12/15/14

Menyelinap

Sepiku hilang
Rinduku bertambah
Hadir pula kesibukan baru
Bagi pikiran, juga bagi malamku

Egoku berkurang
Lelapku menunggu
Terjaga mendengar rengkuh napasmu
Bila hari berganti, akankah kau tetap begini?

Kau dan aku biarlah tetap disini

Cinta platonik yang apik
Bukan barang murahan
Bukan karena aku terlampau jual mahal
Bukan karena kamu kurang tampan
Ini untukmu, yang sempat-sempatnya menyelinap
Di sela-sela waktuku yang semakin sempit
Ke ruang kosong yang sudah mulai usang

Ini semua karena kamu dan untuk kamu


Jakarta, 15 Desember 2014

12/12/14

Mulut meleleh

Sebenarnya hari ini lagi ngga mood banget. Mungkin karena kurang tidur. Mungkin juga karena dibatalkannya janji oleh seseorang yang sudah terjadi dua kali. Atau yang paling akhir adalah karena kondisi rumah. Yap. padahal baru tadi malam ketemu sama Jane & Lifung utk nyegerin pikiran. Tapi, setelah dikit saja digesek, api ini langsung keluar. Dan. Seperti candaan tadi malam dengan Jane dan Lifung, kalau masuk neraka, mungkin yang dilelehin duluan dari anggota tubuh ini adalah mulut kami. Karena bener2 lidah ini berkuasa untuk menyakiti, baik orang lain dan diri kita sendiri. Sekian.

Natal Perkantas 2014 (Part 2)

Jakarta, 9 Desember 2014

Nah, triad pengajaran tersebut dikaitkan dengan eksposisi perikop ketekunan di kitab Ibrani tsb.

Setelah menceritakan mengenai latar belakangan penebusan dosa oleh imam besar dan Yesus Kristu, maka khotbah dilanjutkan ke ayat 22. Ketika sudah ditebus Yesus, kita tidak perlu perantara imam melainkan dapat bertemu langsung dengan Bapa melalui perantaraan darah Yesus dan Roh Kudus dengan "Iman". Ya Iman. Salah satu hal yang sangat berat untuk dimengerti karena memang rasio yang sangat terbatas ini tidak mungkin untuk membuktikannya. Makanya, sering iman disebut dengan "percaya baru melihat bukan melihat untuk percaya". Bu Ina, bilang kalo segala sesuatu yang tidak diawali dengan iman adalah dosa baik secara internal dan eksternal. Maksudnya? Nah emang nih pas diawal ini Bu Ina memaparkan beberapa pernyataan yang paradoks mengenai pernyataan iman dan perbuatan. Here what I can understand about being faithful internally and externally by Bu Ina..
Tentu dengan iman kita bisa masuk sorga. Tetapi, ditekankan bahwa butuh pembersihan dari dalam dan dari luar. Dua macam kekeristenan versi paling dasar adalah Kristen KTP dan Kristen sejati. Dimanaa bedanya? Masa gatau? :p Tentu bedanya adalah dimana Kristen KTP yg tidak menghasilkan buah dalam hidupnya. Tau dong kalo Yphanes sendiri mencatat bahwa orang yang tidak menghasilkan buah akan dibuang. DI.BU.ANG. (Yoh 15) Jadi sebenarnya adalah tidak mungkin bagi seorang Kristen KTP, yang imannya tidak berakar, akan bersama-sama dengan Kristen sejati untuk masuk sorga. Tapi iman bukan perkara masuk sorga atau neraka. Adalah iman yang sejati yang sekiranya memikirkan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik yang berasal dari Allah. (Mat 13:18-23 - Perumpaan Penabur). Lalu ditambah pula dengan pernyataan Yakobus bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati (Yak 2:26). Terakhir, mengapa iman penting disertai perbuatan adalah karena seseorang terlihat beriman ketika dia melakukannya, bukan mengatakannya as in pohon dikenal baik dari buahnya (Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid2-Ku, Yoh 15:8). Yah walaupun kita pun tau bahwa iman dan keselamatan itu semata2 adalah anugrah, pun Timotius berkata bahwa orang yang tidak berbuah pun dapat masuk sorga, tetapi pastinya menjadi orang Kristen tanpa menunjukkan karakter murid sama sejati seperti orang munafik bukan. Bu Ina menambahkan kalau perbuatan itu penting agar orang bisa melihat kemuliaan Allah lewat diri kita, agar Allah tidak dipermalukan. Seorang murid sejati terlihat bukan saat hari kemenangan saja, tapi ketika "berlatih".

