11/2/14

Marah.

Ini merupakan pilihan yang sering diambil manusia setelah merasa kecewa. Emosi yang meletup-letup adalah salah satu kelemahan saya. Bagi teman-teman yang sudah mengenal saya dengan baik, meninggalkan saya sendirian dan tidak mengulangi kesalahan yang sama merupakan cara untuk meredakan emosi saya.

Saya tidak perlu dan tidak peduli dengan kata maaf dan bujuk rayu dari orang-orang yang mengesalkan hati saya. Jika mereka makin banyak bicara, saya malah makin tidak percaya mereka bisa berubah. Saya tidak suka diumbar janji, makanya saya lebih suka hal yang secara random bisa saya kerjakan. Planning, saya sangat mengandalkan perencanaan yang matang, tapi kalo pada akhirnya hanya menjadi wacana yang sia-sia, bisa lama sekali saya akan dongkol dan tidak peduli dengan eksekusi selanjutnya. Lebih baik bilang "tidak" di awal, mungkin saya akan sedikit kecewa, tapi hal itu tidak akan lama. "Tidak" bukan berarti dia tidak sanggup dan tidak mau. "Tidak" membuat saya lega sehingga tidak perlu menunggu dan berharap.

Kadang Tuhan pun memberikan jawaban "tidak" karena ada hal yang lebih baik dan yang lebih layak bagi kita. Dia tidak memberikan harapan-harapan yang mengecewakan. Tidak perlu juga saya menunggu karena hanya akan buang waktu. Ketika Tuhan jawab "tidak", memang terkadang saya masih berharap. Tapi lebih baik untuk taat dengan jawaban yang lain yang (pasti) lebih mengesankan.

Mungkin juga "tidak" ketika saya minta agar Tuhan bantu seorang yang saya kasihi agar dia bisa berubah dan berhenti dari kebiasaan jeleknya. Harusnya dia sendiri yang minta agar Tuhan ubahkan karakternya yang beringas itu. Dalam doa kami yang sudah di titik pasrah, kami diingatkanNya bahwa doa bukan lah cara untuk mengubahkan situasi, tapi hati orang yang sedang berdoa. Kierkegaard punya. Saya dan ayah saya mungkin di"hadiahi" manusia bebal ini agar kami bisa makin sadar, bahwa Tuhan ingin kami tidak egois. Kami peduli padanya. Tapi saya sangat membenci perilakunya. Tuhan tidak menjanjikan perubahan karakternya, tapi Tuhan kasih karakter berserah dan sabar kepada kami. Bapak sudah berhasil sedangkan saya, emosi yang meletup-letup masih sering menjadi pilihan (yang salah).