6/15/15

Jauh

Bukan judul lagunya Coklat jaman saya SD, tapi emang ini yang saya rasain. Jauh dari semuanya. Bahkan jauh dari diri saya yang sebelumnya juga.

Sudah 15 hari jadi satpam rumah. Bosannya udah ga kebayang lagi lah. Kalo mau hiperbola rasanya tuh kaya matahari hanya menjadi dongeng yang penampakannya samar-samar kulihat dari dalam kamar.

Masih perlu menunggu sekitar 2 minggu lebih untuk kembali ke dokter. Baru kali ini juga aku merasa gak sabar untuk ketemu dokter, Bukan apa-apa, aku ingin segera melepas beton putih yang memenjarakan paha bawah hingga mata kaki kananku ini. Berat, panas, bosan, ngilu.. Sejak tanggal 1 Juni lalu, aku sudah cukup merasakan sedikit penderitaan para penyandang disabilitas khususnya bagian kaki. "Begini toh rasanya" begitu ujarku sering dalam hati. Pengen ngeluh tapi ini akibat salahku juga toh. Pengen teriak, tapi aku tau ngga bakal bisa langsung sembuh. Jadi ending ditahan saja. Aku sering membunuh bosan dengan menonton. Apa saja kutonton. Pengen cerita, dan blog serta buku harian adalah yang paling nyaman sampai saat ini. Saya mesti bersabar, toh pasti kembali pulih. Apa kabar dong dengan mereka yang seumur hidup tidak bisa berjalan? Aku ga sanggup bayangin lagi, pasti mereka emang orang-orang terkuat yang dipilih Tuhan.

Aku ga suka dijenguk orang-orang yang tidak dekat denganku. Aku ingin bapak di sini, tapi Panca lebih butuh Bapak disana.

Jauh.
Rindu bukan lagi kata yang bisa mewakilkan perasaanku, karena bahkan rindu pun menjauh dariku.
Keluarga? Aku lebih banyak sendirian di rumah. Mama seperti biasa, "sibuk" sampai malam nanti. Aku ga (bakal) bisa minta dia untuk diam. Kata Ka Nina, mungkin harusnya kakinya lah yang patah supaya dia bisa diam di rumah. Aku sendiri malah menganggap percuma juga beliau di rumah. Mungkin ga ada bedanya. Aku bisa menggunakan tongkat dan kursi roda. Buat apa meminta dari orang yang tidak tulus melakukan?
Sahabat-sahabat? Mereka sibuk dengan pekerjaan mereka. Semakin hari aku merasa, sahabat ngga ada lagi. Cuma nama dan lama kenal. Aku belum berani bercerita kepada sahabat-sahabat baikku tentang masalah terberatku sejak bulan Mei lalu. Mereka lama berkawan denganku, tapi untuk bisa cerita, entah kenapa aku rasa mereka gak berhak tahu. Toh cerita sama mereka pun gak menyelesaikan masalah. Tambah masalah, iya,

Aku tahu dunia dan kehidupan baru harus segera ku hadapi. Aku tahu semuanya akan mulai terasa berat ketika saya sehat nanti. Saya harus memaksa diri saya siap. 6 tahun terakhir sudah cukuplah untuk belajar, sekarang waktunya untuk meninggalkan jauh semua hal yang rasanya indah tapi ujungnya pahit ini.

Tuhan? Saya tahu Dia selalu dekat sekalipun saya menjauh. Sebelum terlambat, saya selalu berharap bahwa Dia selalu dekat juga dengan keluarga dan sahabat2 saya.

Tanah dan langit tidak lebih jauh dibanding perpisahan yang merupakan kematian kecil.