.

Selamat pagi! Hari ini Puji Tuhan agak produktif ya sodara. Bangun subuh, ke dapur ngeliat tumpukan piring dan sebel sama Ka Nina masih berlanjut karena piring dibiarin numpuk gitu, terus jogging 1 ,5 mil, terus Saat Teduh dan sekarang postang posting disini.

Sebenernya mau langsung beresin rumah lala lili terus lanjut nyekrip, tapi lagi pengen ngetik mumpung laptopnya abis dipake bapak dan belom di-shut down. Bahan Satenya dari Wahyu. Yohanes bertemu dengan rupa Tuhan. Judul satenya sih "kekaguman yang berubah menjadi Pujian".
Jujurly, gue lagi hambar secara pribadi. Dan kangen banget bisa kangen tiap waktu ke Tuhan. Gue tadi merenung, di tengah kondisi keluarga yang lagi unstable, emosi juga demikian dan pergumulan lainnya, Dia bukan cuma nunjukin kalo Dia Alfa dan Omega, tapi Dia selalu ada dari awal sampai akhir. Bukan saat awal dan akhir aja. Dia bukan Tuhan yang mengantarkanku di garis awal lalu menanti di garis finish, Dia berlari bersamaku dan keluargaku dan selalu mencukupkan segalanya, lalu kenapa aku mesti bersungut2? :(

Kalo gue dikasih kesempatan utk ngeliat rupanya secara langsung, gue beruntung, tapi gue bukan cuma beruntung, gue terberkati tiap waktu, karena kehadiranNya di hidup gue udah bisa bikin gue ngeliat Dia secara nyata. Bingung? Intinya, gue lagi ngerasa jatuh cinta sama Dia. Gue takut cinta gue berkurang, karena sering banget jatuh dan jauh :"( Tapi ajaibnya, entah apapun caranya, karena Dia setia dan selalu menopang, gue bisa balik lagi. Dan gue bersyukur Dia selalu setia. Lebih dari apapun. Bahkan pikiran gue sendiri yang pernah gue deklarasikan sebagai yang paling setia. :p

Kalo kemaren gue takut Bapak ngga bakal dapet kerjaan lagi, tapi gue makin tenang, toh gue ga pernah terlalu kurang dalam hidup gue. Gue jauh lebih beruntung dari puluhan ribu anak jalanan, serta anak yatim piatu baik di panti atau diluar sana. Bapak pun kemarin ngabarin kalo beliau akan ke Bali untuk menghadiri pertemuan jaringan Kristen gitu, gue juga kurang paham, bareng Mama. Tuhan masih kasih berkat ke keluarga kami. Gue ngga perlu merasa takut secara materi. Ditengah keterbatasan ekonomi keluarga ini, gue mesti tetap beryukur. Gitu kan?

And I also miss the, my lovely brothers yang berada di tiga kota berbeda and my lovely AKKs yang lagi pusing banget akademis sepertinya. Doaku untuk kalian. I miss every single moment we've spent together. :") God bless you my brothers and sisters

Have a good day!

10/27/14

Pedoman-pedoman hikmat

Khotbah di GDI jam 1 siang tadi perikopnya dari Pengkhotbah 12. Entah kenapa gue ngerasa terberkati beribadah di gereja itu. Meskipun gue tau kalo tiap orang pasti punya titik jenuh, tapi gue mau bersyukur dan nikmatin dulu kesempatan baru yang gue dapetin sekarang.

-----

Kemarin postingan itu gue tinggal karena bapak udah pulang and as usual beliau bakal nongkrong di kursi laptop ini cukup lama.

Nah, lanjutin yang kemarin, Pdt. Markus Simanjuntak yang berkhotbah. Khotbah beliau beberapa kali kalo kata anak2 sekarang dengan mengutip lagu dangdut yang ngehitz "sakitnya tuh di sini" sambil nunjuk dada. -__-

Beliau bilang kalo kesempatan orang tuh beda2, ada yang ngga tamat kuliah macem Bill Gates dan Mark Zuckerberg tapi bisa berhasil karena punya kesempatan utk sukses dengan tanpa kuliah.. Tapi ada juga yg dengan tiba2 sang pendeta bilang "Hai anak2ku yang ada di tempat ini, jangan kamu jadi mapala!!" dengan lantangnya dia berkata dan lepas beberapa detik saja dia menjelaskan bahwa mapala itu adalah Mahasiswa Paling Lama. Ok, makasih banget pak, duh. hm.. hkkh.. Yaudah saya kebut lagi deh yah pak. Mohon doanya. Si Ito yang duduk disampng gue nepuk2 punggung gue. Si kampret emang bocah.