Nah, itulah bagian pertama. Dimana kedatangan Yesus membawa peringatan untuk kita semakin beriman bertemu dengan Allah maha kudus. Namun seringkali iman kita naik dan turun. Kita sulit untuk melihat janji Allah makanya kita butuh Pengharapan.

2. Pengharapan
Pengharapan adalah sesuatu yang belum terjadi. Pengharapan menjaga iman kita. Seringkali kita gagal melayani, memuji Tuhan karena fokus kita adalah yang kasat mata. Kita merasa ngga dihargai, apa yang kita lakukan sia-sia karena semua itu ditujukan pada apa yang kelihatan. Manusia menekankan pada kehidupan saat ini sedangkan sebenarnya ada perspektif kekekalan. Paulus mengatakan apa yang kita alami di dunia ini, penderitaan, masalah, kesulitan ngga ada arrtinya dibandingkan kekekalan. Ada sebuah cerita yang dibawakan Bu Ina mengenai visi seorang buruh.

Di suatu tempat, buruh-buruh yang telah mengenal Yesus mengalami kesulitan pekerjaan. Kondisinya, jika ingin mendapatkan pekerjaan, buruh-buruh tersebut harus terikat di persatuan buruh. Saementara, buruh di perserikatan tsb melakukan yang tidak sesuai iman mereka. Maka datanglah buruh2 Kristen tsb kepada seorang Bapak gereja untuk menanyakan solusi. Bapak gereja itu malah balik bertanya, "Mengapa harus masuk perserikatan buruh?
Jawab mereka, "Agar bisa bekerja"
Bapak gereja kembali bertanya, "Mengapa harus bekerja?"
Dijawab pula, "Agar mendapatkan uang"
Ditanya pula, "Mengapa harus mendapatkan uang?"
kembali dijawab, "Agar bisa hidup."
Lalu ditanya, "Mengapa harus hidup?" DIlanjutkan dengan sebuah pernyataan, "Tuhan meminta kita bukan untuk hidup, tetapi untuk TAAT."

(Well, bagi saya pribadi mungkin itu agak ekstrim yah. Memang kita harus hidup toh untuk bisa mengerjakan keselamatan, Bagian ini masih bikin saya gak tenang sih... Anyway...)

Bu Ina melanjutkan pernyataan mengenai pengharapan tsb, beliau berkata bahwa tanpa pengharapan kita gabisa hidup. Makin ekstrim lagi beliau bertanya, pilih mana; memuliakan Tuhan atau hidup?

Itulah bagian kedua, yaitu kita butuh pengharapan sesuai dengan janji yang diberikan Allah yang setia.

3. Kasih
Berlanjut ke ayat 24&25 yang dikaitkan dengan Yoh 13:34-35.
Mengapa bagi Yesus yang paling besar adalah Kasih bukannya iman? Ternyata karena bagi Yesus hal yang paling NYATA untuk menunjukkan bahwa kita murid Yesus adalah dengan KASIH.

Pada Yoh 13:34, ada frasa 'perintah baru'. Perintah baru? Apanya yang baru? Oh ternyata artinya adalah saling mengasihi antar saudara seiman seperti kasih Yesus kepada kita yang begitu BESAR. Berbeda dengan mengasihi sesama yang artinya mengasihi diri sendiri. (Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri). Kesatuan didapat dalam kasih. Dengan saling mengasihi orang lain mengerti bahwa kita murid Yesus (dengan cara Ibr 10:24).
Kaarena itulah (seharusnya) tujuan hidup kita bukan untuk diselamatkan. Keselamatan adalah AWAL perjalanan hidup dengan ALLAH dan melakukan pekerjaan baik-Nya (Ef 2:10). Awalnya, apapun yang kita lakukan adalah dosa, tetapi sekarang kita melakukannya dengan iman dan kedatangan Yesus memampukan kita melakukan pekerjaan itu.

