6/6/16

Celaka

Bukan hanya sekali atau dua kali atau tiga kali.
Sudah lupa berapa kali tepatnya anak ini mengalami kecelakaan.

Siang menjelang sore tadi, hujan lebat turun. Petir saling berteriak susul-menyusul. Entah apa yang mereka bicarakan.
Aku dan temanku duduk menunggu langit berhenti memamerkan keajaibannya. Ajaib bagiku dari langit bisa membuang begitu banyak air. Padahal lautlah yang menampung bentuk cairan tersebut.
Oya, ternyata teriakan para petir bukan hanya bunyi tanpa arti.
Aku membuka ponselku lalu menyambungkannya dengan koneksi wi-fi sebab kuota internet di ponselku sudah habis.
Beberapa pesan masuk. Pesan dari peer-group tentang buka puasa bersama. Ada juga peer-group yang menagih traktiran. Ada juga ucapan selamat siang dari teman. Dan yang paling membuatku menarik napas panjang adalah pesan dari ayahku yang berisi gambar Panca sedang tergeletak berikut pesan dibawahnya yang berisi kondisi si Panca pasca kecelakaan tunggal pukul 11.30 tadi.
Aku kaget. Ku pikir dia sekarat karena matanya tertutup dan luka-luka di beberapa badannya. Aku ingin menangis. Tapi ku coba untuk tenang.
Panca, adikku si bungsu.. Ingin sekali rasanya aku berada disana. Merawat lukanya. Menyuapinya. Ngobrol dan bercanda dengannya. Sayang nyatanya aku hanya bisa menatap gambar-gambar yang dikirim Bapak, berkomunikasi dengan Renhat di Bandung dan menitipkan pesan permohonan kepada Tuhan. Aku gak bisa berbuat apa-apa. Ku telpon Bapak menanyakan kondisi Panca. Bapak bilang dia sedang tidur. Lalu Bapak menceritakan kronologi kejadiannya.

Apa yang ada di pikiranmu, adikku?
Tidakkah kau lihat hati dan mata ayahmu yang menyayangimu tanpa batas?
Tidak adakah sedikit keinginanmu untuk menyayangi kami kembali?
Kemana jiwamu yang dulu adikku sayang?
Ka Angel rindu..

Ps: Terimakasih kepada petir yang telah mengadu..