5/8/14

Selamat hari jadi, Ayahku terkasih..

Depok, 7 May 2014

Di dalam rasa bersalah aku berdoa untukmu. Aku ga peduli kalo doaku itu tertujuan kepada Dia atau dia, atau siapapun dia yang kata manusia beriman memiliki kuasa. Aku hanya merasa menyebut namamu dalam kalimat-kalimat itu membuat aku seakan melihatmu, walau itupun tidak cukup.

Pak, tepat kemarin kau hidup di dunia selam 55 tahun. Entah berapa tahun lagi yang ku punya untuk membanggakanmu, membuatkanmu rumah putih kecil yang punya halaman, seperti yang kau impikan (walaupun kau tidak pernah memintanya), kemudian menambahkan taman atau kebun untuk kau kerjakan (karena memang itulah hal yang kau senang lakukan). Tanaman dirumah bukan Mama yang mengurusinya, bukan juga aku atau yang lain. Kau yang merawatnya. Sangat telaten. Kau perhatikan. Kau pelihara. Bahkan kadang aku sampai bosan kalau kau menyuruhku menyiraminya ketika kau tidak sedang dirumah.

Kau mencintai tumbuhan makanya (mungkin) kau pilih teknik pertanian. Kau mencintai lingkungan makanya kau mengusahakan LSM yang bergerak dibidang pertanian rakyat dan hutan di Sumatra sana.

Pak, aku ingin ketemu bapak dan berdoa bersama mengucap syukur untuk hari yang kita dapatkan. Sudah. Itu semua sudah kulakukan ketika pergantian hari menuju hari ulang tahunmu. Tapi.. sendirian. Aku ingin melakukannya bersama keluarga kita. Bersama-sama..

Sayangnya ada monster itu. Aku bukannya takut kepadanya.
Sekalipun aku harus terbunuh, tidak masalah. Sakit di hatiku lebih payah untuk sembuh dibandingkan sakit di kepalaku lampau hari karena kelakuannya.

Kau tidak suka keributan. Kau pasti langsung sakit kepala jika sekitarmu ribut. Pagi-pagi benar kau terbangun sementara seisi rumah masih sangat lelap tertidur. Kami tidak mendengar apa-apa tapi Bapak merasa sangat terganggu karena mereka yang sedang memanggil tuhan mereka. Gerutumu "sejauh apa sih tuhan mereka itu?!". Aku sangat ingin melihatmu tenang dalam damai.

Mati? Dipanggil Tuhan?
Entahlah, pak. Dulu sempat aku memikirkan hal itu. Aku bilang kepada adik-adikku di UI kalau aku yakin kalaupun kau mati, pasti kau langsung ke sorga dan bersenang-senang. Membayangkannya sedikit membuatku lega.

Tapi kalau sekarang aku diperhadapkan pada kondisi seperti itu, aku sangat yakin aku tidak akan lega. Bahkan mungkin cenderung gila.

Bapak adalah sosok yang sangat berharga dihidupku.
Setiap kali aku gagal, wajah Bapak dan mama menjadi obat yang paling ajaib untuk kembali membuatku semangat.
Sayangnya, terlalu sering aku gagal. Bukannya karena kalian tidak berhasil mendidikku. Tapi karena aku sendirilah yang tidak mau belajar. Aku anak yang paling kurang ajar. Maafkan aku, Pak. Maafkan aku, Ma..

Semoga kalian selalu mendapat damai di hati.
Semoga tetap sabar juga menanti keberhasilanku.


"Aku mengucap syukur kepada Dia setiap kali aku mengingat kalian.."

Salam sayang,
A.R.E.S