Menguatkan sekaligus menegur. Itu sih ciri2 style khotbahnya di GDI. Dan yang pasti waktunya juga mayan lama ya bok. Ada kali sejam lebih utk khtbah doang. Sementaraaaaaa di gereja gue 20 menit aja kepala kayanya mulai ngerasa kurang oksigen. Gue makin pesimis sama gereja dimana nama gue terdaftar ej-key-bi-pi, selama ini khotbah yang monoton, pendeta yang tidak mau mengembangkan diri, dan lain sebagainya, maaf-maaf aja harus segini kasarnya, bikin jemaat-jemaatnya yang udah cukup "berkembang" terutama perihal pendidikan. Sedangkan pemimpin dan penatuanya makin lama makin "jompo" fisik, mental dan semangatnya. Terasa banget lah kalo performa gereja gue makin bikin gue secara pribadi ngga nyaman. Ditambah beberapa minggu lalu gue denger (karena gue ga hadir di kebaktian itu) pendeta gue secara blak-blak-an menyalahkan jemaat yang pindah ke gereja lain, bahkan katanya menyebut nama gereja tersebut,. Menurut gue, ini bener2 ngga dewasa. Instead of blaming jemaat dan gereja lain yang (lebih) berkembang, kenapa sih mereka ngga memperbaiki diri gitu, mbok yah koreksi diri manatau mereka emang perlu berkaca sama semangat gereja2 yang berkembang tsb. Bener2 ngga dewasa yah. Langsung panik, langsung nyalahin, langsung berpikiran negatif. Kasihan. Gue makin mantep utk "memperlengkapi" dan "memberi asupan" rohani yang lebih baik ke diri gue dengan nyari makanan yang lebih mumpuni di tempat lain. Toh sama2 firman Tuhan yang diberitakan. Tapi, karna ada akal pikiran, gue pun bisa melihat yang lebih berbobot yang mana. Jadi, sorry2 aja deh utk pimpinan gereja gue yang lagi panik dan perlu berkaca, gue bukannya ngga mau turut mengembangkan gereja kita, tapi bagi gue secara pribadi, gereja kesukuan bukan hal yang harus diperjuangkan lagi jika memang fungsi nya udah sangat bergeser dari pemberitaan Firman Tuhan ke pengasuhan budaya yang terlalu kolot bahkan ngga masuk akal.

Nah, terasa deh kan curhatan gue makin ngga beraturan. Itu sih "sedikit" fenomena yang terjadi di gereja gue dan kenapa gue akhirnya memilih untuk jadi jemaat yang kaya belalang hinggap. Bahkan, kemaren ada kesempatan utk jadi singer, gue nyoba2 audisi, belom tau sih gue keterima apa ngga, tapi kalopun gue nanti keterima, bisa dipastikan kontribusi gue ke gereja gue yang lama pasti akan sangat minim. Gue sebenernya lagi bergumul apakah akan jadi pembina tetap di seksi remajanya. Tapi, karena katanya wajib ikut sermon de el el, yang gue masih sangat belom bisa untuk berani komitmen, akhirnya gue putuskan utk menunggu kabar hasil audisi singer kemarin aja. Kalo audisi gue lolos, kayanya gue ga berani taking part lebih jauh utknjadi pembina. Gue lihat kapasitas gue, passion gue dan kerinduan gue, gue lebih condong ke nyanyi :(

Dan ditengah pergumulan yang belom seorang pun tau itu, Tuhan berbicara lewat Pak Markus kemarin ttg hikmat, kuasa dan kontrol hidup. Di postingan sebelumnya gue bisa dibiang takut akan masa depan. Setelah takut akan waktu yang gak bisa gue kendalikan, gue juga sedikit mikirin ttg kondisi keuangan keluarga yang makin minim disamping karena bapak jbless, gue pun sebenernya udah seharusnya bisa bantu keuangan keluarga gue, tapi yang ada gue masih jadi beban. Teman2 udah mulai ngejar posisi yang lebih tinggi di masing2 profesinya, sementara gue masih duduk ngetik keresahan gue disini. Tapi, semua pikiran2 kalut itu, lumayan terhapus dengan khotbahnya Pak Markus kemarin. Gue yakin kok Tuhan selalu ada buat gue. Tapi yaitu, emang gue yang haru lebih berhikmat. Memang seperti yang dituliskan pengkhotbah diawal bukunya bahwa segala sesuatu adalah sia2, tapi pada akhirnya pengkhotbah menuliskan kewajiban gue dan umat lainnya adalah takut akan Allah dan berpegang pada perintah2Nya (Pkh 12:!3)

