5/31/15

Bapak

Aku selalu bingung harus bagaimana mendeskripsikan sosok favoritku ini.

Beliau pernah bertanya "Apa yang akan kau bilang ke orang tentang Bapak?"
Bapak sangat khawatir beliau tidak memberi teladan yang baik bagi anak-anaknya. Padahal, jauh dan sangat mendalam, semua karakter Bapak ingin sekali kutiru, walaupun aku pasti ngga sanggup sebaik bapak. Ngga akan pernah sanggup. .Sampai-sampai, beribu kata tidak akan cukup untuk menceritakan bagaimana bangga dan bahagianya aku punya ayah seperti Bapak.

Bapak, khususnya dimasa remajaku, sering jauh dari rumah karena tugasnya. Namun jika Bapak sedang dirumah, beliau selalu berusaha memiliki waktu dan percakapan yang berkualitas dengan anak-anaknya walaupun kami, anak-anaknya malah sering punya kegiatan lain atau dengan sengaja.

Terkhusus untuk kami bertiga, Ka Nina, aku dan Renhat mungkin punya waktu lebih banyak dengan Bapak karena masa kecil kami tidak pernah ditinggal Bapak. Bapak selalu memboyong kami sekeluarga kalau pindah bekerja sekalipun itu keluar kota. Bapak dan Mama memang bukan pasangan yang kompak. Sering mereka berbeda pendapat karena memang perbedaan karakter mereka bagai langit dan bumi. Bagiku, Bapak selalu menjadi perlindungan yang paling aman dari amukan dan pukulan Mama. Aku ingat betul hanya sekali Bapak memukulku dengan tangannya. Itupun karena aku kurang ajar memang. Bapak bilang sehabis itu tangannya panas sekali seperti disiram api tapi yang paling pedih adalah hatinya karena menyesal setelah memukulku.

Mungkin bagi kebanyakan anak perempuan, kelembutan didapat dari sosok ibu mereka, tapi keluarga kami berbeda. Belajar tentang kesabaran, kelembutan, kerendahan hati lebih banyak aku serap dari Bapak.

Bapak sering memangku kepalaku dan membersihkan telingaku dengan cotton bud, aku senang betul bahkan sampai tertidur jika sedang dibersihkan telinganya. Sedangkan Mama? Hmm, seringkali dulu kalau habis tidur siang, entah kenapa jari-jariku terasa perih. Ternyata karena kuku yang sudah botak dipotong dengan silet oleh Mama. Entah apa yang membuatnya malas memotong kuku kami dengan gunting kuku. Jika sudah begitu, pertengkaran mulut pun tidak terelakkan. Aku akan menangis meraung dan lari ke Bapak. Lalu, Bapak akan menenangkanku dan berpura-pura memarahi Mama. Bapak janji kalau kuku-kukuku sudah panjang nanti, beliau yang akan memotongnya.

Tidak banyak yang kupelajari di dunia ini, tapi kebanyakan dari pelajaran itu aku dapat dari Bapak.
Aku selalu bangga akan Bapak walaupun sayangnya aku ga pernah bisa membanggakan beliau.
Aku sering gagal dan membuat Bapak kecewa. Mungkin secara logika sederhana, seharusnya aku bisa meniru Bapak dan keberhasilannya, bukan malah terus gagal dalam berbagai hal.

Bapak pernah bilang, "Kalau tidak bisa membahagiakan orangtua, paling tidak jangan membuat mereka menangis..." Walaupun awalnya kata-kata tersebut tidak ditujukan kepadaku (waktu itu kami sedang bercakap-cakap tentang masalah keluarga besar kami), tapi sekarang aku sangat terpukul dengan maksud ucapan itu. Aku tidak bisa menghapus air mata Bapak karena kesalahan-kesalahanku. Aku juga ga layak untuk bilang maaf, walaupun aku sudah sangat menyesal. Bahkan untuk menjawab telepon masuk dari beliau aku malu karena aku tahu keringat dan air mata Bapak telah kusia-siakan.

Bapak ga pernah gagal. Bapak selalu menjadi sosok yang aku (dan saudara-saudaraku) banggakan.
Kalau ada orang lain bertanya apa yag kupelajari atau kudapat dari ayahku, aku akan bilang "Banyak sekali. Hidupku akan gagal tanpa Bapak."

Terimakasih, Among.