6/20/15

Gagal belajar

Menunggu selama sebulan. Saya, sama seperti kebanyakan manusia lainnya, tidak begitu menyukai kegiatan ini. Tadinya saya akan menulis bahwa menunggu gak berarti apa-apa. Tetapi setelah saya berpikir ulang, saya bukannya sedang menunggu. Saya memang harus melakukannya. Diam di rumah selama sebulan, dengan kaki kanan berlilitkan semen putih dan rasa bosan yang seringkali klimaksnya dibayar dengan mengutuki diri sendiri atau makin membenci orang lain, samasekali tidaklah menyenangkan.

Menunggu itu bisa jadi bermakna. Menunggu merupakan proses belajar untuk sabar. Klasik ya. Ya begitulah katanya. Tapi apakah yang saya lakukan ini juga termasuk menunggu?

Bagi saya, mungkin iya, mungkin juga tidak.

Kecenderungan untuk bersikap impulsif, melakukan kegiatan baru, membakar lemak baik dengan berenang atau jogging, semua itu rindu untuk saya lakukan dan sekarang saya bukan hanya gigit jari, tapi mau gila rasanya karena tidak bisa melakukan apa yang saya senangi. Saya tidak belajar untuk sabar karena saya paham ini ada ujungnya. Jelas. Sebulan. Dan tulangmu akan kembali tersambung. Hanya sebulan. Dia mestivmenunggu paling tidak sebulan untuk itu.

Namun, dia tidak melihat ini sebagai penantian. Dia tidak menantikan kesembuhan. Dia memerlukannya. Dia tidak menunggu. Dia melaluinya.

Dia kehabisan kata-kata untuk beropini.

Mari alihkan. Mengapa dia tidak bisa menunggu? Kalau ini disebut dwngan menunggu? Bagaimana dengan Bapak? Para jobseeker? Para perawan atau perjaka? Para penyandang disabilitas? Para narapidana? Para pencari kepastian lainnya? Anak ini memang sulit untuk belajar. Terlalu banyak distraksi yang sebenarnya dibuat-buat(nya). Sulit juga untuk diajar. Dia bermasalah dalam hal logika dan kepercayaan. Maka mutlak dia bukannya akan tersesat, bukan juga terjebak. Dia stuck dan tidak bisa berjalan.