11/26/14

Tangki Kasih

Kosong. Tangki kasih di dalam hatinya kosong. Bukan cuma dia, sepertinya orang-orang yang berada di sekitarku tangki kasihnya sedang kosong. Sehingga ketika masalah datang, bukan jalan keluar yang ditemui, melainkan permasalahan lain.

Aku sedang membaca sebuah buku terjemahan milik ayahku mengenai 5 bahasa kasih untuk pasangan berumah tangga. So, what's up Ngel? Entahlah. Aku sedang merasa keluarga ini tidak mengerti bahasa kasih, sehingga aku berusaha mencari tahu sendiri secara teori. Alkitab tidaklah kurang, tapi karena implementasinya terlihat cukup real ditambah karena penulisnya adalah seorang konselor perkawinan, maka aku penasaran membacanya. Bukannya baca jurnal untuk skripsi.... Aku muak. :( Aku pikir toh baik juga membaca buku ini. Daripada dibaca ketika masalah sudah tiba? Toh baik untuk persiapan kan? :p

Ada istilah yang menarik yang dipakai penulis untuk menggambarkan kondisi hati tiap anggota keluarga yang (sering) mengalami masalah. Tangki kasih. Bagaimana cara mengisinya? Perlu usaha dari masing2 pasangan dan anggota keluarga. Perlu usaha. Perlu daya. Bukan diam dan menyerah.

Baru saja aku mendengar Mama menelepon Ompung di Medan yang mengadukan kelakuan nakal Panca. :( Entah kenapa, sebenarnya bukan tanggung jawab opung untuk mengasuh Panca. Itu adalah tanggung jawab kami. Tanggung jawabku juga. Tapi karena dulu aku tak berusaha, maka sekarang inilah hasilnya. Panca harus jauh dari kami. Dia yang tangki kasihnya telah kering kerontang malah harus berada di bawah asuhan opung yang tak jauh berbeda kondisi tangkinya. Atau malah tangki kasih beliau sudah bocor.. Kenapa begitu? Karena menurutku diisi oleh siapapun tidak diterimanya. Lalu bagaimana mau mengisi tangki kasih Panca?? Ya. Itu yang aku sesalkan. Panca malah menerima asupan kata2 kasar dan tuduhan yang menyakitkan hati dari Ompung. Sama seperti yang dialami Renhat ketika dulu juga tinggal bersama beliau. Bedanya, Renhat tidaklah nakal sama sekali, sehingga sekarang hubungan dengan Opung tetap baik. Dia cukup dewasa dengan menganggap perlakuan Ompung yang demikian merupakan bentuk ketidakmapanan karakter Ompung sebagai pengasuh. Sedangkan Panca? Dia benar-benar sendirian menghadapi sikap kasar Ompung disana. Ompung bukanlah orang yang lemah lembut. Kata-katanya sering kasar. Begitu yang kudengar dari orang-orang korban sakit hati karenanya. Eh, tidak. Aku pernah mendengar sendiri bagaimana penatua di salah satu gereja ternama di Medan itu memaki menantunya sendiri dengan sebutan, ah sudahlah, aku tidak ingin menambah kerusakan namanya.

Ompung baik. Hanya jika pada orang yang menuruti maunya. Sesimple itu kerumitan hidup bersamanya. Dari orang-orang egois seperti itu, aku dan saudara-saudaraku belajar bahwa mereka dibolehkan 'ada' di hidup kami untuk kami boleh jadi orang yang makan hati  sabar dan mengampuni. Lantas kenapa kau tetap menuliskan hal buruk tentang Ompungmu disini?

Itu bukan hal buruk. Ada hal-hal yang menurut saya perlu diketahui orang untuk belajar. Saya harap Ompung bisa cukup dewasa menerima bahwa beliau merupakan contoh yang baik untuk orang lain belajar agar tidak menjadi orang sepertinya. :) Saya ataupun orang-orang disekitarnya tidak pernah sanggup untuk memberi tahu Ompung betapa pentingnya kelemahlembutan dan mengampuni. Ada orang seperti Ompung saya yang sulit untuk menerima bahwa hidup tidak sepenuhnya milik dia dan sesuai dengan maunya. Aku harus belajar menerima bahwa patron hidup saya sepenuhnya adalah Tuhan. Sumber tangki kasih saya dan semua manusia adalah kasih dariNya. Sumber selanjutnya adalah orang sekitar dan selanjutnya adalah usaha kita sendiri untuk melakukan hal yang telah dilakukan Yesus.

Saya masih menanti kesempatan dimana Panca bisa merasakan kembali penuhnya tangki kasih di dalam hatinya. Aku kerap menelepon dan mengiriminya sms. Walaupun sepertinya sudah terlambat, aku tetap melakukannya. Adik kecil yang sedari bayi telah kurawat dan kujaga tetaplah menjadi adik kesayangan yang kutitip dalam doa kepada Bapa. Bapa menjaga erat dirimu. Ku yakin Bapa telah siapkan masa depan yang baik bagimu, adikku sayang.