Jakarta,12 Desember 2014
Ternyata udah mau seminggu aja deh pending postingan Part 2. So, let's finish what's been started....


Well, selanjutnya melakukan pekerjaan baik antar kita sesama orang beriman adalah salah satu perintah Yesus. Namun, kita pun sering lalai. Hal ini telah terjadi pula di masa gereja mula-mula. Banyak orang yang malas bersekutu, berbagi, ibadah, dsj. Padahal sejak awal penciptaan Allah telah berfirman "Tidak baik, jika seorang manusia itu seorang diri saja." (Kej 2:18) Jika kita perhatikan, setiap Firman Tuhan utk penciptaan selalu "baik", barulah ketika manusia itu seorang diri saja dikatakan "tidak baik", berarti ada situasi serius dan gawat jika manusia seorang diri saja. Oleh karena itu dengan sigap Tuhan menjadikan seorang penolong, sehingga penciptaan itu menjadi sempurna. Jika tanpa penolong, manusia itu ngga bakal mungkin bisa melakukan tugas dari Allah.
Pentingnya memiliki komunitas ataupun relasi yang baik dengan sesama adalah karena manusia sering jatuh jika seorang diri, mudah jatuh dalam dosa. Hal ini yang sering dialami oleh seorang pemimpin juga. Contohnya adalah Daud. Kita bisa saja berpikir, "Daud saja bisa jatuh dalam dosa. Padahal kondisinya berbeda dengan kita. Jelas dia bisa jatuh dalam dosa krn dia adalah seorang pemimpin yang harus mengatur orang banyak. Otoritas Daud sbg seorang raja membuat dia tidak memiliki seorang yang lebih tinggi untuk dapat mengngatkannya.

Dalam kaitannya dengan keseharian jemaat, perlu kita syukuri jika kita masih punya pimpinan/boss/orang yang memiliki jabatan lebih tinggi daripada kita karna kita memang butuh untuk diingatkan, ditegur, diarahkan. Gesekan antar rekan kerja atau sesama pelayan adalah wajar karena kita bukan malaikat. Namun, di dalam kasih kita mampu untuk melayani Sang Raja. Demikianlah kelahiran-Nya bukan hanya membawa misi penyelamatan melainkan membawa kasih yang menyatukan manusia untuk dapat melakukan pekerjaan baik bagiNya.

Sekian.

Nb:maaf kalau ada hal-hal yang kurang "mengalir" hahaha. Dikarenakan catatan yag tidak lengkap serta memori yang terekam hampir seminggu udah mulai pudar, jadi yaahh, maklumin aja segitu adanya. Well, selamat melayani Allah lewat kesatuan kasih antar sesama. Tuhan memberkati.

12/7/14

Natal Perkantas 2014 (Part 1)

7 Des 2014.
Beberapa jam yang lalu (di laptop saya waktu menunjukkan pukul 1:08 pagi) saya bersama sahabat2 saya mengikuti sebuah ibadah perayaan Natal yang diselenggarakan oleh Perkantas. Temanya adalah "Yesus datang untuk mempersatukan kita". Pertama kali mendapat undangan terbuka tsb saya tidak begitu memerhatikannya karena saya pikir pasti acaranya akan seperti biasanya. Tidak terlalu tertarik untuk ikut karena beberapa alasan, saya pun memilih untuk mengatur jadwal bertemu dengan teman2 lama. Tapi, memang kehendak yang diatas lain, rencana2 tsb harus diurungkan dan ketika siang menjelang sore kemarin baru saya "iyakan" ajakan ke Natalan itu.

