3/24/15

Budaya, Hutan Pohon dan Hutan Beton

Sabtu lalu saya mengunjungi museum yang terletak di salah satu tempat wisata terkenal Jakarta. Kalau tidak karena terpaksa, saya gamau kesana mengingat seorang rekan dari ayah pernah bercerita betapa busuknya pembangunan tempat wisata itu oleh anggota keluarga jalan kayu "wangi" yang sangat tersohor (kebusukannya) di negeri ini. 

Anyway, sembari duduk di bawah pohon rindang menunggu teman2 saya selesai mensurvey tempat tersebut, seorang ibu disamping saya bercerita bahwa beliau sedang mengajak kerabat2nya dari Cina untuk napak tilas di Indonesia, tanah kelahirannya. 55 tahun lalu mereka pergi ke Cina untuk menetap disana. Sekarang sudah rindu katanya. Maka, mereka menyempatkan diri berkunjung kembali ke Kalimantan Selatan dan Jakarta. Ibu yang bercerita tadi tidak ikut masuk ke dalam museum karena sudah terlampau lelah. Perjalanan ke pelosok Kalimantan Selatan kemarin hari sangat menguras tenaga karena jalan yang sangat rusak. Beliau bilang kerusakan tersebut karena banyaknya kendaraan2 besar proyek yang lewat tanpa adanya perawatan jalan. 

Ada dua hal yang ribut di pikiran saya. Pertama, saya merasa terpukau dengan keluarga ibu ini yang sebegitu niatnya mengunjungi kembali tanah kelahiran mereka, bumi Indonesia. Padahal, bisa saja mereka pergi ke tempat yang lebih prestis ketimbang Indonesia yang tanahnya mulai rusak tergerus pembangunan. Tapi toh mereka terlihat sangat semangat dan menikmati perjalanan tersebut walaupun kondisi tanah yang mungkin dulu sangat subur ini sekarang hampir mati akibat pembangunan yang malah destruktif. Kecintaan pada tanah Air tidak luntur dari hati mereka. Berbeda dengan saya (dan mungkin kebanyakan generasi saya) yang mulai kurang peduli dengan kampung halaman. Mungkin memang butuh jarak untuk bisa menumbuhkan rasa rindu. Karena seringkali apa yang kita miliki tidak kita hargai. Atau karena alasan saya yang kedua, budaya yang ada di hadapan saya adalah budaya senang2. Seperti yang sering2 ini terjadi di sekitar keluarga saya. Pesta demi pesta yang berkedok adat seringkali dimanipulasi hanya untuk pemborosan dan ajang pamer. Rela jauh pulang ke kampung halaman untuk merayakan pesta ulangtahun marga yang sebenarnya tidak terlalu penting. Jika demikian yang dinamakan menjaga adat dan budaya tanpa ada pendekatan dan kepedulian terhadap saudara-saudara yang mungkin untuk makan saja susah, mengapa jadinya adat sepertinya semakin menjauhkan bukan mendekatkan? Mungkin memang sudah begitu adanya,  manusia selalu berusaha terlihat ada dan yang tidak ada bukan dicari tapi disesatkan dalam wacana ke-sok tahu-an para penjilat keluarga. Ini yang membuat saya kurang menyukai budaya di masa ini. Bermanfaat tidak, bikin "enek" iya. 

Bagaimanapun, saya akui Indonesia memang indah. Begitu pula dengan Batak. Yang saya sesalkan hanyalah para praktisi sembrono yang tidak menjalankan budaya dengan hati yang tulus. Saya tetap percaya ajaran Batak memiliki kelayakan untuk dipelajari dan diteruskan. Saya senang dengan adanya penerusan marga yang menjaga relasi walaupun diteruskan secara patriarkal karena begitu sistemnya, namun tetap, untuk dapat mengasihi tidak memandang garis keturunan toh? Sistem yang dibuat manusia tidak sepenuhnya benar. 

Yang kedua adalah mengenai kondisi tanah di pelosok yang semakin parah kerusakannya. Kondisi ini juga baru saja dilihat langsung oleh mata ayah saya yang sedang mengunjungi kampung halamannya. Melalui statusnya, beliau bercerita ttg kerusakan alam di pemukiman sekitar danau Toba akibat pekerjaan sebuah pabrik. Yang ironis adalah banyak yang tahu bahwa pemilik PT tsb menebarkan beasiswa yang menjadi rebutan teman2 di kampus. Begitu mulia namanya bagi para akademisi pemburu beasiswa namun begitu hina di mata para penduduk yang mungkin saja merupakan kerabat para mahasiswa tersebut. Sungguh menyakitkan jika setelah mendapat beasiswa tersebut, lalu bersekolah, kemudian lulus, para mahasiswa tersebut malah kurang peduli untuk membangun tanah yang telah dirusak oleh penyandang beasiswa mereka tersebut. Tapi mau bagaimana lagi,memang begitulah yang sering terjadi. Kebanyakan mereka (mantan mahasiswa) masuk ke perusahaan serupa dan selanjutnya membangun berbagai moda transportasi berat yang semakin merusak lahan kehidupan penduduk perkampungan. Entahlah. Memang bukan salah mereka. Toh mereka pun hanya ingin melanjutkan kehidupan dan mengaplikasikan ilmu mereka. Saya hanya berharap lingkaran (si) setan ini tidak berlanjut apabila masih ada (mantan) mahasiswa yang benar2 kritis dan peduli akan nasib orang2 di perkampungan, yang hanya berusaha sekadar bertahan hidup dengan mengandalkan hutan pohon, bukan malah sibuk membangun lebih banyak lagi hutan beton yg dipersembahkan bagi para pemilik harta dan modal.