Ditengah kondisi sosial yang dulunya gue dikelilingi orang2 ber'halo' tapi sekarang suddenly gue mesti berjuang sendiri, mengingatkan diri sendiri, memaksa diri sendiri, bukan hal yang gamang, cukup stres sih kalo ngerasa ditinggal sendiri. Sebenernya juga bukan sedih karena sedniri, sedih aja karena dalam pikiran gue sendiri gue berpikir bahwa mungkin mereka kecewa sama gue. Capek hidup dalam lingkaran ekspektasi orang2. Hhh..

Hari Sabtu kamarin, setelah audisi di Ambas, gue meluncur ke Salemba, ngikutin Musyawarah Besar ELPALA, disana ketemu Asa dan alumni2 lain. Asa ngga banyak berubah. Terakhir ketemu mungkin sekitar 3-4 thn yll. Dia nanya "lo belom lulus, Res?". Gue dengan muka males bilang "Ssst Sa, jangan ngomong haram..." Doi ngakak dan bilang "iya sih gue juga tahun lalu gitu" Dia berhenti dan kayanya cukup ngerti utk ngga nanyain lanjutannya ke gue. :)) Dia lulus dari ITB angkatan 2007. Jadi sebenernya 6 tahunan juga kuliahnya, tapiiiiii ITB men. wkwkwk.

Well, semoga kayaang dibilang Pak Markus deh, gue ngga jadi MAPALA yang sia2. Paling ngga, dalam proses Tuhan memebentuk gue ini, gue bisa terus inget penyertaan Allah dan makin deket sama Dia karena terasa banget kalo udah lupa sama Tuhan, gue kaya mayat hidup yag makin lama pikirannya kosong. Tuhan yang pegang kendali dalam hidup gue. Dia bukan pussycat yang bisa diajak main2 tapi takut dan sembunyi dibelakang kita kalo digertak, Dia adalah Singa dari Yehuda yang menggertak semua persoalan gue dan gue bisa aman berlindung di belakangnya. He wouldn't fight with me, He will fight for me. :') (Kol 1:16-17)

Gue yakin, boleh aja sekarang gue tertinggal dari temen2 gue, tapi rancangan Tuhan buat gue selalu jauh lebih sempurna. (Yes 55:8) Dan walaupun waktu gue kayanya dikit, mesti ngerjain skripsi, tapi gue tetep mau nyerahin segala sesuatunya utk Dia, talenta gue, waktu gue, dimanapun Tuhan mau pake gue, gue yakin pelayanan utk Tuhan yang penting hati yang menyembah kan? Dia yang pegang kuasa hidup gue, gue cuma ngandelin Dia...

Teach me how to love You more, O my Dear Lord.. I am young and I am Your servant. I'm Yours.. I love You...

10/24/14

Gila.

Makin sakit nih politik-politikan di Indonesia. Gue sambilan over-hearing berita dari ruang TV. Katanya kursi Gubernur DKI gak serta merta diduduki Ahok karena adanya peraturan lalalalilili dan perda lalalalilili. Duh, gue yang gak paham politik ini cuma bisa kesel sendiri ngeliat betapa banyaknya manusia yang haus, lapar, rakus banget sama kekuasaan :"( Makin banget keliatan orang-orang yang baik secara kemauan sendiri atau karena disetir sama pihak yang lebih powerful. Men, kurang bagus apa citra Ahok selama ini? Kurang bersih apa sih dia? Kenapa orang masih ragu? Toh udah terbukti. Cuma orang2 yang hati dan otaknya kotor yang gak setuju Ahok naik jadi Gubernur DKI Jakarta. Cuma orang2 jahat yang ga setuju...

Tapi, kasus diatas pun bikin gue kembali lagi bertanya ke diri gue, "njel, hidup lo buat apa? dengan berbagai tantangan dunia, or let's say bukan tantangan tapi kenikmatan dunia, lo berjuang untuk apa di dunia yang katanya sementara ini?"

