3/27/15

Hilang

Aku memang tidak mencari
Tapi itu kata yang paling tepat rasanya
Bagaimana aku bisa menerima
Perlahan-lahan kau menghilang

Apa alasan aku tetap ramah
Seakan kita pernah kenal
Seperti kita pernah tahu banyak
Padahal tidak seberapa

Kita kembali menjadi orang asing
Jangankan untuk menyapa
Malah aku berharap aku lupa
Walaupun tidak mungkin

Aku benci berspekulasi
Aku marah pada kebisuan
Tidak ada yang menjawab
Pertanyaannya sudah beranak pinak

Hilang
Cukup sudah waktu untuk berangan
Aku biarkan untuk tidak terlihat
Aku lepaskan supaya cukup diingat

Selamat jalan, keberanian..

3/24/15

Budaya, Hutan Pohon dan Hutan Beton

Sabtu lalu saya mengunjungi museum yang terletak di salah satu tempat wisata terkenal Jakarta. Kalau tidak karena terpaksa, saya gamau kesana mengingat seorang rekan dari ayah pernah bercerita betapa busuknya pembangunan tempat wisata itu oleh anggota keluarga jalan kayu "wangi" yang sangat tersohor (kebusukannya) di negeri ini. 

Anyway, sembari duduk di bawah pohon rindang menunggu teman2 saya selesai mensurvey tempat tersebut, seorang ibu disamping saya bercerita bahwa beliau sedang mengajak kerabat2nya dari Cina untuk napak tilas di Indonesia, tanah kelahirannya. 55 tahun lalu mereka pergi ke Cina untuk menetap disana. Sekarang sudah rindu katanya. Maka, mereka menyempatkan diri berkunjung kembali ke Kalimantan Selatan dan Jakarta. Ibu yang bercerita tadi tidak ikut masuk ke dalam museum karena sudah terlampau lelah. Perjalanan ke pelosok Kalimantan Selatan kemarin hari sangat menguras tenaga karena jalan yang sangat rusak. Beliau bilang kerusakan tersebut karena banyaknya kendaraan2 besar proyek yang lewat tanpa adanya perawatan jalan. 

Ada dua hal yang ribut di pikiran saya. Pertama, saya merasa terpukau dengan keluarga ibu ini yang sebegitu niatnya mengunjungi kembali tanah kelahiran mereka, bumi Indonesia. Padahal, bisa saja mereka pergi ke tempat yang lebih prestis ketimbang Indonesia yang tanahnya mulai rusak tergerus pembangunan. Tapi toh mereka terlihat sangat semangat dan menikmati perjalanan tersebut walaupun kondisi tanah yang mungkin dulu sangat subur ini sekarang hampir mati akibat pembangunan yang malah destruktif. Kecintaan pada tanah Air tidak luntur dari hati mereka. Berbeda dengan saya (dan mungkin kebanyakan generasi saya) yang mulai kurang peduli dengan kampung halaman. Mungkin memang butuh jarak untuk bisa menumbuhkan rasa rindu. Karena seringkali apa yang kita miliki tidak kita hargai. Atau karena alasan saya yang kedua, budaya yang ada di hadapan saya adalah budaya senang2. Seperti yang sering2 ini terjadi di sekitar keluarga saya. Pesta demi pesta yang berkedok adat seringkali dimanipulasi hanya untuk pemborosan dan ajang pamer. Rela jauh pulang ke kampung halaman untuk merayakan pesta ulangtahun marga yang sebenarnya tidak terlalu penting. Jika demikian yang dinamakan menjaga adat dan budaya tanpa ada pendekatan dan kepedulian terhadap saudara-saudara yang mungkin untuk makan saja susah, mengapa jadinya adat sepertinya semakin menjauhkan bukan mendekatkan? Mungkin memang sudah begitu adanya,  manusia selalu berusaha terlihat ada dan yang tidak ada bukan dicari tapi disesatkan dalam wacana ke-sok tahu-an para penjilat keluarga. Ini yang membuat saya kurang menyukai budaya di masa ini. Bermanfaat tidak, bikin "enek" iya. 

Bagaimanapun, saya akui Indonesia memang indah. Begitu pula dengan Batak. Yang saya sesalkan hanyalah para praktisi sembrono yang tidak menjalankan budaya dengan hati yang tulus. Saya tetap percaya ajaran Batak memiliki kelayakan untuk dipelajari dan diteruskan. Saya senang dengan adanya penerusan marga yang menjaga relasi walaupun diteruskan secara patriarkal karena begitu sistemnya, namun tetap, untuk dapat mengasihi tidak memandang garis keturunan toh? Sistem yang dibuat manusia tidak sepenuhnya benar. 

