11/27/14

My grown up Christmas List

One of my favorite Christmas songs. It's not abt the ritual celebrations like the common Christmas songs. There's still hope for every people in need if we do really care. I don't mean that other Christmas song aren't good, but I found this song teaches me that Christmas isn't about the gift, Santa, reindeer, or anything that brings a temporal joy. No, it's not. Christmas is about perpetual hope and joy for all human. So, here's my grown up Christmas list. Not for me, but for those who need nothing but love and help. :")

Kelly Clarkson- My Grown Up Christmas List with Lyric

Source: https://www.youtube.com/watch?v=h1TTnPdZOZI

11/26/14

Tangki Kasih

Kosong. Tangki kasih di dalam hatinya kosong. Bukan cuma dia, sepertinya orang-orang yang berada di sekitarku tangki kasihnya sedang kosong. Sehingga ketika masalah datang, bukan jalan keluar yang ditemui, melainkan permasalahan lain.

Aku sedang membaca sebuah buku terjemahan milik ayahku mengenai 5 bahasa kasih untuk pasangan berumah tangga. So, what's up Ngel? Entahlah. Aku sedang merasa keluarga ini tidak mengerti bahasa kasih, sehingga aku berusaha mencari tahu sendiri secara teori. Alkitab tidaklah kurang, tapi karena implementasinya terlihat cukup real ditambah karena penulisnya adalah seorang konselor perkawinan, maka aku penasaran membacanya. Bukannya baca jurnal untuk skripsi.... Aku muak. :( Aku pikir toh baik juga membaca buku ini. Daripada dibaca ketika masalah sudah tiba? Toh baik untuk persiapan kan? :p

Ada istilah yang menarik yang dipakai penulis untuk menggambarkan kondisi hati tiap anggota keluarga yang (sering) mengalami masalah. Tangki kasih. Bagaimana cara mengisinya? Perlu usaha dari masing2 pasangan dan anggota keluarga. Perlu usaha. Perlu daya. Bukan diam dan menyerah.

Baru saja aku mendengar Mama menelepon Ompung di Medan yang mengadukan kelakuan nakal Panca. :( Entah kenapa, sebenarnya bukan tanggung jawab opung untuk mengasuh Panca. Itu adalah tanggung jawab kami. Tanggung jawabku juga. Tapi karena dulu aku tak berusaha, maka sekarang inilah hasilnya. Panca harus jauh dari kami. Dia yang tangki kasihnya telah kering kerontang malah harus berada di bawah asuhan opung yang tak jauh berbeda kondisi tangkinya. Atau malah tangki kasih beliau sudah bocor.. Kenapa begitu? Karena menurutku diisi oleh siapapun tidak diterimanya. Lalu bagaimana mau mengisi tangki kasih Panca?? Ya. Itu yang aku sesalkan. Panca malah menerima asupan kata2 kasar dan tuduhan yang menyakitkan hati dari Ompung. Sama seperti yang dialami Renhat ketika dulu juga tinggal bersama beliau. Bedanya, Renhat tidaklah nakal sama sekali, sehingga sekarang hubungan dengan Opung tetap baik. Dia cukup dewasa dengan menganggap perlakuan Ompung yang demikian merupakan bentuk ketidakmapanan karakter Ompung sebagai pengasuh. Sedangkan Panca? Dia benar-benar sendirian menghadapi sikap kasar Ompung disana. Ompung bukanlah orang yang lemah lembut. Kata-katanya sering kasar. Begitu yang kudengar dari orang-orang korban sakit hati karenanya. Eh, tidak. Aku pernah mendengar sendiri bagaimana penatua di salah satu gereja ternama di Medan itu memaki menantunya sendiri dengan sebutan, ah sudahlah, aku tidak ingin menambah kerusakan namanya.

Ompung baik. Hanya jika pada orang yang menuruti maunya. Sesimple itu kerumitan hidup bersamanya. Dari orang-orang egois seperti itu, aku dan saudara-saudaraku belajar bahwa mereka dibolehkan 'ada' di hidup kami untuk kami boleh jadi orang yang makan hati  sabar dan mengampuni. Lantas kenapa kau tetap menuliskan hal buruk tentang Ompungmu disini?