Nggg, segelintir memori ttg KNM 2013 yang gue ikutin tahun lalu kembali menggelitik. 6 hari dicekokin dengan visi hidup dan berbagai hal nasionalis lainnya ternyata lunturnya cepet banget men. Hehehehe. Gue masih terus bergumul. Gue masih terus bertanya. Gue masih sering ragu. Gue masih sering demotivated. Gue masih suka benci hidup di Indonesia and even I wish that I could live in somewhere else... Intisari dari KNM sih yang masih nge-"glotok" di otak sama hati ya hidup dalam visi Allah, memuliakan namaNya, dan nggak keluar dari rencana agung-Nya. Well tapi itu semua masih berbentuk "teori" karena implementasinya masih dikit banget yang gue lakukan. Goal terdekat gue aja untuk lulus dari UI masih susah banget.

Hhhh.. btw, capek sih masih berkutat dengan pikran2 dangkal gue yang itu-itu aja. Ngel, you have to push yourself! Paksain!! DO IT...!!!!

Hmm, bahwa hidup itu adalah sia-sia mungkin ada benernya. Atau bisa dibilang juga, bahwa apa yang lo miliki di dunia ini bener-bener ngga ada artinya. Random banget gak sih gue bisa bilang gitu. Actually, karena sering bosennya gue dengan rutinitas gue, gue jadi sering bengong (lebih seneng pake kata 'bengong' dari pada 'mikir', wkwkwk, karna kayanya kalo "mikir" berat banget) Well, gue sering bengong kosong gitu dan ehem, balik lagi nanya2 ttg arti hidup. Ngeliat hidup gue akhir-akhir ini. Apa yang udah gue lakukan dan ketakutan-ketakutan gue ttg masa depan. Dan hari ini, hmm, mulai dari kemarin sih, mikirin ttg kesia-siaan hidup yang ujung2nya karena manusia mesti ngadepin maut.

Diawali dengan postingan path seorang temen yang lagi berduka karena sahabatnya meninggal, pas gue liat fotonya, hmm, anaknya cantik, testimoni orang2 pun bilang kalo dia merupakan orang yang ramah, baik. Baru lulus juga loh. Gue gak kepo lebih lanjut meninggalnya karena apa. Terus, tadi pagi, di berita juga rame dengan kematian seorang anak perempuan yang punya keahlian belasan bahasa berbeda. Anak ini juga merupakan delegasi Indonesia untuk suatu pertemuan internasional. Anaknya brilian lah pokoknya dan masih sangat muda.

Gue.... bertanya.. Gue yang gak punya apa-apa.. belom ngapa-ngapain... yang ngga bisa banyak ini... kapan matinya? Gimana.. kapan.. dimana.. entahlah...

Kematian gue nanti bakal punya makna yang sama dengan kedua orang diatas ngga yah?

Semua manusia pasti, pasti, pasti akan kesana. Banyak atau sedikit yang mereka lakukan. Besar atau kecil jabatan mereka.

Akhirnya, kalau hidup tidak untuk berjuang dan ikut kehendakNya, lalu apa itu hidup?

"Mati itu mudah. Kehidupan yang mempersulitnya" -Annie Lennox

10/23/14

Dia

Memiliki 5 orang saudara tidak serta merta mengajarkannya untuk menjadi teladan yang baik bagi 5 manusia yang keluar dari rahimnya. Mungkin 5 manusia yang keluar dari rahimnya hanya dianggap sebagai makhluk bebas yang hanya sementara dia kenal dan temui. 5 orang yang keluar dari rahimnya tidak pernah diperhatikannya sedemikian rupa. Dia hanya peduli akan dirinya sendiri. Apa yang menjadi kesenangannya akan terus dia lakukan.

Dia tidak peduli. Dan tidak akan pernah.

Dia tidak mengenal penderitaan sebab sedari kecilnya dia berkecukupan, bahkan berlebihan.
Dia tidak kenal mencari. Dia hanya mampu dimengerti.

Dia tidak kenal gagal karena berusaha pun dia payah.

Entah siapa dia. Mungkin dirinya sendiri pun tak tahu.