Janjian dengan Elles, sahabat saya yang mengajar di Global Language School yang kebetulan lokasinya satu gedung dengan acara Natal tsb, saya yang sedang tidak ingin segitu niatnya nongolin muka sendiri, berinisiatif untuk bertemu dengan Els dulu di kantornya. Setelah bertemu kami pun naik ke lantai atas dan disambut para usher yang salah satunya adalah Kare, salah satu sahabat kami juga. Acara belum mulai ketika kami tiba, masih penayangan slide kegiatan Perkantas dan sebuah kata sambutan dari BPC Perkantas.

Sekitar sepuluh menit kemudian MC pun mengajak jemaat untuk bersaat teduh dan memulai ibadah. Hmm, rindu ikut persekutuan yang "berkualitas" lumayan agak terobati lah. Dulu2 tiap Selasa deket kampus masih bisa rutin ikut PMKJ, Tapi sekarang, kondisi yang kaya gini, duh jangan harap deh persekutuan yang "menyehatkan", dapet makanan yang "layak" pun susyeehhh..

Nah, asumsi saya tentang firman yang bakal gitu2 aja pun segera sirna seiring dengan "Roh konsentrasi" yang merasuki saya. Pembicaranya memang terkesan kaku, deskriptif sekali diawal khotbahnya tapi ternyata, dengan pembawaan beliau yang tenang seperti air mengalir, saya perlahan tenggelam dalam khotbah beliau yang cukup bikin mikir :). Dimulai dengan latar belakang orang Kristen sekarang (re: kita) yang (mungkin) menghayati makna Natal dengan biasa2 saja terlebih karena kesibukannya sebagai pengurus, pelayan, atau yang berkaitan erat dengan persekutuan kampus atau gereja karena Natal yang identik dengan perayaan, ibadah dan lain2 membuat kurang meresapi makna Natal, kemudia khotbah dilanjutkan dengan gaya2 pembicara ala eksposisi "PA" seperti di kampus dulu.

Anyway, Perikop yang diambil adalah Ibrani 10:19-25. Perikop ini sendiri mengingatkan saya pada Ibadah Paskah UI tiga tahun lalu di Balairung, yang dibawakan Pak Parapak yg kebetulan juga hadir di ruangan itu (beliau inget gak yah pernah bawain perikop itu juga dulu? ). Hmm.. Dan saya sekarang sudah lupa apa isi khotbah Pak Parapak saat itu :p Yang saya ingat hanya moment harus sharing hasil Pendalaman Alkitab karena saya terlibat sebagai pelayan (singer) bersama Johannes dan Kak Ribka. Hm, Hasil PA saya sungguh luar biasa...singkat. Momen paling malu2in deh, karena belum ngerti gimana cara ber-PA yang baik.

Well, Ibu Ina yang jam terbangnya didunia khotbah sepertinya sudah tinggi ini, sangat menarik ketika memaparkan bagaiman jemaat mula2 melaksanakan ibadah perayaan mereka jaman dulu. Beliau memaparkan bahwa (berita) kelahiran Kristus di dua bagian Alkitab (P. Lama dan P. Baru) memiliki 2 hal tak tersirat yaitu Continuity & Discontinuity (adanya kesinambungan dan perubahan).
Di PL dikenal dengan penebusan oleh korban sembelihan yang dilaksanakan oleh para imam besar dalam ruang maha kudus. Pada saat "ritual" itu dilakukan, Imam besar tersebut harus diikat dengan tali sebagai maksud jika dia mati karena kena murka Allah dan tiada seorangpun yang dapat masuk untuk menjemput mayatnya ke ruang maha kudus tersebut, maka dibutuhkan tali untuk menarik keluar mayat sang imam yang berdosa tersebut. Pertanyaan yang berlanjut ke P.B adalah "bagaimana mungkin darah hewan bisa menghapuskan dosa manusia?". Oleh karena itu dibutuhkan darah seorang yang lebih tinggi otoritasnya dalam penghapusan dosa, yaitu darah Allah sendiri yang dikurbankan di kayu salib ialah darah Yesus Kristus. Demikianlah maksud dari kesinambungan dan perubahan penebusan dosa antar PL dan PB.

Kemudian, dalam konteks ibrani kali ini dibukakan 3 triad ajaran Kekristenan yaitu Iman, Pengharapan, dan Kasih.

-to be continued-