5/31/16

1 Tahun

Genap. Artinya apa yah? Pas? Habis? Tepat?
Mungkin yang terakhir lebih cocok.
Genap setahun semenjak kejadian paling menyakitkan.
Bertubi-tubi rasanya tahun lalu.
Sekarang rasanya masih bisa kuingat.
Sakitnya masih membekas.
Pedihnya masih tertinggal.
Disini. Ingatan dan kakiku.

Setahun lalu di jam-jam ini aku menahan sakit yang luar biasa. Ditambah panas, bosan, menyesal, menyerah, juga perasaan negatif lainnya.
Hidup ga ada artinya.
Tapi nyatanya, masih berlanjut hingga sekarang.

Tahun lalu aku kesal setengah mati karena permohonan perpanjangan SIMku gagal.
Tahun lalu rasa kesalku kepada pengemudi kampungan yang ugal-ugalan memuncak.
Tahun lalu aku melimpahkan seluruh kepercayaan dan terimakasihku kepada dua saudaraku yang sangat kukasihi.
Tanpa mereka aku lebih menjijikan dari kotoran hewan.
Walaupun sekarang tidak jauh berbeda, hanya saja aku merasa menjadi kotoran yang punya tuan.

Tahun lalu rasanya tidak ingin lagi ku kenang.
Tapi entahlah tiba-tiba saja memoriku mengembalikannya.

Ada hal-hal yang mungkin ingin disampaikan sang hyang.
Hanyabhatiku sekarang lebih keras dari batu karang.
Membuat yang menyentuh sakit.
Lebih baik ditinggal, dihindarkan.

Karena ternyata hari ini, semua seakan terulang. Hanya lukanya terasa di dalam.

5/30/16

Salah

Adalah memalukan ketika diri melihat sendiri salah.
Tapi lebih lebih memalukan ketika sendiri tetap melakukannya.
Dan tidak bisa menghentikannya.
Tidak mampu menahan nafsunya.

Jiwa ini gelisah
Aku ingin putar arah
Rasanya ngeri jika dia menghampiri
Aku ingin kembali

Aku tahu ini salah
Bahkan cermin bagai penjara
Melihat ke dalamnya hanya wajah si sengsara
Bebaskan aku, sang Hyang.
Aku tak mau nelangsa akhirnya..

5/23/16

1 Batang Rokok dan 2 Pertanyaan

Sore ini, aku merasa kurang fit. Selain karena konsekuensi menjadi sebagai perempuan pada umumnya, sudah seminggu gejala batuk dan pilek mengganggu aktivitasku. Besok ada kewajiban yang harus aku ikuti. Sebuah test. Rasanya ingin segera melompati tahun ini dan bergegas ke penghujung tahun depan. Aku ingin berlayar. Aku ingin mengudara. Aku ingin menginjak bumi lain yang belum pernah kubayangkan. Tapi aku ingat, sabar harus menjadi teman dekatku saat ini.

Di samping kiri laptop ini, ada asbak berisi sebatang bekas rokok, ku pikir itu punya ibuku, karena hanya dia satu-satunya manusia bernapas jorok di rumah ini yang berani merokok di dalam rumah. Sedangkan dua manusia bernapas jorok lainnya, sedang menjauh dulu. Aku tidak punya banyak hal dalam pikiran dangkalku. Hanya saja, terlintas dua buah tanya. Yang pertama, mengapa harus dua orang jenis kelamin berbeda? Dan yag kedua, mengapa harus menjadi tiga pribadi yang berbeda Dia Yang Disembah?

Aku belum atau bahkan sepertinya tidak ingin mencoba menguraikannya. Aku sedang berusaha untuk memikirkan hal-hal sederhana. Melakukan hal-hal sederhana. Berkata begitu sederhana. Entahlah, aku sangat menyukai kesederhanaan, bagiku adalah sangat indah hal kesederhanaan, tapi sangat sulit menjadi seperti itu, setidaknya bagiku.

5/22/16

Titik

Sebuah titik dimana keinginan kadang menjadi candu kadang juga menjadi tandu.
Candu yang menyegarkan hati.
Tandu untuk mengangkat jiwa.