10/9/14

"I believe in hate at first sight"

Picture taken from Instagram; sarcasm_only

LOL! I got that sarcasm sentence from the acc of sarcasm_only on IG! emang bener2 deh sarcasm is one of my favorite languages!
I'm not a nice person and  a good pretender. I express what I feel. I might hate you. I might don't like the way you act without any reason. Why so? Hm.. Because I just don't. People might think that I'm a negative thinker, well I don't mind it anyway. Gue sempet kepikiran untuk jadi orang yang bisa menyenangkan (bagi) banyak orang, tapi ternyata makin tua (tua bukan dewasa, capek ah kalo harus sok2 pake kata dewasa, standar dewasa orang2 toh beda2 kan....rrr.. anyway..) makin gue sadarin kalo hidup tuh luar biasa kompleks dan juga luar biasa simple. Yeah, life is a paradox! Biarpun gue gasuka dengan berbagai macam ilmu perbintangan atau yang nge-hits dibilang horoscope pula fortune-teller, pun ilmu tentang kepribadian (since I believe that everybody is unique and changing, why? kalo dia ga berubah maybe he's a walking dead :p) AAAANNYYYWAAAAYYY.. Jangan terganggu dengan jalan pikiran gue yang super ngasal ini yahh.. Ini kan blog pribadi gue. LOL

Balik lagi, biarpun gue ga suka dengan horoscope-horoscopean, ada yang bilang kalo kelabilan atau personality gue yang kaya koin dua sisi ini akibat bintang gue yang gemini. Gue ga terima sepenuhnya. Yes, gue ga terlalu suka waktu orang (sok) ngedescribe diri gue.  Sok kenal. Hey dude, are u sure you know me that well? Bahkan kadang gue kaya hidup di badan orang atau minjem otak orang lain. Huahahah. Nah, rempong kan. Gue kadang ga yakin sampe kapan gue gak terlalu kenal apa mau gue dan alasan2 dari tindakan gue sebelumnya. Bukannya gamau mikir, tapi karena pikiran gue suka berubah2. Bahaya? Asyik kok kadang. Ga bosen. Tapi ya gitu, agak bingung, tapi lagi... karena rutinitas kan menyebalkan, jadi jadi jadiiii, menjadi orang yang beda2 kadang bikin lo amazed juga loh. 

Kelabilan kaya gitu lumayan sering terjadi. Apalagi kalo ketemu atau kenal orang baru. Gue pengen sih yah bisa langsung nyaman sama orang, langsung klop, tapiiiiiiii, liat manusianya dulu sih. Ada yang bacotnya gede kosong banget kaya kenalan di pesparawi kemaren, ya bye bye sih yah. Nyanyi kaga, suara ilang, berenti bacot ngga mau. Sayangnya gue males tangan gue lecet, pengennya sih langsung gue bekep mulutnya. Wakakaka. 

Ribet ngga sih harus bertopeng2 ria sementara perasaaan lo lagi amburagul bahrewey? Iya sih ada yang bilang kita juga mesti jaga perasaan. Tapi.. capek.. Hahaha. Makanya kenal banyak orang pun sebenernya ga asik2 banget. Jadi orang yang menyenangkan ga selamanya bikin seneng. Jadi orang yang menyebalkan pun ngga selamanya nyebelin. Huahaha. Life is simply complex. 
Eventually gue mutusin untuk jadi diri gue apa adanya. Gue mungkin ngga berteman dengan banyak orang. Tapi, (untungnya) gue masih punya sahabat beberapa biji, yang tanpa gue harus bilang maaf bisa gue bacotin ini itu secara naik-turun. Wakaka..

Well, cukup dulu deh sarkas pagi ini. Semoga hidup bisa kompromi sama sikap gue yang labil ini. Gak ngarep dimengerti sih, paling ngga, jangan ngeribetin aja. Lah gitu.. Wahaha. Yaudah CIAOBELLA!

10/7/14

PSMKK UI (Paduan Suara Mahasiswa Kristen-Katholik Universitas Indonesia)

Seperti judulnya (jadi ini tulisan deskriptif nih njel?!) Ya gak gitu2 banget sih.. Toh, di tulisan2 sebelumnya ketauan banget lah kalo gue free styler abis. Wkwkwk. Anyway, agak narasi juga sih. Gue pengen ceritain terbentuknya PSMKK UI ini.

