6/12/17

Juni

Juni menjadi alarm pribadiku. Memulai kembali apa yang sengaja ataupun ngga sengaja aku lupakan. Kenapa Juni? Kenapa ga Januari seperti kebanyakan orang-orang yang memiliki beragam resolusi?

Simply karena Juni adalah bulan ketika aku dulu dilahirkan sih. Beberapa tahun terakhir ini pun aku berusaha untuk memperingatinya dengan memberi ruang sendiri bagi keberadaanku. Menikmati waktu sendiri, belajar untuk lebih banyak berbagi, membiarkan diri untuk dievaluasi, dan beberapa perenungan lainnya yang ga juga berkaitan dengan resolusi awal tahun karena emang tiap hari adalah peperangan pembentukan jiwa ke arah yang lebih cerah. Sering salah tujuan, misalnya ke lembah yang enak buat perosot-perosotan, atau padang savana yang memukau dan bikin enggan beranjak, tapi kalau sudah ingat puncak masih harus dijalani dengan tanjakan yang seperti tanpa akhir atau medan yang ga pernah dilalui yang bikin harus menerabas dan terkena serangga-serangga yang bikin gatal kulit. Ya mau gimana lagi, hidup adalah pilihan. Berjalan atau berhenti. Menginjakkan kaki di puncak atau hanya berputar di punggungan..

Ya, kadang hidup sih di situ-situ aja.. Ga berpindah. Ga berarah.

Tapi, Juni berbeda.

Harus berbeda.

Dia harus menjadi sebuah titik.

Menjadi titik perjumpaan antara perhentian dan kelanjutan.

Berhenti untuk berhenti.

Berjalan untuk berjalan.

Juni menjadi sebuah kesadaran.

Dia ada di tengah.

Bukan di awal untuk memulai.

Akhir di ujung ketika berakhir.

Juni memiliki tempat dan ruangnya sendiri.

Ruang untuk berhenti, cemas, takut, bersiap, berani dan bertolak.

Juni selalu memiliki ceritanya sendiri baik dalam sepi juga dalam pekik.