Yang kedua adalah mengenai kondisi tanah di pelosok yang semakin parah kerusakannya. Kondisi ini juga baru saja dilihat langsung oleh mata ayah saya yang sedang mengunjungi kampung halamannya. Melalui statusnya, beliau bercerita ttg kerusakan alam di pemukiman sekitar danau Toba akibat pekerjaan sebuah pabrik. Yang ironis adalah banyak yang tahu bahwa pemilik PT tsb menebarkan beasiswa yang menjadi rebutan teman2 di kampus. Begitu mulia namanya bagi para akademisi pemburu beasiswa namun begitu hina di mata para penduduk yang mungkin saja merupakan kerabat para mahasiswa tersebut. Sungguh menyakitkan jika setelah mendapat beasiswa tersebut, lalu bersekolah, kemudian lulus, para mahasiswa tersebut malah kurang peduli untuk membangun tanah yang telah dirusak oleh penyandang beasiswa mereka tersebut. Tapi mau bagaimana lagi,memang begitulah yang sering terjadi. Kebanyakan mereka (mantan mahasiswa) masuk ke perusahaan serupa dan selanjutnya membangun berbagai moda transportasi berat yang semakin merusak lahan kehidupan penduduk perkampungan. Entahlah. Memang bukan salah mereka. Toh mereka pun hanya ingin melanjutkan kehidupan dan mengaplikasikan ilmu mereka. Saya hanya berharap lingkaran (si) setan ini tidak berlanjut apabila masih ada (mantan) mahasiswa yang benar2 kritis dan peduli akan nasib orang2 di perkampungan, yang hanya berusaha sekadar bertahan hidup dengan mengandalkan hutan pohon, bukan malah sibuk membangun lebih banyak lagi hutan beton yg dipersembahkan bagi para pemilik harta dan modal.

3/3/15

(HARUS!) Pakai uang sendiri!

Dulu waktu masih SMP full dibiayain orang tua kalau bepergian. Ya retreat lah, ya study tour lah, ya hang out lah..Tapi mulai SMA, sejak mutusin untuk ikutan kegiatan pecinta alam, aku berusaha menabung dari uang jajan untuk ikutan trip-trip naik gunung, rafting, navigasi, so on and so forth.. Yahhh, walaupun masih belum uang sendiri, tapi aku berusaha banget ngga minta mentah-mentah dari bonyok. Apalagi waktu itu nyokab belum berpenghasilan kaya sekarang. Bokap doang yang jadi tulang punggung keluarga. Jadi kebayang dong gimana stressnya bokap ane waktu itu. Sekarang sebenarnya masih tetap stres apalagi bokap udah ngga kerja dan gue BELUM LULUS-LULUS. OK, you can blame on me :"3

Anyway, tentang uang sendiri, aku nulis ini karena ngeliat postingan-postingan di IG berisi gambar-gambar petualangan para IG-ers baik di dalam dan luar negeri. Kangen banget bisa nge-trip jauh, jalan sampai kaki rasanya mau copot dan nikmatin pemandangan alam yang ngga bisa ditemui di Jakarta. Suasananya, udaranya, sensasi nahan eek karena airnya jorok. For me, it's so much better to poop on the mountain dibandingkan di rumah penduduk yang sanitasinya, maaf-maaf, suka ngga bersih.. Pantat berasa gatel-gatel sepanjang perjalanan. Norak banget dong yah kalo harus buang air di luar kamar mandi padahal ada kamar mandi di rumah itu. Anyway, I miss those moments tho..

Sekarang mesti nahan-nahan keinginan untuk "bersenang-senang" dahulu karena uang jajan pun terbatas. Aku juga tahu diri untuk ngga nyusahin Mama yang jadi tulang punggung utama. Aku bertekad bulat, kemanapun nanti aku pergi, aku mesti pakai uang sendiri. Oya, uang pertama hasil keringat sendiri tuh ga jauh-jauh dari hobby lhooo. Tau ngga apaa?? Taraaaaa.. Dari hasil lomba nyanyi! Walaupun itu duit ngga pernah cair sampe sekarang (yep, gue korban korupsi) tapi paling ngga, mulai dari pengalaman seneng bisa mendapatkan uang dari semangat sendiri, berkat lainnya pun ngga jauh-jauh dari hal nyanyi. Jadi juri di acara lomba vocal-group, lomba nyanyi di kampus, nyanyi dibayar dan lain-lain. Walaupun ngga gede-gede banget dan datengnya ngga sering-sering banget karena belum jadi job tetap, ya paling ngga, saya tau yang namanya "kerja" dengan senang tuh rasanya kaya apa. I'm waiting. I'm still waiting for that chance. Kesempatan untuk bisa lagi "kerja" tanpa (me)rasa berat. Sampai sejauh ini belum terpikir sih untuk menjadikan nyanyi sebagai profesi. Banyak orang yang bisa dan jago nyanyi lebih lebih lebih dari aku, jadi aku sendiri tetap masih menjadikannya sebagai hobby ketimbang pekerjaan. Panggilanku sampai saat ini masih berhubungan dengan NGO.

Aku berharap kalau suatu hari nanti ada kesempatan untuk menginjakkan kaki di kota ataupun daerah lain, itu semua kunikmati seperti Bapak yang merasakannya dengan hasil keringatnya sendiri. Bahkan keluar negeri tanpa biaya sendiri tapi karena ada yang membiayai. Yeay!

