8/30/16

Bodok

Pernah aku lihat catatan Bapak mengenai seseorang yang kurang beliau suka. Ditulisnya seseorang itu dengan sebutan "bodok", bukan lagi 'bodoh' melainkan 'bodok'. Sekarang sebutan itu pantasnya ditujukan pada saya, si Angel Bodok.
Saya merasa lebih parah, dungu, bebal, bodok, jika dibanding dengan keledai yang jatuh di lubang kedua. Saya jatuh berkali-kali. Berkali-kali. Dituntun keegoisan hati atau keinginan pribadi, seakan-akan saya lebih dalam lagi ditarik ke sebuah pasir hidup yang menyedot kemampuan saya untuk keluar. Makin saya melawan, tarikannya semakin kuat. Lumpur hidup di dalam hati saya bukan hanya membuat penyesalan, tapi juga membuat saya makin membenci diri saya. Oh ya, hidup ini indah kok, saya melihat hidup ini indah, hanya saya si bodok yang tidak mau mengusahakan keindahannya untuk dinikmati.