6/30/15

Hitam

Saya lihat yang putih itu hitam. Saya lihat yang putih sama hitamnya.

6/26/15

Jettisoning some worries and some bad lucks

Renang, jogging, jalan keliling kota sendirian.

Renang, jogging, ngalor ngidul.

Kangen banget. Seminggu lagi Jel.. Seminggu.

Seminggu lagi lo bebas dan lo bisa kaya gitu lagi. Cuma seminggu lagi. Buat penat. Buang kepahitan. Buang masa lalu. And start a new journey..

Hhh..

Btw, happy birthday, Stevo!
Akk bertalenta tingkat dewa. I know the bright future awaits you

PS: I remember your and the other boys' bday. It's me who pathetically have no courage to say any words to you guys after all bad things I've done. I miss you dede2 "gada obatnya" :')

6/20/15

Gagal belajar

Menunggu selama sebulan. Saya, sama seperti kebanyakan manusia lainnya, tidak begitu menyukai kegiatan ini. Tadinya saya akan menulis bahwa menunggu gak berarti apa-apa. Tetapi setelah saya berpikir ulang, saya bukannya sedang menunggu. Saya memang harus melakukannya. Diam di rumah selama sebulan, dengan kaki kanan berlilitkan semen putih dan rasa bosan yang seringkali klimaksnya dibayar dengan mengutuki diri sendiri atau makin membenci orang lain, samasekali tidaklah menyenangkan.

Menunggu itu bisa jadi bermakna. Menunggu merupakan proses belajar untuk sabar. Klasik ya. Ya begitulah katanya. Tapi apakah yang saya lakukan ini juga termasuk menunggu?

Bagi saya, mungkin iya, mungkin juga tidak.

Kecenderungan untuk bersikap impulsif, melakukan kegiatan baru, membakar lemak baik dengan berenang atau jogging, semua itu rindu untuk saya lakukan dan sekarang saya bukan hanya gigit jari, tapi mau gila rasanya karena tidak bisa melakukan apa yang saya senangi. Saya tidak belajar untuk sabar karena saya paham ini ada ujungnya. Jelas. Sebulan. Dan tulangmu akan kembali tersambung. Hanya sebulan. Dia mestivmenunggu paling tidak sebulan untuk itu.

Namun, dia tidak melihat ini sebagai penantian. Dia tidak menantikan kesembuhan. Dia memerlukannya. Dia tidak menunggu. Dia melaluinya.

Dia kehabisan kata-kata untuk beropini.

Mari alihkan. Mengapa dia tidak bisa menunggu? Kalau ini disebut dwngan menunggu? Bagaimana dengan Bapak? Para jobseeker? Para perawan atau perjaka? Para penyandang disabilitas? Para narapidana? Para pencari kepastian lainnya? Anak ini memang sulit untuk belajar. Terlalu banyak distraksi yang sebenarnya dibuat-buat(nya). Sulit juga untuk diajar. Dia bermasalah dalam hal logika dan kepercayaan. Maka mutlak dia bukannya akan tersesat, bukan juga terjebak. Dia stuck dan tidak bisa berjalan.

6/15/15

Jauh

Bukan judul lagunya Coklat jaman saya SD, tapi emang ini yang saya rasain. Jauh dari semuanya. Bahkan jauh dari diri saya yang sebelumnya juga.

Sudah 15 hari jadi satpam rumah. Bosannya udah ga kebayang lagi lah. Kalo mau hiperbola rasanya tuh kaya matahari hanya menjadi dongeng yang penampakannya samar-samar kulihat dari dalam kamar.

Masih perlu menunggu sekitar 2 minggu lebih untuk kembali ke dokter. Baru kali ini juga aku merasa gak sabar untuk ketemu dokter, Bukan apa-apa, aku ingin segera melepas beton putih yang memenjarakan paha bawah hingga mata kaki kananku ini. Berat, panas, bosan, ngilu.. Sejak tanggal 1 Juni lalu, aku sudah cukup merasakan sedikit penderitaan para penyandang disabilitas khususnya bagian kaki. "Begini toh rasanya" begitu ujarku sering dalam hati. Pengen ngeluh tapi ini akibat salahku juga toh. Pengen teriak, tapi aku tau ngga bakal bisa langsung sembuh. Jadi ending ditahan saja. Aku sering membunuh bosan dengan menonton. Apa saja kutonton. Pengen cerita, dan blog serta buku harian adalah yang paling nyaman sampai saat ini. Saya mesti bersabar, toh pasti kembali pulih. Apa kabar dong dengan mereka yang seumur hidup tidak bisa berjalan? Aku ga sanggup bayangin lagi, pasti mereka emang orang-orang terkuat yang dipilih Tuhan.