Itu bukan hal buruk. Ada hal-hal yang menurut saya perlu diketahui orang untuk belajar. Saya harap Ompung bisa cukup dewasa menerima bahwa beliau merupakan contoh yang baik untuk orang lain belajar agar tidak menjadi orang sepertinya. :) Saya ataupun orang-orang disekitarnya tidak pernah sanggup untuk memberi tahu Ompung betapa pentingnya kelemahlembutan dan mengampuni. Ada orang seperti Ompung saya yang sulit untuk menerima bahwa hidup tidak sepenuhnya milik dia dan sesuai dengan maunya. Aku harus belajar menerima bahwa patron hidup saya sepenuhnya adalah Tuhan. Sumber tangki kasih saya dan semua manusia adalah kasih dariNya. Sumber selanjutnya adalah orang sekitar dan selanjutnya adalah usaha kita sendiri untuk melakukan hal yang telah dilakukan Yesus.

Saya masih menanti kesempatan dimana Panca bisa merasakan kembali penuhnya tangki kasih di dalam hatinya. Aku kerap menelepon dan mengiriminya sms. Walaupun sepertinya sudah terlambat, aku tetap melakukannya. Adik kecil yang sedari bayi telah kurawat dan kujaga tetaplah menjadi adik kesayangan yang kutitip dalam doa kepada Bapa. Bapa menjaga erat dirimu. Ku yakin Bapa telah siapkan masa depan yang baik bagimu, adikku sayang.

11/21/14

IDK

Tadi malam aku bingung bagaimana menanggapi kondisinya. Apa memang ada yang salah dengan dia? Bukannya wajar jika mengalami tekanan kalau tidak semangat? Entahlah. Mungkin aku ngga netral. Mungkin aku terlalu empati kepadanya. :"( Mungkin aku masih berharap ada yang berbeda. Anyway, aku senang. Dia masih mau terbuka. Meskipun mesti gatau malu dulu untuk memancingnya buka mulut. Tapi, memang begitu kata orang-orang, harus sabar.. Aku cuma ingin dia lebih baik. Dan ternyata benar. Dia sedang tidak baik. Aku terlalu kasihan? Entah.

Aku berusaha untuk mendengar perlahan. Dia sering lupa untuk suatu hal yang katanya dirasa penting. Dia sangat biasa tapi dia pun tidak terduga. Dia biasa saja menceritakan apa yang dia rasakan. Seperti tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Lalu kenapa orang-orang itu khawatir? Dia juga begitu sangat tidak terduga karena hal kecil bisa sangat berarti baginya. 

Aku ini hanya seorang teman. 
Jika lebih, aku takut akan berbeda. 
Jika lebih, aku takut dia tidak biasa.
Jika lebih, aku takut dia perlahan berubah.
Jika lebih, aku takut dia terduga.
Jika lebih, aku takut dia pergi..
Aku lebih takut jika dia tidak ada...

11/20/14

Mendengar.

Ketika aku dipercaya untuk mendengar suatu cerita bahkan rahasia, aku bahagia. Aku tahu itu bukan talenta terbaikku. Mendengar butuh kesabaran, butuh kelanjutan (follow-up), dan butuh hikmat.
Maka, setiap kali teman memercayaiku untuk mendengar cerita mereka, aku berdoa dulu, karena aku tau betapa beratnya mendengar bagi orang sepertiku. Ajaibnya, Tuhan menolong. Aku pun suka didengar, walaupun aku sadar kalau aku tidak terlalu baik dalam berkata-kata. Sulit untuk mengatur pola bicaraku. Aku sering bingung menemukan kata untuk suatu ekspresi, suatu maksud. (Pernah) Ada di otak, tapi seringkali ketika ingin mengucapkannya, malah sulit sekali. Butuh pendengar yang sabar juga loh buat saya. Untungnya ada seorang sahabat yang benar-benar kurasa nyaman untuk menyampaikan kebodohan demi kebodohan pikiran dalam hati dan kepalaku. Putri. Dia sungguh diberkati Tuhan dalam talenta mendengar. Aku salut dengan kesabarannya dalam mendengar tiap cerita dari kami, para sahabat-sahabatnya yang ngga punya rem kalo cerita.

Anyway, aku sendiri masih belum sebaik Putri dalam mendengar. Walaupun ada beberapa teman yang memang kutahu rahasianya, tapi waktu mendengarkan mereka, kadang aku masih ngga bisa nahan ekspresi bosan ketika ngobrol langsung. Di telepon, aku terkadang masih belum fokus dan ngga netral. Aku, orang yang sulit untuk percaya ini, serig terganggu pikiranku sendiri yang mempertanyakan kebenaran informasi yang disampaikan pencerita itu kepadaku. Aku masih sering mengernyitkan dahiku tanda apakah itu hanya opini belaka atau memang begitu adanya. Tapi, aku ingat kalau mereka butuh didengar, perasaan mereka perlu dihargai. Masalah mereka mungkin tidak bisa langsung selesai, tapi satu hal yang kupelajari; mereka butuh teman, penolong yang rela untuk menjadi "tempat sampah" penat mereka. Entah kau setuju atau tidak akan pendapat mereka, mereka hanya lega ketika mereka berbagi beban.