Well, kaya di postingan sebelumnya, gue ikutan lomba PESPARAWI Mahasiswa Nasional XIII di TMII tgl 28 September-3 Oktober 2014 yll. Fyi, dengan penuh kelegaan gue gajadi conductor loh. It's Mas Adji eventually.. Kecewa? NOO! Baru kali ini gue ngerasa lega ketika ada suatu "pembatalan". God wanted me to do something else. Not as a conductor but as a singer. God really knows that I can't do it FOR NOW (maybe later when I am ready enough..). Tadinya mau bagi dua sama mas Adji, gue nge-conduct gospel, beliau nge-conduct sacra dan folklore. Tapi pas jeng-jeng hari H, gue nyerah dan nyerahin semuanya ke Mas Adji aja :"") Aaand it's the best decision I ever made! :') (Considering that I am not a good decision maker huft)

Selama lomba, (harusnya) kami di karantina di sebuah penginapan, tapi karena bocah-bocah itu masih ada kelas yang sama sekali ga bisa ditinggalin atau dibolosin, akhirnya banyak juga yang bolak-balik penginapan. Gue yang (paling)tua ini stay selama lima hari itu di penginapan Srimanganti. Gak pulang-pulang. Gak bimbingan. Huft.

Okey deh, sekarang mau cerita dulu serpihan-serpihan cerita yang masih gue inget. 
Day 1 PESPARAWI itu adalah kategori musica-sacra. Kami menyanyikan 3 lagu dengan judul "Also hat Gott die welt geliebt" Heinrich SchΓΌtz, "Exsultate Deo" arr by Javier Busto, dan "Ave Maria" masih dari Javier Busto. Gue akuin, pelatih kami sangat concern dengan kategori yang satu ini.bisa dibilang persiapan sacra lebih dari 60 persen, sementara dua kategori lainnya dia lebih santai. Sampe-sampe di hasilnya pun bener2 nunjukin gradasi dari persiapan itu sendiri. (kami dapet 3 silver -__-) lumayan lah untuk yang perdana ikutan pesparawi, walaupun perolehan score-nya juga gak bagus2 banget. Hahaha. Btw, dengan persiapan kurang lebih 50 hari dan menggarap 7 buah lagu tuh bukan perjuangan gampang. Gue pun officially masuk tim tuh h-2. Jadi, no wonder temen2 yang udah persiapan setahun menjadi grand championnya. 

Di kategori spiritual-gospel kepercayaan diri kami mulai drop. Bayangin aja, h-10 jam baru fix segala koreo lalala. Jadi, setelah perform pun, ekspresi kami bener2 beda dengan peserta sebelumnya yang sangat puas dengan apa yang baru aja mereka tampilin. Selepas turun dari panggung, kami bener2 kicep. Hahahaha. Ngga ngarep banyak, asal jangan jadi urutan terakhir aja lah. 

Daaann.. di hari terakhir yaitu folklore. Hari itu bener2 makin tipis lah harapan kami. Men.. fix segala-galanya aja baru jam 2 pagi. Yasudahlah yaahhh.. Hahahhaha.

Biarpun bisa dibilang kami gagal untuk maksimal.. Tapi hal ang gue bener2 syukurin adalah kebersamaan yang terjalin selama kurang lebih sebulan ini khususnya 5 hari karantina di Srimanganti.

Biarpun mereka semua umurnya lebih muda dari gue, entah kenapa gue ngga ngerasa canggung sama sekali malahan makin nyambung untuk memposisikan diri. Baik ke cowo atau cewe. Karna secara gak langsung mereka me'nyuhu'kan gue. Huahahaha! I love singing that much so I don't care with whom I work with.. :) I feel okay. Kayanya bahkan gue lebih nyaman untuk temenan sama orang-orang yang lebih tua. Meenn.. temen2 gue sekarang mulai kerasa deh tuwirnya. Ngomongin nikah, punya anak, berkeluarga, climb position, dan sebagainya... sementara bagi gue itu masih kapaaaannnn banget. Maklumlah, masih itungan mahasiswa, udah mulai agak beda pola pikirnya. Bukannya ga punya visi, tapi gue bukan orang yang terlampau idealis juga sampe kehidupan yang lagi berjalan sekarang ini gak gue "hidupin". Anyway, secara gue juga (hampir jadi) pembina remaja di gereja, gue juga PKK 2 kelompok kecil di kampus, dan gue seneng sama anak kecil bikin gue lumayan awet muda dan cepet nyambung ke anak2. Terserah mau dibilang karna gue childiish atau sebagainya Yang penting gue seneng gue bisa mingle sama orang2 muda dan ngga ngerasa canggung. (iya ngel, redundant deh. Wkwkwkw)

Di malam pengumuman cuma gue, Chiyo, Itin, Deve dan Widya yang dateng. Mendengar, score demi score, urutan demi urutan posisi grup kami. Huahaha. Sbenernya malu2in banget sih UI, tapi apa mau dikata, cuma segitu yang bisa kami kasih, yaahh dibawa happy aja deh. Toh merengu juga ga bawa perubahan kan..