Titik ini tak dapat terhapus.
Dia selalu ada bahkan kadang kian membesar.
Seperti lingkaran yang tidak ku mengerti dari mana titik awalnya.
Apalagi akhirnya, tak terselesaikan, tak terkejar.
Dia pun semakin kecil terkadang.
Tidak terlihat ada di sebelah mana.
Tidak terjangkau oleh pandangan mata.

Titik menjadi membingungkan.
Titik tidak pernah terselesaikan.

Walau aku belum sampai pada akhirnya,
tapi sekarang aku membiarkan;
titik akan selalu ada
dia mula dari awal
akhir dari akhir
tak pernah tiada.

5/18/16

Tanda

Benarkah aku harus mencari tanda untuk menuju kepastian.
Benarkah aku butuh sebuah marka untuk tahu kemana harus melangkah?
Aku ingin mengembara, bukan dalam tanya bukan juga dalam angan.
Aku ingin pergi ke tempat kakiku ingin berhenti dan ingin melangkah.

Kalau memang hanya kematian yang tidak pasti, maka hidup jauh lebih tidak pasti.
Walau kita semua pasti akan mati, tapi tidak semua manusia itu hidup meski raganya disini

Manusia, dan pikirannya dan perasaannya.
Tidak cukup untuk tahu pasti kemana, kapan dan bagaimana nanti.

5/17/16

Hujan

Saat ini sedang turun hujan.
Saya sendiri jarang menulis tentang hujan.
Saya tidak terlalu suka hujan, tidak juga benci.
Tapi saya senang ada hujan ketika saya di rumah, dan sendiri.
Seperti saat ini.

Hujannya tidak deras, bukan juga sekadar rintik-rintik.
Entahlah, sensasinya membuatku ingin lebih daripada menyendiri.

Mengapa hujan turun di saat seperti ini?
Bagaimana hujan bisa tahu isi hati?
Aku senang hujan bisa mengerti.

Bicara tentang hujan, aku teringat sesuatu.
Kota hujan, kau dan aku.
Semoga ada lagi waktu kita bertemu.
Tanpa peduli waktu yang berlalu.
Hujan kala itu, aku rindu.

5/16/16

Bertahan

Selain belajar untuk tidak terlalu kaku dan juga memikirkan diri melulu, berteman dengan sekelompok orang tertentu juga mengasah kemampuan bertahan.

Bertahan agar tidak keluar lingkaran padahal ingin.
Bertahan untuk tetap disitu padahal tidak ingin.
Sama saja. Memang.
Intinya, aku sudah bosan.
Sampai dimana bisa bertahan?
Apa lagi gunanya bertahan?
Toh hidupku tetap berjalan.
Dan.
Matiku sendiri.
Dunia ini semakin membuat jemu.

5/15/16

Lalu

Kiranya pilu boleh berlalu agar sendu tidak menjadi candu.

Kacau pikiranku kian menambah benci pada orang-orang sekelilingku.

Aku ingin sendiri.
Aku ingin menepi.
Tujuanku semakin tidak pasti.
Tidak masalah, tiada yang peduli.

5/11/16

Dementor

Gw ngerasa sekeliling gw jadi dementor sih.
Berasa capeeeeeekkk sangat dengan segala wara wiri yang belakangan ini gw kerjain.

Well, gw bukannya ngeluh gw bisa jadi tempat sampah buat teman2 gw sewaktu mereka lagi pengen muntahin semua unek2nya yah. Cumaaaaa ya I need my time to flush those junk out dengan cara menarik diri, just for a moment kok..

Berentetan.

Kehectican kawinan Nenet.
Bridal shower dan kawinan Amel.
Blablabla remaja.
Ulangtahun si ini dan si itu.
Curhatan hidup serta taik2 di dalamnya.
Hmm.

Seneng masih dikasih sahabat2, tapi entah kenapa gw mesti banget solitude dan nge-compose hal2 utama tentang diri gw.
Selfish?
Semoga aja ngga, karena nantinya gw tau gw bakal nge-blend lagi sama manusia2 di sekitar gw dan kadang harus kompromi dengan mereka.
More tiring, isn't it?

Okelah, Kirky lagi nunggu untuk dilahap. Semoga ada pencerahan.
Have a good day!