Ya, berbagi beban. Sadar atau ngga, ketika kau dipercaya, tak seutuhnya mereka hanya ingin bercerita, namun mereka pun ingin berbagi beban. Ekstrim sih kalo dibilang mereka egois. Aku juga pernah melakukannya. Anyway, aku tetap menikmati "peran" sebagai tempat sampah itu. Aku merasa diriku masih berfungsi sebagai teman yang bukan cuma ada waktu senang, tapi saat sedih, mereka percaya bahwa aku mau berdoa bagi mereka. Aku, yang kurang peka terhadap teman2, kini menjadi lebih bersyukur karena Tuhan kasih kesempatan untuk menjadi teman yang berguna bagi sekitarku.

Mendengar atau menjadi seorang pendengar memang tidak mudah. Tidak semudah mendengar guru atau dosen yang mengajar di kelas. Di kelas kita wajib, senang atau tidak senang, memperhatikan apa yang diucapkan pengajar, tetapi ketika mendengar sebuah masalah, aku belajar untuk bukan saja mengerti dan memahami, melainkan untuk turut merasakan perasaan mereka dan belajar bahwa hidupku tidaklah seberat mereka yang punya pergumulan. Aku belajar bagaimana mereka menghadapi, bagaimana mereka bergumul melewati waktu-waktu sendiri, mereka bertahan, dan sikap dan prinsip-prinsip hebat yang mereka pelajari selama proses bergumul. Merasa terbeban setelah mereka bercerita? Aku terbeban untuk mendoakan dan menjaga rahasia mereka memang. Tapi, itu bukan hal yang sulit. Aku tidak suka jika ceritaku diumbar, maka aku ngga melakukannya.

Mengapa kuping diatas mulut? Karena mendengar lebih penting dibanding berbicara.

11/14/14

80 km/jam

Bisa ngga sih waktu balik ke jaman maba atau SMA aja, when everything seemed so good and easy :p Duh ngel, pagi2 udah ngeluh aja, katanya mau belajar bersyukur *anaknya short-term banget* Ngga, kok, itu tadi cuma random thought, tiba2 kangen masa2 itu doang, kalo disuruh ngulang lagi I'd say no.. :)

Anyway, have seen the title? What the meaning of the maksud? Wakakaka, udah lama banget bahasa itu ga kepake :p
Jadi, postingan sebelumnya which means yang saya tulis hari Senin, bilang kalo dua hari sebelumnya saya pergi keluar dari penatnya Jakarta. Hari Sabtu ke Curug Nangka dan Hari Minggu saya ke Puncak bareng ex-pengurus PSPO! Terkhusus yg kerja bareng saya plus Dee. Biarpun Dee bukan anak buah saya, tapi karena hubungan yang cukup dekat dan udah lama juga ga quality time bareng Dee, jadi dengan sangat riang hati saya ajak Dee ber-sweet escaping :)
Awalnya sih gara2 saya nge-post foto ultahnya Josua, terus si Monic komen dan ngajak ketemuan. Setelah hari itu, saya sempat bertemu dengan Monic dan ngobrol-ngobrol, makin kuat keinginan untuk bertemu dengan mereka. Maka, via whatsapp dan media lainnya, saya menghubungi mereka (Josua, Dee, Monic dan Agnes). Seperti biasa, perubahan2 rencana dan personil yang berhalangan pasti terjadi ditambah keinginan pribadi saya yang gamau main di Jakarta-jakarta doang :p pastinya butuh angkutan pribadi dong. kurang asyik kalo ngangkot kannn.. Lagipula, waktu nanyain Putri dan minta rekomendasi tempat, dia ngasih tau sebuah resto baru di daerah Puncak Pass. Waktu melihat foto tempatnya dari google dan blog, emang bagus sih tempatnya. Saya pun berniat untuk membawa rombongan ex-pengurus PSPO kesana. Lalu setelah rencana ini itu dan Puji Tuhan akhirnya semua personil lengkap, maka Sabtu malam saya menginstruksi mereka untuk tidur cepat dan gereja pagi-pagi besok. Puji Tuhan juga nh Josua bisa bawa mobilnya. Dia bawa Kijang lama peninggalan almarhum bapaknya. Hm, dia agak takut sih untuk dibawa jauh. Tapi daripada ga bawa mobil sama sekali, ya kami pasrah aja. Heheheheh *anaknya bebal*

