6/20/16

Lama

Lama tidak bercerita disini ataupun di lembaran kertas yang sebenarnya selalu kubawa kemanapun.
Mungkin hidup terlalu asyik menorehkan ceritanya padaku di saat berjalannya waktu.
Dan sekarang, sepertinya aku tahu cara menghentikan waktu.
Ya, bagiku inilah caranya.
Diam dan menuliskan ceritaku.
Entah itu di buku-ku atau disini, media lain yang membuatku mengijinkan orang lain untuk membacanya.
Mungkin tidak akan menarik.
Ada baiknya memang dia yang sedang membacanya tidak melanjutkannya. Karena aku pun tidak berminat pada komentar orang lain akan ceritaku. Ini bukan hiburan. Semata-mata hanya tingkah untuk menghentikan waktu versi diriku.

Ini cerita pendekku di pertengahan Juni:
Bulan ini penuh dengan tawa yang menutup duka.

Terimakasih-ku bagi setiap jiwa yang telah rela membuat guratan indah hingga seninya kian memesona.
:)

6/10/16

Datang

Aku mengundang mereka untuk datang. Makan. Dan berpesta kecil bersama. Merayakan sesuatu yang menurutku sia-sia. Bertambahnya umur kembali mengingatkanku betapa percumanya hal ini.

Tapi masaku belum berakhir. Akhirnya aku harus ikut mengalami kesia-siaan itu dan berteman dengannya.

Kami makan. Tertawa. Oya, juga berdoa bersama. Sudah lama sekali aku tidak membuka mulut sembari perut bergolak.

Segala hal ini entah kapan berakhirnya.
Keluhanmu, kawan, entah kapan bisa berhenti. Aku bingung. Sekaligus sangat muak.

Sebentar, asal kau tahu, kegundahanmu tidak akan mampu mencuri keberadaanku. Pertanyakanlah, pikirkanlah, perdebatkanlah setiap hal, itu urusanmu.

Kau pergi, aku tidak rugi. Hanya maaf jika kau datang, pintu sudah terkunci. Karena aku bukan apotek apalagi yang buka 24 jam, menyediakan pelipur galaumu akan hal-hal yang sebetulnya tidak menyakitimu.

6/6/16

Celaka

Bukan hanya sekali atau dua kali atau tiga kali.
Sudah lupa berapa kali tepatnya anak ini mengalami kecelakaan.

Siang menjelang sore tadi, hujan lebat turun. Petir saling berteriak susul-menyusul. Entah apa yang mereka bicarakan.
Aku dan temanku duduk menunggu langit berhenti memamerkan keajaibannya. Ajaib bagiku dari langit bisa membuang begitu banyak air. Padahal lautlah yang menampung bentuk cairan tersebut.
Oya, ternyata teriakan para petir bukan hanya bunyi tanpa arti.
Aku membuka ponselku lalu menyambungkannya dengan koneksi wi-fi sebab kuota internet di ponselku sudah habis.
Beberapa pesan masuk. Pesan dari peer-group tentang buka puasa bersama. Ada juga peer-group yang menagih traktiran. Ada juga ucapan selamat siang dari teman. Dan yang paling membuatku menarik napas panjang adalah pesan dari ayahku yang berisi gambar Panca sedang tergeletak berikut pesan dibawahnya yang berisi kondisi si Panca pasca kecelakaan tunggal pukul 11.30 tadi.
Aku kaget. Ku pikir dia sekarat karena matanya tertutup dan luka-luka di beberapa badannya. Aku ingin menangis. Tapi ku coba untuk tenang.
Panca, adikku si bungsu.. Ingin sekali rasanya aku berada disana. Merawat lukanya. Menyuapinya. Ngobrol dan bercanda dengannya. Sayang nyatanya aku hanya bisa menatap gambar-gambar yang dikirim Bapak, berkomunikasi dengan Renhat di Bandung dan menitipkan pesan permohonan kepada Tuhan. Aku gak bisa berbuat apa-apa. Ku telpon Bapak menanyakan kondisi Panca. Bapak bilang dia sedang tidur. Lalu Bapak menceritakan kronologi kejadiannya.

Apa yang ada di pikiranmu, adikku?
Tidakkah kau lihat hati dan mata ayahmu yang menyayangimu tanpa batas?
Tidak adakah sedikit keinginanmu untuk menyayangi kami kembali?
Kemana jiwamu yang dulu adikku sayang?
Ka Angel rindu..

Ps: Terimakasih kepada petir yang telah mengadu..

6/2/16

The Folkster

Hari ini cukup menyenangkan sekaligus melelahkan. Pengalaman pertamaku dengan beberapa teman untuk melakukan pertunjukan story-telling. Mengapresiasi Sastra. Itulah yang baru kami lakukan.

Dengan kostum, make up, properti yang sederhana, saya tahu teman2 sudah memberikan usaha terbaik mereka. Saya sendiri cukup puas dengan penampilan kami. Semoga periode ini berakhir dengan menyenangkan pula.

Oya, hari ini masih tetap seorang teman baik memberikan ucapannya kepada saya. Entahlah dia akan melakukannya penuh selama bulan Juni atau hanya sampai besok. Apa maksudnya saya tidak tahu. Dia sedikit unik memang.

Menanti esok hari saya sedang malas-malasnya bertemu dengan orang-orang. Berbagai rencana, yang hanya melibatkan diri saya sendiri pastinya, sedang saya pikirkan tapi masih belum tahu apakah di harinya saya cukup "niat". Wel'll see.

6/1/16

Juni

Bulan pertengahan pertama.
Tidak terlalu bermakna.
Kecuali karena sakit Mama.
Beberapa waktu yang lalu.

Ini hari pertamanya.
Juni dan segala keriuhannya.
Akan ada puasa pertama.
Juga puasa kedua, ketiga dan seterusnya.
Tapi bukan Lebaran yang menjadi sukacita bagi beberapa orang.
Lebaran akan ada di bulan tengah yang kedua, Juli.

Juni.
Aku tidak mengharapkan apa-apa.
Hanya mungkin akan lebih merenung.
Akan bagaimana.
Mau seperti apa.

Oh,
Atau ini yang kuingat.
Aku merasakan sedikit berat..
Juga merasa waktu sangat cepat..
Kembali lagi bertanya...
Akan seperti apa.
Maunya bagaimana.

Hari pertama bulan ini,
Ada seorang sahabat yang baik hati
Memberi ucapan di pagi hari
Bagiku itu sangat berarti
Dia ada, sebagai teman, sangat aku syukuri..

Terimakasih hari pertama bulan Juni.
:)