1/26/15

Tukat; A Reverse

pernah aku merasa nyaman dengan hal-hal yang menyenangkan
tapi entah kenapa pada rasa takut aku begitu setia
aku biarkan dia ada dan menjelma menjadi suatu nyawa
turut menyerap emosi dan pikiran
terkadang malah melumpuhkan
aku dibuat tidak bergeming
diam ditempat menjemukan
seperti "Waiting for Godot" mungkin itulah yang bisa mewakilinya
walaupun tak sepenuhnya
karena kata orang bijak cita-cita itu bukan hanya mimpi dalam lelap
dia juga bukan angin yang menyejukkan wajah
walau kadang bagiku bagai angin yang menyergap tengkuk
jadi seperti apa?
 --------------------------------------------------------------------------------------------------------

1/20/15

Belum sepenuhnya paham tentang kematian

Saya akan mengikuti sebuah acara diskusi buku dari salah seorang penulis favorit saya, Ayu Utami, mengenai spiritual kritis yang akan diadakan hari Sabtu tanggal 31 Januari mendatang. Seperti yang sudah saya ceritakan di postigan saya sebelumnya, saya lumayan tersihir dengan buka yang memiliki subtitle arwah dan doa ini. Mungkin karena bahasanya yang lumayan enteng, berbeda dengan buku-buku karya Mbak Ayu yang pernah saya baca seperti Manjali dan Cakrabirawa dan yang lainnya. Mbak Ayu bercerita mengenai "kepercayaan"nya akan arwah yang masih berada di sekitarnya yang tidak terlihat, namun ada keberadaanya. Saya sendiri lumayan "terbujuk" untuk kembali percaya dengan hal tersebut. Tadinya saya cuek dengan keberadaan "mereka", saya cenderung percaya akan keberadaan Roh Kudus dan teman-temannya dibanding makhluk-makhluk dengan bentuk aneh ataupun roh orang yang telah meninggal dan tak kasat mata seperti yang diceritakan Mbak Ayu. Jujur untuk dua hari pertama pasca membaca buku itu, saya mulai agak risih dengan pojok-pojok ruangan gelap di rumah saya sendiri. Antara risih dan takut sih sebenarnya. Namun nalar saya kembali mendominasi dan memilih untuk tidak menghiraukannya. Kalaupun ada, biarlah mereka, selama tidak diganggu katanya sih mereka gak akan balik mengganggu.

Mbak Ayu begitu menarik dalam "menghasut" pikiran saya, seseorang yang bisa dibilang pembacanya untuk lebih menghargai jam-jam doa saya dengan sang Khalik.. Ini bukan humblebrag, hanya saja saya memang cukup "memaksa diri" dalam menjaga hati dan pikiran saya yang sering "jatuh" ini dengan ngobrol dengan Yang Punya Hidup Saya. Anyway, yang saya tahu beliau ada sosok yang bekecimpung di dunia yang cukup "bebas" bukan sosok rohaniawan yang sering saya temui di sekitar saya. Tetapi, melalui buku ini, dia menceritakan perjalanan rohaninya yang malah menurut saya lebih jujur dibanding para munafik yang berada di sekitar gedung peribadatan. Dengan berdoa, yang dia definisikan sebagai "percakapan rohani", kita bisa menjumpai orang-orang yang tidak kita lihat baik yang hidup ataupun yang sudah tiada. Saya sendiri memakanainya seperti begini; saya bisa menyampaikan nama-nama orang yang saya kasihi, yang terbatas jarak dengan saya lewat doa saya titip nama mereka agar selalu dalam perlindunganNya, dan mengingat nama-nama orang yang telah tiada dalam perenungan yang cukup syahdu ketika bercakap-cakap dengan Tuhan lalu saya mohon kekuatan untuk mencontoh teladan mereka semasa hidup..

Saya pun sempat merasa "kosong" setelah membacanya, saya sempat ragu dengan kematian itu sendiri. Saya sempat bingung dan bertanya-tanya jika kematian menjemput, kemanakah saya pergi? Ditanam di suatu tempat? Lalu yang lainnya? Apa kelanjutannya? Kitab suci saya sendiripun tidak banyak membahasa perkara roh mati. Yang saya lumayan paham adalah akhir jaman dibandingkan mengenai roh orang mati. Anyway, keraguan itu sudah pergi juga kok. Terlepas dari kebutaan saya mengenai kematian, saya diajak untuk kembali percaya bahwa pada akhirnya, keselamatan yang saya peroleh lewat iman saya itulah yang membawa saya pada sebuah tempat yang disebut sorga. Lagipula, kalo bukan lewat iman kekristenan saya, apalagi yang bisa menjamin saya untuk selamat?

Selamat malam,
A

1/14/15

Sabar ya Among

Selingan yang menjadi keutamaan
Minggu ini begitu dingin. Intensitas hujan yang mulai tinggi membuat aku enggan untuk beranjak dari rumah. Jadilah aku sebagai penghuni rumah yang setia. Dua buku baru sebagai bekal pengusir penat juga telah habis ku lahap sebelum minggu ini berakhir. Buku pertama berjudul "I, Isaac, Take Thee Rebekah, as My Wife" karangan Ravi Zachariah dan yang satunya lagi dari Ayu Utami berjudul "Simple Miracles". Keduanya dalam bahasa Indonesia, tapi aku sedikit kecewa dengan bukunya Ravi karena terjemahannya tidak begitu bagus, jelek malahan, ditambah ternyata isinya (bagiku) benar-benar mengenai persiapan menikah -_- Well, ya bagus sih bisa untuk jaga-jaga dan mengubah pikiranku yang kadung skeptis tentang rencana pernikahan dan berkeluarga.

