11/20/14

Mendengar.

Ketika aku dipercaya untuk mendengar suatu cerita bahkan rahasia, aku bahagia. Aku tahu itu bukan talenta terbaikku. Mendengar butuh kesabaran, butuh kelanjutan (follow-up), dan butuh hikmat.
Maka, setiap kali teman memercayaiku untuk mendengar cerita mereka, aku berdoa dulu, karena aku tau betapa beratnya mendengar bagi orang sepertiku. Ajaibnya, Tuhan menolong. Aku pun suka didengar, walaupun aku sadar kalau aku tidak terlalu baik dalam berkata-kata. Sulit untuk mengatur pola bicaraku. Aku sering bingung menemukan kata untuk suatu ekspresi, suatu maksud. (Pernah) Ada di otak, tapi seringkali ketika ingin mengucapkannya, malah sulit sekali. Butuh pendengar yang sabar juga loh buat saya. Untungnya ada seorang sahabat yang benar-benar kurasa nyaman untuk menyampaikan kebodohan demi kebodohan pikiran dalam hati dan kepalaku. Putri. Dia sungguh diberkati Tuhan dalam talenta mendengar. Aku salut dengan kesabarannya dalam mendengar tiap cerita dari kami, para sahabat-sahabatnya yang ngga punya rem kalo cerita.

Anyway, aku sendiri masih belum sebaik Putri dalam mendengar. Walaupun ada beberapa teman yang memang kutahu rahasianya, tapi waktu mendengarkan mereka, kadang aku masih ngga bisa nahan ekspresi bosan ketika ngobrol langsung. Di telepon, aku terkadang masih belum fokus dan ngga netral. Aku, orang yang sulit untuk percaya ini, serig terganggu pikiranku sendiri yang mempertanyakan kebenaran informasi yang disampaikan pencerita itu kepadaku. Aku masih sering mengernyitkan dahiku tanda apakah itu hanya opini belaka atau memang begitu adanya. Tapi, aku ingat kalau mereka butuh didengar, perasaan mereka perlu dihargai. Masalah mereka mungkin tidak bisa langsung selesai, tapi satu hal yang kupelajari; mereka butuh teman, penolong yang rela untuk menjadi "tempat sampah" penat mereka. Entah kau setuju atau tidak akan pendapat mereka, mereka hanya lega ketika mereka berbagi beban.

Ya, berbagi beban. Sadar atau ngga, ketika kau dipercaya, tak seutuhnya mereka hanya ingin bercerita, namun mereka pun ingin berbagi beban. Ekstrim sih kalo dibilang mereka egois. Aku juga pernah melakukannya. Anyway, aku tetap menikmati "peran" sebagai tempat sampah itu. Aku merasa diriku masih berfungsi sebagai teman yang bukan cuma ada waktu senang, tapi saat sedih, mereka percaya bahwa aku mau berdoa bagi mereka. Aku, yang kurang peka terhadap teman2, kini menjadi lebih bersyukur karena Tuhan kasih kesempatan untuk menjadi teman yang berguna bagi sekitarku.

Mendengar atau menjadi seorang pendengar memang tidak mudah. Tidak semudah mendengar guru atau dosen yang mengajar di kelas. Di kelas kita wajib, senang atau tidak senang, memperhatikan apa yang diucapkan pengajar, tetapi ketika mendengar sebuah masalah, aku belajar untuk bukan saja mengerti dan memahami, melainkan untuk turut merasakan perasaan mereka dan belajar bahwa hidupku tidaklah seberat mereka yang punya pergumulan. Aku belajar bagaimana mereka menghadapi, bagaimana mereka bergumul melewati waktu-waktu sendiri, mereka bertahan, dan sikap dan prinsip-prinsip hebat yang mereka pelajari selama proses bergumul. Merasa terbeban setelah mereka bercerita? Aku terbeban untuk mendoakan dan menjaga rahasia mereka memang. Tapi, itu bukan hal yang sulit. Aku tidak suka jika ceritaku diumbar, maka aku ngga melakukannya.

Mengapa kuping diatas mulut? Karena mendengar lebih penting dibanding berbicara.