Saya, Dee dan Agnes bertemu terlebih dahulu tanpa diketahui Monic dan Josua karena kami mau membeli kue ulangtahun untuk mereka. Yap. Ulang tahun mereka berdua memang sudah lewat. Monic 5 Oktober dan Jos 26 Oktober, tapi kan perayaan bisa kapan aja. *ngeles* Hehehehhe
Jadilah kami (apalagi saya) kucing-kucingan dengan Josua dan Monic yang bertanya2 saya sudah dimana dan dimana meeting pointnya. Maka, setelah semua persiapan ulang tahun mereka beres, kami memberitahukan meeting pointnya. Huh hah. Panas banget loh siang itu di depan Mall Margo City.
-_-" Tapi demi kebersamaan yang gak bernilai harganya ini, kami merasa senang-senang aja :))
Here we go! Akhirnya ketemu sama Jos (yg kaget dengan kehadiran Agnes, karena emang tadinya Agnes bilang gabisa ikut, tapi Puji Tuhan bisaaaaa, dan Jos gatau kalo akhirnya Agnes ikut :p) dan Monic yang duduk disamping Jos, dan sebelum berangkat, kami melakukan perayaan kecil2an itu di mobil. :D

Kami menempuh perjalanan selama kurang lebih 2 jam. Titik2 macet arah puncak gak terelakkan. Tapi, biarpun gitu, kami menikmatinya dengan berbagai candaan, kegalauan, cekikikan terutama ceng-cengan yang membawa nama seorang senior dari FT jur.elektro angkatan 2008 :p Namanya, jangan disebut deh mendingan.. Karma bisa datang -_-

Nah, tiba di tempat yang kami tuju dan agak deg-degan dengan kondisi Kijjie, nama panggilan sayang untuk mobil super yang mengangkut kami, perut udah mulai demo. Wah, tempatnya emang bagus, tapi ga sebagus foto2nya sih. Hmm.. Mungkin karena yang ngambil foto jago dan keadaan saat itu cukup rame. Nama tempatnya adalah Nicole's Kitchen and Lounge.

Disana kami segera memesan makanan yang kami sudah tau bahwa menu disana kurang bisa diandalkan merujuk kepada beberapa review di blog-blog yang saya kunjungi. Ya, kami udah siap sih dengan resiko itu. Slogan kami adala "Yang penting resto fancy dan taking photos layaknya anak jaman kekinian" :p

Agak kecewa sama pelayanan mereka (yang ini juga udah ada di beberapa review mengenai resto ini). Seorang mbak2 menyapa kami dan membereskan meja kami bertanya "itu kue ulang tahun ya mbak?" Kami pun menjawab "iya" sambil tersenyum. Lalu, karena saya pikir pelayan ini cukup ramah, lantas saya bertanya apakah boleh meminjam piring piring2 kecil yang anehnya dia bilang "maaf, ngga bisa" IDIIIHHHH! Saya sama yang lain otomatis langsung lihat2an. Lah, buat apa lo nanya kalo ngga bisa minjemin piring doang mennn.. Basa basi doang?!! >:(( Sayangnya pelayan situ ngga pake nametag jadi ngga bisa dicatat atau diaduin deh nama mbak2nya. Setelah dia membereskan meja untuk kami dan memberikan menu, dia pun meninggalkan meja kami dan kami segera nyinyir ala inang2. Wkkwkw. Kzl!
Kami melihat2 menu, eh maksudnya memilih2 menu. Seperti yang udah kami wanti2, ga terlalu expect banyak untuk rasa atau bahkan pilihan. Standar lah. Yang istimewa dan ala mereka pun hanya nasi goreng. Menu itulah yang dipilih driver kami, Josua :p Dia bilang kayanya dengan besarnya tenaga yang terkuras, menu ecek2 ga bakal nampol. Meja kami kembali dihampiri oleh seorang pelayan perempuan, kali ini dia yang akan mencatat pesanan kami. Saya yang masih penasaran kembali menanyakan tentang piring kecil kepadanya, daaannn yang terjadi adalah "oh iya boleh mbak, nanti kami antarkan.." Wiihhhh, doi ramah banget dan dasarrr angel tukang paksaaaa.. Well, it's one of my best talents tho ;p

Sambil menunggu pesana kami diantarkan, kami mulai berkeliaran ke zona outdoor untuk melihat2 view pegunungan :) walaupun terhalang kabut serta awan, tapi kegagahan gunung masih dapat tertangkap mata :) 

 lagi nungguin Monic dan Agnes beli cemilan sembari Jos ngisi bensin :p

 Ini kue untuk birthday girl and birthday boy,kami beli di Breadtalk Margo. Sayngnya makanan kami terlalu mengenyangkan dan udah dingin cakenya jadi kurang nampol :3