Hm.. Aku lebih menyukai bacaanku yang kedua. Tulisan yang kata pengarangnya bobotnya enteng tersebut sukses membuat aku akrab dengan benda-benda bernama kasur dan sofa. Berawal dari ajakan seorang teman untuk mengikuti sebuah diskusi di Salihara, aku yang memang doyan suasana Salihara dan karangan Ayu Utami pun segera menyetujuinya. Padahal, punya atau bahkan tahu mengenai bukunya pun belum. Yolan, temanku itu, bilang diskusinya akhir Januari ini. Kulihat jadwal, aku belum punya janji dengan siapa-siapa. Itupun akhir minggu. Skrips*? Waktunya libur lah :p

Aku membeli dua buku tersebut di Gramedia Matraman sewaktu menemani adikku, Reinhart, membeli kacamata baru. Tanpa membuang kesempatan, aku yang tadinya malas menemaninya akhirnya terbujuk karena diiming-imingi "bonus" dan otomatis ke-kere-an dan kehausan akan buku tersebut terbayar! Duh berkat emang ga kemana yah :)


(Di)Tanya
Sayangnya, aku terlampau asyik membaca buku-buku tersebut sampai Amongku menegurku mengenai progress si S yang makin lama membuat aku makin muak. Aku malas ditanya-tanya tentang hal itu. Ditawari bantuan pun tidak ada gunanya bagiku. Berhenti bertanya adalah cara membantu terbaik. Aku malas berbicara dengan Among setelahnya. Beliau pun seperti salah tingkah. Aku hapal betul dengan cara beliau yang kikuk dan berbisik ke kakakku untuk menceritakan kondisi yang terjadi. Kakakku yang baru bangun tidur mungkin bertanya-tanya kenapa aku diam saja dan suasana rumah begitu dingin. Inong mulai "berceloteh" mengejek aku yang belum lulus dan aku yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat Amongku berdiri dan berpura-pura buang sampah dekat kakakku yang sedang mencuci piring.

Entah malaikat apa yang menyaksikan peristiwa tersebut sampai Tuhan dengan cepat (sepertinya) menegurku,. Caranya?


Di radio aku dengar....
Aku tadinya berada di dekat Among, duduk di sofa ruang tamu, sementara Among mengetik di seberangku, lantas aku pindah ke kamarku di lantai atas karena terlanjur kesal dengan pertanyaan yang memang sensitif bagiku. Aku pakai earphone dan menyetel radio dengan tujuan supaya ngga mendengar celotehan Inong yang luar biasa menjengkelkan. Saat itu, radio Tr*x FM dengan dua penyiarnya sedang membacakan SMS-SMS yang masuk dari listener yang sharing tentang alasan bersyukur (khususnya bersyukur jika masih memiliki orangtua). Banyak dari para pengirim bercerita bagaimana mereka (yang rata-rata ayah atau orang tuanya telah tiada) berkata "bersyukur deh buat kamu-kamu yang masih punya ortu, masih bisa kuliah, masih bisa diingetin, masih bisa ini dan itu dan bla bla bla..." Dahiku mengernyit "Kok bisa tepat sekali ya?"

Entah mungkin Tuhan tahu aku salah dengan nyuekin Among atau emang supaya aku mengerjakan (BAHKAN DISELESAIIN NGEL!) si S. Emang sih, aku masih tetap membatu aja dengan tetap mengerjakan hal lain setelah itu. Gak langsung tobat. Yeah, I'm not an responsive doer. Tapi, paling ngga aku langsung baca-baca lagi kok data untuk si S dan nge-net untuk nyari bahan.

Gengsi
Menjelang sore, aku turun untuk nonton TV sebentar dan seperti biasa Among, seorang yang bukan pendendam dan cinta damai, begitu saja beliau menyapaku, mengajakku bicara seolah tidak terjadi apa-apa walaupun responku cuma gitu-gitu aja, masih males bok! Aku pergi mandi meninggalkan beliau seorang diri di ruang keluarga (dasar si angel, tanduknya belom bisa lepas). Tapi tetap, lagu "Ayah" dari Gitgut ft. Ada Band udah terngiang-ngiang sewaktu aku mandi tadi. Aku, seorang anak yang pemarah dan gengsian ini tetap merasa menyesal telah bersikap kasar dan dingin kepada Amongku. Beliau berhak mendapat kebahagiaan lewat kelulusanku. Beliau sudah terlalu lama bekerja keras, banting tulang, menahan egonya untuk kami anak-anak dan bahkan istrinya. Hah.. Sabar ya Among.. Aku pasti lulus. Aku janji. Hanya bukan dalam waktu dekat ini. Maaf ya Among. Kau harus sedikit bersabar. Seperti yang sering Among lakukan ketika menghadapi kenakalan-kenakalan kami sebelumnya. Maaf memberimu beban yang sangat berat dan memaksamu untuk hidup berjuang lebih lama dalam doa dan harapan. Aku janji, aku akan berikan yang terbaik bagimu.

Kau mungkin tidak akan membaca tulisan ini, karena aku pun tidak ingin. Dibaca orang? Sepertinya tidak banyak juga yang baca tulisan ini, bahkan mungkin tidak ada. Jadi aku merasa aman. Kalaupun terbaca, yasudahlah, aku cuma berharap mereka tidak seperti aku, seorang pemarah, gengsian dan terlalu sering gagal.

Salam sayang,
Borumu yang jugul.