Tidak. Aku tidak ingin menyusahkan oranguaku lagi. Orang tuaku sudah cukup berjuang untuk menyekolahkan dan membiayai hidupku sampai saat ini. Setelah aku lulus nanti, walaupun Bapak menjanjikan (*tepatnya mengiming-imingiku) berlibur keluar kota, aku tetap berprinsip untuk "bersenang-senang" tanpa menyusahkan orangtuaku. Bahkan, kalau Tuhan mengizinkan, aku membawa mereka (orangtuaku) untuk melihat karya agungnya dengan hasil keringatku sendiri. Dalam Nama Tuhan Yesus. Amin.

-A

3/2/15

Sebuah jawaban doa

Minggu pagi itu, 22 Februari 2015. Aku ingat betul dalam doaku setelah membaca renungan, aku bilang begini kepada Tuhan "Tuhan, gimana pun caranya, yang penting aku ga boong Tuhan, yang penting gak make alasan yang dibuat-buat, tolong batalkan pertemuanku dengan mereka hari ini, aku males banget keluar rumah jauh-jauh, aku lagi pengen di rumah aja, sama Bapak, Renhat, Hans, Ka Nina, dan Mama. Aku pengen di rumah aja sama keluargaku. Tapi aku udah janji sih sama mereka walaupun sejujurnya males banget. Tapi, aku ga mau bohong, Tuhan." Sebentar aku tersentak, ada suatu perasaan bersalah ketika apa yang kupinta terdengar begitu memaksa. Lalu aku melanjutkan doaku, "Tapi, kemanapun langkahku hari ini, jadi atau ngga aku ketemuan, aku berserah, Bapa.. Jadilah seturut kehendak-Mu, bukan mauku. Amin"

Demikian doaku kepada Sang Khalik untuk mengawali hari itu. Aku harus ikut kelas pembinaan Remaja. Semangat untuk bertemu dengan adik-adik itu masih menyala, belum ada rasa jenuh yang menghampiri. Entahlah. Semoga sampai kapanpun ngga ada. Tapi, setelahnya, aku memiliki janji dengan dua sahabat kuliahku. Aku tidak mau menyebut nama mereka. "Kalo lo berdua ngebaca postingan ini, maaf banget ya Net, Ta gue ga jujur sama lo waktu itu kalau gue lagi males banget. Tapi, mau gimana lagi, gue iya-iya aja pas diajakin ketemuan. Kalo gue bilang "ngga" pasti lo berdua bilang "ah elah sibuk banget lo, sombong banget lo" dan sejenisnya. Ya pokoknya maju kena mundur kena deh. Wkwkwk."

Anyway, seribet itulah doa saya, tapi sesimple ini Tuhan menjawab...

Pukul 11 datang Pesan WhatsApp group....(ah gausah disebut deh yah nama groupnya :p) di HP dari seorang teman yang mengabarkan kami batal bertemu karena teman saya yang satu lagi diundang makan siang oleh calon mertuanya. YIHAAHAHAHAHAAHHA *segirang itu loh saya*. "Ta, Net, sekali lagi maaf banget yaahhh.."

Tapi, karena masih di tengah kelas Remaja, saya hanya berespon "Oh, okay" Ngga mungkin dong pake ketawa panjang, hehehe. Spontan sih saya dalam hati bilang "Puji Tuhan, puji Tuhan, makasih Yesus.." Begitu beberapa saat dan berulang-ulang.. Btw, penasaran kenapa batal, saya pun kembali menghubungi mereka dan menanyakan perihal reschedule. Mungkin setelahnya mood saya untuk bertemu mereka sudah melejit.

Kemudian saya tertegun, intervensi Allah dalam rencana manusia, sebegitu mudahnya kah?
Ya, mungkin saja sih, karena Dia kan Allah. Tapi, benarkah ini jawaban atas doa saya?

Manusia itu rumit yah.. Saat permintaannya sulit untuk dikabulkan, dia bertanya mengapa tidak terjawab atau apa ada alternaif yang lain dari keinginan saya.. Belum lagi cenderung terburu-buru sekali dalam berkonklusi. (Humm.. contohnya sih saya, hehehe) Tapi, saat permintaannya terlihat begitu mudah dan cepat saja dijawab, kembali lagi dia menanyakan apakah semesta turut berkonspirasi atau tidak. Wakakaka. Rumit padahal sudah sebegitu simpel kasusnya. Terkabul dan tidak terkabul.

Well, pada akhirnya saya menyadari, bahwa tiap jawaban doa punya maksudnya sendiri. Walau kadang ada keinginan hati yang mungkin sudah disampaikan berkali-kali dan tidak jua dijawab, namun setiap kali berdoa di situlah terdapat pengakuan saya akan adanya kuasa yang lebih besar di luar logika saya dan di situ pula lah iman saya diuji untuk bertekun dalam kehendak-Nya. Kalau keinginan yang saya bawa dalam doa terjawab, bukan berarti dalam doa berikutnya saya menjadikan doa itu menjadi perintah. Tapi, ketika keinginan saya terjawab, saya harus makin takut dan berserah untuk setiap keajaiban yang berikutnya akan menghampiri hidup saya.

Selamat berdoa, teman-teman!
-A