 Full-team! :)
 Ala2 model Puncak dulu satu2. In frame: Monica
 Me :D
 Agnes Banurea
Dee timeee

here they are, the birthday girl and birthday boy. wishing them a very happy life forever :D

never ending photo session of the gurllsss :p

Narsis, yes we are. Kami masih punya ratusan foto lagi yang unyu2, tapi mending di keep utk konsumsi pribadi aja deh. :p Kebanyakan cyin.
Untuk makanannya sendiri, as I've told ya many timeeesss.. service dan rasa es-te-de be-ge-te. Bahkan makanan gue yang gue lupakan apa namanya ngga ada rassa apapun! Maaf Tuhan, bukannya ga bersyukur, tapi beneran hambar. :"3 Tapi saya habiskan kok, thinking of the needy and the poor made me stronger to devour all that tasteless meals. Makanannya Jos yang cuma nasgor aja 30 menit lebih bok. Duh, kalo yang ga sabaran udah mencak2 kali. Jos pun bilang kalo rasanya biasa aja. Enakan nasi goreng tektek yang lewat. Teurs yang parah juga si Monic mesen Buble Chocolate yaaangggg kemasannya asdddghgjkrdiurjh bener2 ngga niat. Kata Monic "Aku perasaan pesen Ice Buble Chocolate deh bukan es cincau :p" Here the picts of our foods...
fettucine blala mushroom yang gue bilang rasanya hambar.... -_-
btw, harganya bukan yang paling murah tapi rasanya ga berbumbu.. huft

ini punya Dee bolloignase apa gitu pake2 cheese gitu. Ini lumayan lah. kelihatan daari warna aja ga polos2 banget kaya makanan saya kan. Tapi tetep se-tan-dar wae kaya ditempat lain...

ini apa yah, gue lupa pesenannya Monic.. Hmm, ini juga mending sih, sekali lagi patokan mending adalah dibanding makanan gue -_-

Nah, ini juga yang paling kacau dari restoran itu. Kemasannya bener2 dibawah standard. Gapaham lagi kenapa ngga ditaro di gelas yg lebih classy. Padahal tempatnya udah mayan fancy... Ckckckck
Ini pesenannya Agnes ada tuna2nya gitu. Agnes gasuka tunanya malah katanya --"
Ini dia nasi goreng khas Nicole's yang lamanya naujubile kaya nungguin jodoh -_- Rasa? Josua told us that it's below standard....

Akhirnya habis juga kaan. Kalo ngga, harus tanggung jawab ke berjuta jiwa yang belom bisa makan dan kepada Tuhan.. Hmm..

Setelah makan, karena tempat waktu itu ramai, mau ngambil foto pun agak malas. Jadinya kami putuskan untuk pulang. Dan sebelum pulang ritual foto bareng pun kami sempatkan degan minta pertolongan mbak2 pelayan, ehh dapetnya yang malesin juga. Huft. 


Sesaat keluar dari parkiran, hujan rintik2 hingga lebat toba2 turun. Kami gagal ke Taman Bunga :( Dann sesuatu yang agak kami lupan pun terjadi. Sekitar menjelang maghrib ketika kami keluar dari Taman Bunga, mobil Kijjie mogok. To. Tal. Total. Aku yang duduk di depan disamping Josua sontak langsung saling bertatapan pasrah. Hahahahaha. Hujan. Mogok. Di tengah jalan. Bener2 gamau nyala loh Kijjienya. Padahal kami udah dorong. Eh ngga, pertamanya aku dulu tuh yang dorong. Sendirian... ==" Karena payung cuma satu. Lalu, ketika hujan agak berenti, Jos mencoba untuk cari pertolongan ke Pos TNI itu. Duh, ngga kebayang gmana kalo cewe2.Jos bener2 gerak cepat banget dan ga lama2 diam. Dia sibuk nelpon2in bengkel langganan.. Nelponin temen2nya yg ngerti mesin.. Tapi nihil.. :"(  Puji Tuhan saat itu mogoknya di deket kantor TNI gitu. Kemudian seorang Bapak menunjukkan bengkel kpd Josua. Setelah tau tempatnya, Josua yg ergi naik angkot beberapa menit kemudian kembali lagi ke mobil. 