Di grup gue iseng dengan ngrimin mereka beberapa video pengumuman yang ngga berisi urutan UI, niatnya sih supaya mereka juga penasaran, tapi ternyata makin ngamuk tuh gegara kuota pada jebol dan dah pada ga sabar. Biarin ajah, toh kita juga perjuangan dateng ke Sasana Kriya malem2, malem minggu pula. Eh... Hahahah. Selepas malam itu, kami semua masih kontak2an di grup. Itin mengubah nama grup menjadi PSMKK UI, karna emang campurang Parg*t, Kuksa dan PO. Semoga kekeluargaan di anatara kami tetep terjaga. Gue bilang sama mereka "jangan ada yang ninggalin grup yah, next job lu pada mesti nyanyi di acara martumpol gue" Huahahaha, calonnya aja belom ada -> see?! gue aja topiknya udah begituan hapff -__- kalo kata aChrista "emang udah umurnya sih" huahahahah.

Ini beberapa foto kami selama latihan, Technical Center dan Competition days



video

Latihan koreo "Music Down..."

 Technical Center Minggu, 28 September 2014 abis yang cewe2 latihan make-up

 Sook intelek banget padahal as karantina cuma buka bentaaarr -__- with Christa Parengkuan



Acara Ibadah pembukaan PESPARAWI Mahasiswa Nasional XIII bersama teman2 dr Papua



D-DAY!
paling atas kategori Musica-Sacra
tengah kategori Spiritual Gospel ("Witness"  & "Music Down In My Soul" by Moses Hogan)
bawah Folklore ("Janger" by Avip P & "Ondel-ondel" by Joy T. Nilo)

yang ini hari terakhir dari kamera foto booth jadi rada hi-res :p

Dan banyak foto lagi yang udah kami up load via google drive :D

9/25/14

Mungkin aku sengaja

Mungkin aku sengaja tidak peduli akan kesulitan mereka dan menganggap semua (akan) baik-baik saja.
Mungkin aku sengaja menahan mereka untuk terlepas dari beban yang ku berikan 2 tahun belakangan ini.
Mungkin aku sengaja menahan senyum mereka saat ku selesai nanti.
Atau bukan lagi mungkin tapi sudah memang begitu. Aku ini si jahat. :'(

9/22/14

Tepisan

Aku kembali membuka akun Soundcl*ud dan mendengar senandung2 yang pernah kukulik bersama mereka.. Beberapa diantara mereka memang jago sangat di musik. Terutama untuk alat akustik.
Aku senang bersenandung. Sendiri. Juga diiringi. Dan lebih senang ketika mereka yang mengiringi. Tidak perlu yang sangat handal untuk bisa terbuai dalam nada dan hidup dalamnya. Cukup bersama mereka, aku sudah merasa sangat senang.

Mereka adalah anak-anak yang sangat ku kasihi. Bertemu dengan mereka melenyapkan penat dan suntukku. Bukan karena aku bisa dengan leluasa bercerita (memang aku sangat percaya dan nyaman menceritakan segala sesuatunya dengan mereka) tapi lebih karena hatiku sudh terlampau nyaman dengan mereka. Mereka yang dulu, ya dulu, sangat sering dalam tangkupan tanganku. Mereka yang dulu selalu dalam pikiranku. Sampai sekarang masih sering. Hanya, ego ini begitu jahat, nama mereka tidak hilang. Tidak akan pernah. Ego ini perlahan merenggut semua semangat dan potret senyum mereka yang ada dalam sanubariku. Singkat kata., aku rindu mereka, anak-anak kelompok kecilku...

9/19/14

Pesparawi 2014

Belakangan ini gue lagi asik sama kegiatan baru. Namanya pesparawi. Go googling tuk tahu kepanangannya. wkwkw.
APA? SKRIPSI LO GIMANA NGEL?

