5/13/15

Teman seperjalanan

Namanya Nami, tidak perlu saya sebutkan nama lengkapnya.

Dia ku kenal saat pertama kali masuk kampus kenamaan itu. Ternyata kami satu jurusan dan selanjutnya hari-hari di kampus pun ketemunya ya sama-sama dia juga. Cuma, karena saya tipikal yg gak betah-an, jadi untuk beberapa kelas di semester-semester "menua", saya bertualang dan mengambil yang beda dari kelas2 awal semester yang udah kompak banget sebenernya anak-anaknya. Kelas C selalu bikin hari-hari orang yang di dalemnya selalu ceria. :) Baik itu dengan gosip, tawa, nge-impersonate- orang yg bullyable, ngomongin dosen dan lain sebagainya.. Sampai sebagian besar dari kami lulus pun (yg berarti saya dan Nami doang yang tersisa) kelas ini masih kompak di grup WhatsApp, dan bahkan ngasih surprise ke anggotanya.. Teman-teman kelas C tuh, duh memorable banget deh. Mungkin juga karena kebanyakan dari isinya adalah anak2 jebolan SNMPTN yg cuma berjumlah 15 orang that I couldnt remember well, tp yang seinget saya ada; saya, Nami, Avie, Fenia, Yolan, Mita, hmm Fajar (If I'm not mistaken) dan lainnya. Atmosfer "duh bloon banget nih jadi anak baru" jugalah yang bikin kami2 pas maba SNMPTN mikir gimana caranya harus beradaptasi dengan  ratusan anak2 yg udah lebih dahulu banyak tahu ttg info seputar kehidupan kampus karena selain kami ber-15, yang lain adalah jebolan SIMAK atau tes terdahulu. 15 VS ratusan... Hahahahha *sounds drama sih emang

Anyway, balik lagi ke Nami, seperti yang saya ceritakan sebelumnya, kami sendiri kenal bukan di acara jurusan, melainkan acara universitas yang mahasiswanya berasal dari jurusan dan fakultas yang berbeda. Cuma Nami yang kondisinya benar-benar sama dengan saya saat itu. Orientasi Belajar Mahasiswa adalah nama kegiatannya. OBM merupakan kegiatan perdana para mahasiswa baru yang wajib diikuti. Hmm, istilah untuk adaptasi sistem belajar di masing2 jurusan dan fakultas nantinya gitu deh.

Waktu itu kami emang belum terlalu dekat karena masih sama-sama linglung, ditambah saya anaknya ga gitu pede. Toh kegiatan OBM cuma berlangsung sekitar 2 minggu dan setiap hari setelah kegiatan saya langsung pulang ke kontrakan karena harus mengerjakan tugas-tugas jurusan.

Setelah kegiatan jurusan berlangsung, baru deh kenal Nami lebih dekat. Anaknya periang, seperti kebanyakan teman-teman di Sastra Inggris. Ini tipikal anak sastra jaman saya deh sepertinya...

Banyak hal menarik di balik jilbab yang menutup fisiknya. Dengan badan sekalnya, mungkin sedikit yang percaya bahwa Nami adalah seorang karateka. Wihh.. Jago kaann.. Bnayak hal-hal menarik deh dari Nami..

Bahkan sampai di masa terakhir kami di kampus pun, aku baru tahu juga kalo Nami itu hybrid, hahhaha, dia keturunan Aceh-Sunda, pantes kok ke-hardcore-annya gada Sunda-sundanya gitu, tau-taunya logat doang yang nyunda pisan, sdangkan kalo urusan karakter, Nami tuh Aceh banget lah. :P

Dia sering kami "utus" untuk menjadi ketua jurusan karena sifatnya yang supel dan super lincah. Semua urusan jadi terlihat lebih mudah karena ketenangan sikap Nami. She is reliable, tough, super and smart...leader . All in one banget dah pokoknya.

Well, kalo kalian kenal saya yang gampang panik dan gampang goyahnya, puji Tuhan bangetlah ada orang seperti Nami. Ah ya one more thing I adore from her is the way she convert difficult situation into something funny. She is a great joker.. I need that sense of humor. Bisa menertawakan diri sendiri kata orang sih tanda-tanda orang yang menikmati hidup dan hebat. Dan kehebatan Nami bener-bener jadi bagian ucapan syukur saya saat ini.

Seperti juga yang terjadi hari Senin sore lalu (11 May 2015), kami janjian ketemu di John Fresh Margonda. Di situ saya merasa sangat aman, sangat lega, sangat tenang sekaligus sangat bingung. Dalam pelukan sahabat saya terkasih itu, semuanya tumpah ruah. Belum ada yang tahu ttg yang baru saja saya dan Nami alami dan ngga akan ada yang tahu rasanya apa yang saya pikirkan selain Nami. Karena cuma kami berdua yang mengalaminya.

Saat itu saya paham betul apa arti seorang sahabat. Bukan karena bertahun-tahun kami bersama dan tertawa, bukan juga karena dekatnya jarak rumah ataupun kesamaan rumah ibadah. Nami is totally different from me....totally different.. yet we're facing the same situation this time and she is the only one I can really trust.

Saya tetap merasa berdosa dan selamanya akan terus merasa berdosa karena saya sudah menyeret ke lubang gelap ini. Walaupun Nami bilang ini bukan salah saya dan sudah jalannya begini, saya tetap tidak bisa menghindar dari rasa bersalah saya.

Tapi selain merasa bersalah, ada perasaan bersyukur di hati ini. Don't get me wrong.. Gatau kenapa, mungkin karena saya ada sahabat yang menguatkan. Saya ga tau kalo gada Nami bareng saya saat ini. Beberapa kali saja jujur saya sempat gelap mata dan bingung harus apa. Tapi Tuhan masih sayang sm saya. Dia biarin Nami ikut terseret bersama saya. Seakan Nami adalah batu utk saya bisa bertahan agar tidak terbawa arus terlalu jauh. Nami lebih kuat dibanding saya. JAUH LEBIH KUAT. Saya tahu bahwa saya akan terus belajar banyak hal dari perempuan hebat ini.

Kami memulai bersama dan ternyata berakhir bersama juga. Hmm, walaupun kata Nami yg mencoba menghibur, kami ga berakhir, kami memulai yang baru lagi. Semoga kaya yang dibilang Nami juga, ketika ini terlewat, suatu hari ketika kami bertemu kembali, kami bisa menertawakan diri kami lagi. Hah.


Perjalanan baru akan kami mulai kembali. Tidak tahu kemana akan berlabuh, hanya lalui saja lautan kehidupan ini, mungkin nanti akan menepi sejenak untuk menikmati daratan dan melihat kejauhan hasil perjalanan yang telah kami tempuh. Tapi kami tidak akan kembali lagi kesana karena masih banyak pulau-pulau indah sekaligus menyeraman yang menanti untuk disinggahi dan kemudian pulau terakhir yang akan ditempati. Hanya, perjalanan ini harus diteruskan.

Thank God for sending Nami. God bless her, God bless our future..


-A