Kami berempat perempuan2 tangguh mendorong Kijjie ke tukang bengkel. HUBAH!! Tiba di bengkel tsb, dan dengan upah 50 ribu akhirnya Kijjie kembali "bernapas". Puji Tuhan. Beberapa kali ketika kami tidak tahu harus ngapain, kami bersatu dalam doa. Kami sadar betul kami ngga mulai perjalanan dengan baik. Kami pun "ngecengin" seorang teman tanpa henti. Lalu ketika pulang kami pun tidak berdoa. Tuhan rindu disapa.... Sampai akhirnya Kijjie kembali menyala, kami datang kepada Tuhan, bersyukur, minta ampun dan minta penyertaan-Nya. Kami belajar untuk ngga sembarangan dalam bertindak dan bertutur. Bener2 pengalaman yang luar biasa. Gak bakal bisa kulupain. Terimakasih Tuhan untuk kebersamaan dan pengalaman rohani yang luar biasa mengajarku :") I love You, God... 
Harap2 cemas menanti bapak bengkel membereskan beberapa part.. Josua udah diomelin seisi rumah karena membawa Kijjie ke Puncak. Disitu saya benar2 merasa layak utk disalahkan tapi bingung mau bagaimana..

Menjelang hidupnya sang Kijjie kembali dan membawa kami pulang dengan selamat :") 
Meskipun hanya bisa maksimal 80 km/jam, tapi kami sangat berhutang budi dan bersyukur punya Kijjie :"3 Terimakasih Josua dan Kijjie... Terimakasih, Tuhan...



11/10/14

(Akhirnya) Mengunjungi Curug Nangka, Bogor

Selama dua hari kemarin, saya me-recharge mood saya dengan "menghasut" beberapa teman ke tempat yang jauh dari ibukota. Puji Tuhan kesampaian.

Jadi, ceritanya hari Jumat saya benar2 udah di titik didih panas akan kehidupan rumah dan kota Jakarta. Bukannya tidak bersyukur utk kehidupan yang telah Tuhan sediakan, tapi adakalanya mood ini gabisa di-prediksi dan kadang malah stres sendiri. Penyebabnya tentu saya sudah tahu. Dan karna udah terlalu penat sendiri, saya mengajak teman2 gereja saya untuk pergi ke air terjun di Bogor bernama "Curug Nangka". Sebenernya, saya udah pernah hampir kesana beberapa bulan yang lalu bersama Ellis, ya hampir.....Kami tiba terlalu siang dan hujan turun, jadinya perjalanan ke poin terakhir ga bisa kami lanjutkan. Petugas penjaga atau semacam kuncennya menyuruh kami untuk segera turun karena akan bahaya jika meneruskan perjalanan. Kami patuh, kemudian turun. Dan benar, sebentar saja kami berbalik badan, hujan deras mengguyur. Maka kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan di lain waktu. Saya masih sangat penasaran gimana rasanya sampai disana. Nah, mumpung otak lagi random, yaudah deh saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan malah tadinya berniat sendiri kesana. Tapi kok, kalo dipikir2 saya belom siap untuk pertualang sendiri. HAHAHAH. Untungnya, biarpun mendadak bgt, (saya umumkan rencana saya jam 10 malam) ada Putri yang "murah" untuk menemani saya ke Curug Nangka.

Naik kereta api pkl. 6.30 pagi dari St. Tebet, kami tiba sejam berikutnya di St. Bogor. Perjalanan kami lanjutkan dengan menumpang angkot 02 yang menuju Mall BTM dan disusul angkot 03 yang melewati pemberhentian Curug Nangka. Ada 2 pos untuk masuk dan berbayar. Total tiket masuknya Rp. 15.500. Sekitar 30 menit saya dan Putri berjalan kaki santai menuju Curug Nangka. Jadi, ternyata ada 3 poin yang biasanya menjadi destinasi pengunjung, tapi saya cuma ingat Curug Nangka, karena namanya lumayan susah untuk lidah Batak saya :p

Sewaktu berjalan ke arah Curug Nangka, kami melewati sebuah track berair dan barbatu namun sangat eksotis :") Saya sangat suka suasana sepi, udara segar dan cahaya yang meresap lewat pepohonan yang kami lewati saat itu. Indah bangeeeetttt.. Kami pun harus lumayan hati-hati ketika melewati track tersebut karena batu2 besarnya ternyata kurang begitu stabil.

Turun dari angkot, menuju pos liket, ada beberapa spanduk serupa dipampang di depan vila2yang beroperasional :p Jangan coba2 yaaaaaa ;;)

Setelah pos pertama, menuju jalan berbatu dan menanjak, akan menemukan jalan yang sudah diaspal beserta pohon2 yang bikin kita berimajinasi sbg bagian dari keluarga "Cullen Twilight" -_-


Ini merupakan spot favorit saya selama perjalanan yang saya sebut tadi eksotis. Mong-omong, asyik juga loh utk photo-shoot prewed, karena cahayanya romantis bangett :3 <3


dilihat dari jauh udah cantik banget :'3


Cahayanya gak main2 cantiknya...