Ya..ya... ya... emang itu yang diributin sama orang rumah.. Diributin juga sama otak gue kok. Komitmen gue utk skripsi emang gampang banget goyah. Emang gasuka banget sama hal-hal rutin nih :(

Anyway, ajakan ikutan pesparawi ini sih dari Juwita. Mereka sebenernya udah latihan lebih dulu, daaann tau apa posisi gue di padus ini? CONDUCTOR MEEN! Merinding gak coy? Waktu itu dateng2 gue udah langsung ukur baju ajee.. otomatis ngga boleh mundur lagi deh nih... :"

Kok bisa conductor??

Emang mokat (modal nekat) banget sih gue untuk bilang "iya".. Tapi.. mau gimana lagi.. Otak lagi korslett.. Jadi, kan kaya gue bilang, mereka udah latihan dari beberapa minggu sebelumnya, nah mereka juga baru dapet kabar kalo conductor mesti dari mahasiswa juga.. Jadi deh pada kelimpungan nyari orang baru. Entah kenapa si Juwita centil ini kepikiran gue, huahaha, mungkin karena dulu gue pernah ngajarin doi nge-conduct kali yah.. Padahal itu mah basic banget. Gak kaya Mas Adji (pelatih kami di pesparawi ini) doi mah udah kelas master -____- gue aja sampe planga-plongo kalo lagi ngeliatin doi nge-conduct, udah macem balerina aja di depan sana.. Huft.

Tapi, yang menarik, Mas Adji ini bener2 "pelatih" banget deh.. Enak banget ngelatihnya. Doi kan juga katanya pelatih P*ragita tuh, paduan suara mahasiswa di kampus gue yang udah malang melintang ke berbagai negara, katanya sih emang diantara pelatih2 p*rgit, doi yang paling baik, ga pernah ngomong kasar, gak kaya pelatih lainnya. Dan emang bener, dia bener2 sabar banget ngelatih kami. Dia juga ga nganggep sepele gue yang sebenernya dibawah standar sepele :"3 He convinces me a lot to do this crazy thing! Actually, this is not my fist time to stand there over the stage and to be a conductor, yet it was not for a competition!

Mas Adji ngajarin pattern2 (yang ini sebenernya gue udah tau), dan berbagai cara nge-conduct lainnya, hal2 apa yang perlu gue perhatiin, apa gyg mesti gue lakukan saat gue gatau apa yang mesti gue lakukan. Kuncinya dia bilang, yaudah lakukan aja. Hahahahahahah!

Hmm.. kesulitan gue adalah to persuade that team to follow my willing!! Mereka masih terpengaruh Mas Adji banget. Yaiyalah.. Wong Mas Adji kalo lagi nge-conduct asyik banget gitu jadi wajar aja kalo masih kebawa stylenya mas Adji. Tapi beliau bilang nanti akan nyuci otak mereka utk ngikut gue aja. Huahahah.. Daaaaann..kesulitan kedua adalah, ya gue ngga percaya diri aja. Ya keleus abis di conduct sm Mas Adji yang super wow tiba2 di conduct gue, I know they do not expect me to do that thing better than him tapi malah sebaliknya. Hiks. Tapi sabodo, Mas Adji udah bilang kalo gue banyak latihan dan belajar, gue bakal bisa kok. Yang penting dipersiapkan dan dihadapin. MAU NGGAK MAU!

Oya, ternyata dia juga alumni FIB. Pas gue tanya angkatan berapa, doi kaga jawab katanya udah tua lah pokoknya. Eh, kata anak2 P*rgit sih angktn 87. Wew, pantesan aja kaga mau nyebut hehehehe.. tuwir juga yah. Hahaha.

Anyway, he is a good friend and teacher. Dia bener2 guru bukan cuma karena jauh lebih banyak tahu tapi karena dia MAU ngasih tahu semua ilmunya :") Bener2 dapet ilmu gratis nih coy. Semoga aja bisa diinget2 sama otak gue yg udah mulai kusut ini. Hari gini gak banyak orang kaya mas Adji, yang emang berilmu, beneran jago, tahu dan mampu yang mampu berbagi dan ngga nganggep orang lain gak berarti. So, I am really blessed that I know him and get taught by him :) Pas ngobrol beliau bener2 hangat, ngga sombong dan kaku. Ketauan banget pengen kitanya maju dan tampil oke. Asyik banget deh. Danke und GBU, Mas Adji! :)