3/2/15

Sebuah jawaban doa

Minggu pagi itu, 22 Februari 2015. Aku ingat betul dalam doaku setelah membaca renungan, aku bilang begini kepada Tuhan "Tuhan, gimana pun caranya, yang penting aku ga boong Tuhan, yang penting gak make alasan yang dibuat-buat, tolong batalkan pertemuanku dengan mereka hari ini, aku males banget keluar rumah jauh-jauh, aku lagi pengen di rumah aja, sama Bapak, Renhat, Hans, Ka Nina, dan Mama. Aku pengen di rumah aja sama keluargaku. Tapi aku udah janji sih sama mereka walaupun sejujurnya males banget. Tapi, aku ga mau bohong, Tuhan." Sebentar aku tersentak, ada suatu perasaan bersalah ketika apa yang kupinta terdengar begitu memaksa. Lalu aku melanjutkan doaku, "Tapi, kemanapun langkahku hari ini, jadi atau ngga aku ketemuan, aku berserah, Bapa.. Jadilah seturut kehendak-Mu, bukan mauku. Amin"

Demikian doaku kepada Sang Khalik untuk mengawali hari itu. Aku harus ikut kelas pembinaan Remaja. Semangat untuk bertemu dengan adik-adik itu masih menyala, belum ada rasa jenuh yang menghampiri. Entahlah. Semoga sampai kapanpun ngga ada. Tapi, setelahnya, aku memiliki janji dengan dua sahabat kuliahku. Aku tidak mau menyebut nama mereka. "Kalo lo berdua ngebaca postingan ini, maaf banget ya Net, Ta gue ga jujur sama lo waktu itu kalau gue lagi males banget. Tapi, mau gimana lagi, gue iya-iya aja pas diajakin ketemuan. Kalo gue bilang "ngga" pasti lo berdua bilang "ah elah sibuk banget lo, sombong banget lo" dan sejenisnya. Ya pokoknya maju kena mundur kena deh. Wkwkwk."

Anyway, seribet itulah doa saya, tapi sesimple ini Tuhan menjawab...

Pukul 11 datang Pesan WhatsApp group....(ah gausah disebut deh yah nama groupnya :p) di HP dari seorang teman yang mengabarkan kami batal bertemu karena teman saya yang satu lagi diundang makan siang oleh calon mertuanya. YIHAAHAHAHAHAAHHA *segirang itu loh saya*. "Ta, Net, sekali lagi maaf banget yaahhh.."

Tapi, karena masih di tengah kelas Remaja, saya hanya berespon "Oh, okay" Ngga mungkin dong pake ketawa panjang, hehehe. Spontan sih saya dalam hati bilang "Puji Tuhan, puji Tuhan, makasih Yesus.." Begitu beberapa saat dan berulang-ulang.. Btw, penasaran kenapa batal, saya pun kembali menghubungi mereka dan menanyakan perihal reschedule. Mungkin setelahnya mood saya untuk bertemu mereka sudah melejit.

Kemudian saya tertegun, intervensi Allah dalam rencana manusia, sebegitu mudahnya kah?
Ya, mungkin saja sih, karena Dia kan Allah. Tapi, benarkah ini jawaban atas doa saya?

Manusia itu rumit yah.. Saat permintaannya sulit untuk dikabulkan, dia bertanya mengapa tidak terjawab atau apa ada alternaif yang lain dari keinginan saya.. Belum lagi cenderung terburu-buru sekali dalam berkonklusi. (Humm.. contohnya sih saya, hehehe) Tapi, saat permintaannya terlihat begitu mudah dan cepat saja dijawab, kembali lagi dia menanyakan apakah semesta turut berkonspirasi atau tidak. Wakakaka. Rumit padahal sudah sebegitu simpel kasusnya. Terkabul dan tidak terkabul.

Well, pada akhirnya saya menyadari, bahwa tiap jawaban doa punya maksudnya sendiri. Walau kadang ada keinginan hati yang mungkin sudah disampaikan berkali-kali dan tidak jua dijawab, namun setiap kali berdoa di situlah terdapat pengakuan saya akan adanya kuasa yang lebih besar di luar logika saya dan di situ pula lah iman saya diuji untuk bertekun dalam kehendak-Nya. Kalau keinginan yang saya bawa dalam doa terjawab, bukan berarti dalam doa berikutnya saya menjadikan doa itu menjadi perintah. Tapi, ketika keinginan saya terjawab, saya harus makin takut dan berserah untuk setiap keajaiban yang berikutnya akan menghampiri hidup saya.

Selamat berdoa, teman-teman!
-A