Akhirnya sampai di tujuan, CURUG NANGKA! XD

We challenged ourselves to take a natural shower... Brr.. It as more challenging than an ice bucket challenge!! We did it! xD

Putri took lotsa great pictures of me. She has a good sense of angle-ing :p She's been my fav photographer! :D




Nah, itu dia beberapa foto dari ratusan yang kami ambil. Hhahahah. Air dingin yang bikin kepala super adem jadi bagian terindahnya juga :D Aku puaaaaaasssssss :D Sebelum naik angkot 02 ke bogor, kami mengisi perut dulu di warung makan yang rasanya bener2 manjain lidah. Menu ampela, sayur singkong, kentang balado dan ikan tuna sambel bener2 maknyosss. Bumbu2 yang berani ala masakan Sunda bikin otak berenti mikirin kesusahan hidup dan sibuk nebak2 "ini ibu pake bumbu apa sih" hahahah. Ternyata Putri pun memikirkan hal yang sama. Setelah makan dan membayar Rp. 16.000, kami pn menyetop angkot dan cus balik menuju rumah! Hati senang, perut kenyang, otomatis di kereta dengan mata lumayan ngantuk kami berusaha utk tetap terjaga dna ngobrol, karena takut kelewatan dan jaga barang. Puji Tuhan sampai di rumah sore-sore adem dengan aman. Yang saya senang juga adalah keluar dari shelter busway di depan rumah, hujan baru turun. Jadi saya tak perlu "menikmati" hujan dengan mutung di tengah jalan karena basah2an, tapi dengan nyaman "ngulet" di atas tempat tiduuuur dan dibawah selimut... Bzzztttt :D



11/2/14

Marah.

Ini merupakan pilihan yang sering diambil manusia setelah merasa kecewa. Emosi yang meletup-letup adalah salah satu kelemahan saya. Bagi teman-teman yang sudah mengenal saya dengan baik, meninggalkan saya sendirian dan tidak mengulangi kesalahan yang sama merupakan cara untuk meredakan emosi saya.

Saya tidak perlu dan tidak peduli dengan kata maaf dan bujuk rayu dari orang-orang yang mengesalkan hati saya. Jika mereka makin banyak bicara, saya malah makin tidak percaya mereka bisa berubah. Saya tidak suka diumbar janji, makanya saya lebih suka hal yang secara random bisa saya kerjakan. Planning, saya sangat mengandalkan perencanaan yang matang, tapi kalo pada akhirnya hanya menjadi wacana yang sia-sia, bisa lama sekali saya akan dongkol dan tidak peduli dengan eksekusi selanjutnya. Lebih baik bilang "tidak" di awal, mungkin saya akan sedikit kecewa, tapi hal itu tidak akan lama. "Tidak" bukan berarti dia tidak sanggup dan tidak mau. "Tidak" membuat saya lega sehingga tidak perlu menunggu dan berharap.

Kadang Tuhan pun memberikan jawaban "tidak" karena ada hal yang lebih baik dan yang lebih layak bagi kita. Dia tidak memberikan harapan-harapan yang mengecewakan. Tidak perlu juga saya menunggu karena hanya akan buang waktu. Ketika Tuhan jawab "tidak", memang terkadang saya masih berharap. Tapi lebih baik untuk taat dengan jawaban yang lain yang (pasti) lebih mengesankan.

Mungkin juga "tidak" ketika saya minta agar Tuhan bantu seorang yang saya kasihi agar dia bisa berubah dan berhenti dari kebiasaan jeleknya. Harusnya dia sendiri yang minta agar Tuhan ubahkan karakternya yang beringas itu. Dalam doa kami yang sudah di titik pasrah, kami diingatkanNya bahwa doa bukan lah cara untuk mengubahkan situasi, tapi hati orang yang sedang berdoa. Kierkegaard punya. Saya dan ayah saya mungkin di"hadiahi" manusia bebal ini agar kami bisa makin sadar, bahwa Tuhan ingin kami tidak egois. Kami peduli padanya. Tapi saya sangat membenci perilakunya. Tuhan tidak menjanjikan perubahan karakternya, tapi Tuhan kasih karakter berserah dan sabar kepada kami. Bapak sudah berhasil sedangkan saya, emosi yang meletup-letup masih sering menjadi pilihan (yang salah).

