8/13/16

Percaya ngga percaya

Satu lagi teman yang udah saya ceritakan. Tentang? Tentang sesuatu.. Krik
Entahlah, tidak seperti yang saya duga.
Saya pikir dia akan membiarkan cerita saya habis dulu baru saya mendapat masukan. Bukan masalah besar memang dia memotong setiap keluhan saya, hanya kurang nyaman jadinya. Setiap masukan yang dia berikan sangat2 menguatkan, tapi ada yang kurang lega di hati.
At the end, dia bilang saya butuh teman cerita supaya pikiran saya tidak mengada2. Tapi jadi agak kontras sih yah, seperti yang saya ceritakan, seringkali dia memotong cerita saya dan langsung memberikan feedback.
Paling tidak saya makin tahu tipikal "pendengar" seperti apa sahabat2 saya sehingga saya bisa datang di saat yang memang tepat sesuai dengan "kemampuan" mereka. 
Saya sendiri memang sangat pilih2 sebenarnya untuk bercerita. Nah, begitu melihat reaksinya tentang pengakuan saya kemarin, saya makin sadar untuk semakin berhati2 dalam bercerita. Semua bisa jadi teman, tapi tidak semua mau dan bisa jadi pendengar yang baik.
Hal yang membuat saya ingin bercerita kepadanya awalnya hanya satu; Saya muak didesak. Saya bosan ditanya2. Saya benci bersembunyi.
Paling tidak supaya dia diam, dia harus tahu. Ternyata setelah dia tahu, dia memang berhenti mendesak tetapi sesegera mungkin ramai menasehati.
Was-was. Saya sadar betul kondisinya yang sudah berkeluarga serta sangat dekat dengan ibu dan saudara2nya membuat saya was-was. Memang dia sudah berjanji untuk tidak menceritakannya pada siapapun. Hanya pengalaman pribadi saya berkata lain. Entahlah saya harus berpegang pada kemungkinan yang mana. Pada akhirnya saya pasrah. Biarkanlah kepercayaan yang saya taruh padanya menjadi jalan bagi saya untuk melihat seberapa pantasnya saya dan dia bersahabat.