Aku ga suka dijenguk orang-orang yang tidak dekat denganku. Aku ingin bapak di sini, tapi Panca lebih butuh Bapak disana.

Jauh.
Rindu bukan lagi kata yang bisa mewakilkan perasaanku, karena bahkan rindu pun menjauh dariku.
Keluarga? Aku lebih banyak sendirian di rumah. Mama seperti biasa, "sibuk" sampai malam nanti. Aku ga (bakal) bisa minta dia untuk diam. Kata Ka Nina, mungkin harusnya kakinya lah yang patah supaya dia bisa diam di rumah. Aku sendiri malah menganggap percuma juga beliau di rumah. Mungkin ga ada bedanya. Aku bisa menggunakan tongkat dan kursi roda. Buat apa meminta dari orang yang tidak tulus melakukan?
Sahabat-sahabat? Mereka sibuk dengan pekerjaan mereka. Semakin hari aku merasa, sahabat ngga ada lagi. Cuma nama dan lama kenal. Aku belum berani bercerita kepada sahabat-sahabat baikku tentang masalah terberatku sejak bulan Mei lalu. Mereka lama berkawan denganku, tapi untuk bisa cerita, entah kenapa aku rasa mereka gak berhak tahu. Toh cerita sama mereka pun gak menyelesaikan masalah. Tambah masalah, iya,

Aku tahu dunia dan kehidupan baru harus segera ku hadapi. Aku tahu semuanya akan mulai terasa berat ketika saya sehat nanti. Saya harus memaksa diri saya siap. 6 tahun terakhir sudah cukuplah untuk belajar, sekarang waktunya untuk meninggalkan jauh semua hal yang rasanya indah tapi ujungnya pahit ini.

Tuhan? Saya tahu Dia selalu dekat sekalipun saya menjauh. Sebelum terlambat, saya selalu berharap bahwa Dia selalu dekat juga dengan keluarga dan sahabat2 saya.

Tanah dan langit tidak lebih jauh dibanding perpisahan yang merupakan kematian kecil.

6/11/15

Tanpa Kata

Ada hubungan yang kembali terjalin tanpa harus ada kata yang terucap. Sederhana. Sangat sederhana. Hanya perlu hati yang mengampuni.

Orang bilang memaafkan sangat sulit. Tapi dia bersyukur ingatannya tidak begitu baik sehingga untuk merasakan sakit hati lagi akan sulit khususnya bagi orang yang sangat dia kasihi.

Bukan hubungan yang mudah memang jika sudah terlalu kenal. Lucu yah. Tapi seringkali memang begitu. Dia sendiri adalah orang yang suka berkonflik. Hanya, malas berlama-lama. Kalau tidak suka, lebih baik tidak bicara. Biar tidak sama-sama susah. Tapi, sekali lagi, itu akan sulit bagi orang yang dia kasihi. Dia akan merasa sangat tersiksa.

Dia lari dari masalah. Dia pengecut. Dia cukup bersyukur ada orang-orang baik yang berhati besar untuk mengerti dia. Entah sampai kapan.

6/8/15

Broken

Ada yang sakit
Bukan berarti akan mati
Hanya fungsinya tidak berjalan
Namun tetap ada yang menopang

Begitulah ketika ada yang sakit
Yang lain menjaga
Ada juga yang terobati
Ada yang bekerja lebih kuat

Patah
Bukan karena benturan yang kuat
Tapi bebannya terlampau berat
Sakit yang hebat tak hilang sesaat

Tapi patah
Tak berarti tak berguna
Hanya butuh waktu agak lama
Sampai pulih ke bentuk semula

Patah
Kadang hanya dialami satu jiwa
Bukan berarti yang lain tidak sakit
Karena rasa berarti segala