11/1/14

Bapak itu bilang begitu...

"Tidak semua hal bisa kita kontrol, yang paling mungkin untuk kita kontrol adalah reaksi kita..."

Tadinya setuju banget sama statement si bapak yang pernah kenalan di Rotunda waktu jogging bbrapa tahun yll, tapi setelah kejadian bego barusan, gue sadar banget, yang ngontrol reaksi gue bukan sesuatu yang bisa gue kontrol...

I just.. Hmmmmm I don't wanna grow up :(

Well, my teenage life's slowly turning into adult life. Sebenernya udah berjalan selama 3-4 tahun belakangan ini. Tapi entah kenapa masih ngerasa ngga ikhlas :(
Kemarin gue baru ke UI, utk ngerayain ultahnya Fia, tapi gatot. Akhirnya nemuin Monic, my sister in crime, dan cerita banyak hal selama 3 jam kurang lebih. Dari obrolan yang cukup "singkat" itu, gue ngerasa bener2.. duh. why life bcomes weirder?

Btw, itu postingan gue start tulis kemaren sebenernya which means sekarang udah hari Sabtu dan kemarin Jumat gue akhirnya jadi ngerayain ultahnya Fia dan quality time bareng Nika dan Berlin.. Seneng sih akhirnya bisa ketemu sama mereka. Oya ada Nicolas juga. Dateng2 dia malah bilang "halo kaka sombong..." rada jleb sih karena yaaa gue sendiri emang (sengaja) menghilang dari dunia luar sana... Tapi kalo pada akhirnya gue dapet julukan sombong... lumayan oh my gosh kan..:p

Well, cukup menegur sih panggilan itu dan gue jadi introspeksi diri sih segitu ngga pedulinya lagikah gue ke anak2 itu. Kemarin ada Pandya juga pas kami lagi makan di Kansas. Rada kaget juga ada Pandya. Hahaha. Dan seperti biasa dia pun nanya hal yang sama "Where have you been, kak?" Aint goin anywhereeee adikku... :"
Gue ngerasa bersalah sih ninggalin mereka gitu banget. Tapi, plis percaya aku ngga lupa dan ngga bakal pernah mau lupain mereka.. Gue cuma ngerasa ngga enak banget gabisa jadi teladan di hal akademis ini.. Ya aampun, PKK orang lain udah karejo, melanglang buano ke negri lainnyo, meanwhile gue disini masih stuck dengan urusan yang seremnya ngalahin kehidupan~~ Yes, lebay. Emang.

Anyway, that's why gue yang beberapa hari belakangan merhatiin kehidupan yang semakin lama semakin berat di tanggung jawab ini ngerasa kalo I just don't wanna grow up, yaampun jadi orang dewasa belom siap......... 20 something tuh bener2 ngga berasa banget perputarannya. Gue ngobrol sama Monic yang lagi magang di tempat sosial gitu, gue lupa namanya dan masa di awal2 gue nanya dia mana, eh awabannya mesti bnget "di tempat makan kak, #sendiri #jomblo #tapikubahagia"
Yak elah Monic..... -_- tuh kan Monic aja nadanya udah menjurus ke beban umur 20 sth yang cukup berat ya sodara... Pasangan Hidup. Entah kenapa, bagi gue sendiri itu masih di awang2 banget ya coy... Ya walopun mungkin itu becandaan aja bagi Monic, tapi setelahnya topik pembicaraan kami ya mengenai pergumulan Monic sih banyakan :p (ga mungkin gue publish) Intinya, gue amazed nih sama keseriusan Monic utk hal pehadete, *clappings* Kayanya emang dia pasca mahasiswa mikiriinya apalagi kalo bukan itu. Well, gue belom mikirin. Gue belom siap kehilangan temen2 gue. :( Gue belom siap utk beban yang lebih berat lagi. Gue masih pengen kerja sesuai yang gue pengenin. Gue pengen ngembangin diri lebih lagi. Gue masih punya banyak impiaaaaaannn. Intinya, gue masih selfish banget lah yahhh.. Masabodo. Gue pengen nikmatin masa muda gue. Ngga mau cepet2 tuwir yaoloooohh.. Wkwkwkwkw. *panik padahal ga diapa2in*

Hmm...kalo hidup harus berjalan sesuai dengan mau orang lain, pasti Tuhan sediain gue lahir pake remote, untungnya terlahir cuma ada 2 tangan kosong yang bisa dilipat utk bisa nanya maunya Tuhan, bukan mau atau standarnya orang lain. Bye!

the birthday girl

with my lovely akks <3