5/5/14

Mengke

Pak, bumi-Mu ini makin hari makin gila saja.
Aku tahu Kau telah melihatnya. Makin kacau, bukan?
Di jamanku sekarang, Pak, makin banyak yang tidak beres. Otaknya, hatinya, perbuatannya.
Ada yang korupsi, mengambil harta orang lain. Dasar mereka serakah. Gila harta. Kapan yah mereka mati terkubur dalam timbunan harta mereka? Aku berdoa semoga itu tidak terjadi bagi mereka yang masih bisa dilem hatinya. Hatinya udah jebol. Keinginannya udah terlalu banyak.
Ada juga yang menyukai sesama jenis. Mungkin pikir mereka yang paling penting adalah hasrat seksual. Peduli bangsat bila itu tidak memiliki fungsi reproduksi. Ngeseks hari ini, tidak peduli besok-besok akan ada keturunan atau tidak. Yang penting aku senang, aku puas. Ada juga yang kawin-cerai seakan sumpah di depanmu hanya perjanjian biasa yang bisa habis kontrak. Masa bodo dengan hati anak-anak mereka. Toh, yang menjalani hari depan ya anak-anak itu sendiri. Dasar keparat. Apa yang mereka pikirkan ketika dulu berencana berumah tangga? Menghaslkan bibit-bibit yang bersedia disakiti mungkin yah. Tapi tahu ngga, Pak? Aku bukan manusia yang berbeda dari mereka. Aku bukan juga korban. Aku pun pelaku kekejian itu.
Kau sedih, Pak? Kau tahu kalau aku sedih juga? Bingung juga. Kesal juga.. Aku hidup di angkatan seperti itu pak. Mau-Mu pasti supaya aku bisa berbeda kan, Pak? Semua itu termasuk mau-mu sangat menyebalkan, Pak..

Tapi, saat ini yang paling menyebalkan adalah orang-orang yang sok tahu ini, Pak. Makin hari makin banyak saja. Baru saja tahu, tapi sudah merasa yang paling tahu. Paling menguasai. Paling benar. Paling bijaksana. Padahal bodoh. Dasar menyebalkan. Merasa sudah mengalami, lalu dengan mudah mereka menghakimi.

Dasar mulut besar. Dia heran kalau aku tidak sebesar dia mulutnya. Dia heran kenapa ada hal yang tidak kuceritakan kepadanya. Mungkin otak ciutnya itu mikir kalau semua orang seperti dia, bisa menceritakan apa saja. Padahal sebenarnya ceritanya pun tak bermutu. Lalu, haruskah seperti dia? Setelah aku menutup mulut. Aku ingin tutup telinga dan mataku saja, Pak. Mereka akan tetap menggangguku gak yah?

Pak, aku capek. Aku gak punya apa-apa. Kalau memilikiMu adalah cukup. Lalu, boleh aku bersamaMu saja?