1/20/15

Belum sepenuhnya paham tentang kematian

Saya akan mengikuti sebuah acara diskusi buku dari salah seorang penulis favorit saya, Ayu Utami, mengenai spiritual kritis yang akan diadakan hari Sabtu tanggal 31 Januari mendatang. Seperti yang sudah saya ceritakan di postigan saya sebelumnya, saya lumayan tersihir dengan buka yang memiliki subtitle arwah dan doa ini. Mungkin karena bahasanya yang lumayan enteng, berbeda dengan buku-buku karya Mbak Ayu yang pernah saya baca seperti Manjali dan Cakrabirawa dan yang lainnya. Mbak Ayu bercerita mengenai "kepercayaan"nya akan arwah yang masih berada di sekitarnya yang tidak terlihat, namun ada keberadaanya. Saya sendiri lumayan "terbujuk" untuk kembali percaya dengan hal tersebut. Tadinya saya cuek dengan keberadaan "mereka", saya cenderung percaya akan keberadaan Roh Kudus dan teman-temannya dibanding makhluk-makhluk dengan bentuk aneh ataupun roh orang yang telah meninggal dan tak kasat mata seperti yang diceritakan Mbak Ayu. Jujur untuk dua hari pertama pasca membaca buku itu, saya mulai agak risih dengan pojok-pojok ruangan gelap di rumah saya sendiri. Antara risih dan takut sih sebenarnya. Namun nalar saya kembali mendominasi dan memilih untuk tidak menghiraukannya. Kalaupun ada, biarlah mereka, selama tidak diganggu katanya sih mereka gak akan balik mengganggu.

Mbak Ayu begitu menarik dalam "menghasut" pikiran saya, seseorang yang bisa dibilang pembacanya untuk lebih menghargai jam-jam doa saya dengan sang Khalik.. Ini bukan humblebrag, hanya saja saya memang cukup "memaksa diri" dalam menjaga hati dan pikiran saya yang sering "jatuh" ini dengan ngobrol dengan Yang Punya Hidup Saya. Anyway, yang saya tahu beliau ada sosok yang bekecimpung di dunia yang cukup "bebas" bukan sosok rohaniawan yang sering saya temui di sekitar saya. Tetapi, melalui buku ini, dia menceritakan perjalanan rohaninya yang malah menurut saya lebih jujur dibanding para munafik yang berada di sekitar gedung peribadatan. Dengan berdoa, yang dia definisikan sebagai "percakapan rohani", kita bisa menjumpai orang-orang yang tidak kita lihat baik yang hidup ataupun yang sudah tiada. Saya sendiri memakanainya seperti begini; saya bisa menyampaikan nama-nama orang yang saya kasihi, yang terbatas jarak dengan saya lewat doa saya titip nama mereka agar selalu dalam perlindunganNya, dan mengingat nama-nama orang yang telah tiada dalam perenungan yang cukup syahdu ketika bercakap-cakap dengan Tuhan lalu saya mohon kekuatan untuk mencontoh teladan mereka semasa hidup..

Saya pun sempat merasa "kosong" setelah membacanya, saya sempat ragu dengan kematian itu sendiri. Saya sempat bingung dan bertanya-tanya jika kematian menjemput, kemanakah saya pergi? Ditanam di suatu tempat? Lalu yang lainnya? Apa kelanjutannya? Kitab suci saya sendiripun tidak banyak membahasa perkara roh mati. Yang saya lumayan paham adalah akhir jaman dibandingkan mengenai roh orang mati. Anyway, keraguan itu sudah pergi juga kok. Terlepas dari kebutaan saya mengenai kematian, saya diajak untuk kembali percaya bahwa pada akhirnya, keselamatan yang saya peroleh lewat iman saya itulah yang membawa saya pada sebuah tempat yang disebut sorga. Lagipula, kalo bukan lewat iman kekristenan saya, apalagi yang bisa menjamin saya untuk selamat?

Selamat malam,
A