3/3/15

(HARUS!) Pakai uang sendiri!

Dulu waktu masih SMP full dibiayain orang tua kalau bepergian. Ya retreat lah, ya study tour lah, ya hang out lah..Tapi mulai SMA, sejak mutusin untuk ikutan kegiatan pecinta alam, aku berusaha menabung dari uang jajan untuk ikutan trip-trip naik gunung, rafting, navigasi, so on and so forth.. Yahhh, walaupun masih belum uang sendiri, tapi aku berusaha banget ngga minta mentah-mentah dari bonyok. Apalagi waktu itu nyokab belum berpenghasilan kaya sekarang. Bokap doang yang jadi tulang punggung keluarga. Jadi kebayang dong gimana stressnya bokap ane waktu itu. Sekarang sebenarnya masih tetap stres apalagi bokap udah ngga kerja dan gue BELUM LULUS-LULUS. OK, you can blame on me :"3

Anyway, tentang uang sendiri, aku nulis ini karena ngeliat postingan-postingan di IG berisi gambar-gambar petualangan para IG-ers baik di dalam dan luar negeri. Kangen banget bisa nge-trip jauh, jalan sampai kaki rasanya mau copot dan nikmatin pemandangan alam yang ngga bisa ditemui di Jakarta. Suasananya, udaranya, sensasi nahan eek karena airnya jorok. For me, it's so much better to poop on the mountain dibandingkan di rumah penduduk yang sanitasinya, maaf-maaf, suka ngga bersih.. Pantat berasa gatel-gatel sepanjang perjalanan. Norak banget dong yah kalo harus buang air di luar kamar mandi padahal ada kamar mandi di rumah itu. Anyway, I miss those moments tho..

Sekarang mesti nahan-nahan keinginan untuk "bersenang-senang" dahulu karena uang jajan pun terbatas. Aku juga tahu diri untuk ngga nyusahin Mama yang jadi tulang punggung utama. Aku bertekad bulat, kemanapun nanti aku pergi, aku mesti pakai uang sendiri. Oya, uang pertama hasil keringat sendiri tuh ga jauh-jauh dari hobby lhooo. Tau ngga apaa?? Taraaaaa.. Dari hasil lomba nyanyi! Walaupun itu duit ngga pernah cair sampe sekarang (yep, gue korban korupsi) tapi paling ngga, mulai dari pengalaman seneng bisa mendapatkan uang dari semangat sendiri, berkat lainnya pun ngga jauh-jauh dari hal nyanyi. Jadi juri di acara lomba vocal-group, lomba nyanyi di kampus, nyanyi dibayar dan lain-lain. Walaupun ngga gede-gede banget dan datengnya ngga sering-sering banget karena belum jadi job tetap, ya paling ngga, saya tau yang namanya "kerja" dengan senang tuh rasanya kaya apa. I'm waiting. I'm still waiting for that chance. Kesempatan untuk bisa lagi "kerja" tanpa (me)rasa berat. Sampai sejauh ini belum terpikir sih untuk menjadikan nyanyi sebagai profesi. Banyak orang yang bisa dan jago nyanyi lebih lebih lebih dari aku, jadi aku sendiri tetap masih menjadikannya sebagai hobby ketimbang pekerjaan. Panggilanku sampai saat ini masih berhubungan dengan NGO.

Aku berharap kalau suatu hari nanti ada kesempatan untuk menginjakkan kaki di kota ataupun daerah lain, itu semua kunikmati seperti Bapak yang merasakannya dengan hasil keringatnya sendiri. Bahkan keluar negeri tanpa biaya sendiri tapi karena ada yang membiayai. Yeay!

Tidak. Aku tidak ingin menyusahkan oranguaku lagi. Orang tuaku sudah cukup berjuang untuk menyekolahkan dan membiayai hidupku sampai saat ini. Setelah aku lulus nanti, walaupun Bapak menjanjikan (*tepatnya mengiming-imingiku) berlibur keluar kota, aku tetap berprinsip untuk "bersenang-senang" tanpa menyusahkan orangtuaku. Bahkan, kalau Tuhan mengizinkan, aku membawa mereka (orangtuaku) untuk melihat karya agungnya dengan hasil keringatku sendiri. Dalam Nama Tuhan Yesus. Amin.

-A